The Class Meeting

The Class Meeting
Olivia's guitar



Marcya dan Marcel sedang duduk di tepi kolam ketika Olivia berjalan menuju kolam sambil membawa gitar.


"Sudah bangun? Kamu bisa bermain gitar?"


Marcya bertanya.


"Heheh...hanya sedikit."


jawab Olivia.


"Aku mau melihat.."


kata Marcel.


Olivia mulai memainkan gitarnya. Lagu slow yang biasa dinyanyikan Marcya bersama Marcel.


Jari-jarinya dengan gesit memetik senar gitar. Sepertinya dia sudah biasa memainkan lagu akustik.


Alunan akustik cenderung lebih bermelodi dibandingkan ritme. Jari lebih aktif dan berkreasi lebih banyak.


Tanpa disadari Marcya dan Marcel menyenandungkan lirik lagu tersebut mengikuti irama gitar.


Suasana kolam renang semakin syahdu. Burung-burung datang dan ikut bernyanyi.


Seekor burung mendarat di sebelah Marcel. Burung kecil yang biasa bermain di taman bunga.


Mematuki lantai kolam renang.


Marcel mendekat dan melihat apa yang dipatuk burung itu. Ternyata remah-remah biskuit yang dimakan Marcya tadi.


Marcel mengambil biskuit di atas meja dan menghancurkannya menjadi remah-remah lalu memberikannya kepada burung-burung.


Burung-burung memakannya dengan penuh semangat. Dan seketika itu juga teman-temannya terbang menghampiri untuk ikut memakan biskuit tersebut.


Olivia dan Marcya terkekeh melihat perhatian Marcel pada burung-burung.


3 lagu dimainkan oleh Olivia. Saat itu hampir tengah malam.


"Apakah ada yang lapar? Aku ingin membuat pizza."


Olivia bertanya.


"Ya, aku lapar."


kata Marcya.


"Ayo, biarkan aku membantumu."


Dia melanjutkan.


Olivia dan Marcya keluar dari kolam renang.


"Blekly, kamu tunggu di sini atau kamu mau ikut ke dapur?"


Olivia bertanya.


"Di sini saja."


jawab Marcel.


Kedua wanita itu berjalan ke dapur. Marcel melihat ke belakang mereka berdua dari belakang.


Hhmm... mereka cepat sekali mengenal satu sama lain. Padahal mereka baru saja bertemu.


Ooh crap!! Aku lupa. Mereka kan bersaudara?


Marcel tertawa terbahak-bahak.


Dunia fana yang penuh kejutan. Sebagai manusia kita ditakdirkan untuk terus menjalani kehidupan. Tidak bisa menolak apapun yang sudah digariskan. Tidak ada seorangpun yang dapat lepas dari campur tangan Tuhan.


Marcya dan Marcel bukanlah pasangan muda yang sangat religius. Mereka hanya percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka juga tidak aktif dalam organisasi keagamaan di kehidupan nyata.


Namun hal tersebut tidak mengurangi keyakinannya terhadap kekuasaan mutlak pada Tuhan sang pencipta alam semesta.


Tidak jarang Marcel membaca buku-buku agama. Baik kitab suci maupun kitab agama. Ia telah membaca semua kitab suci berbagai agama. Beruntung Marcya juga punya prinsip yang sama.


Dan kesimpulannya, inti dari semua buku adalah menebar kebaikan.


Kebaikan yang terselubung atau terungkap. Terus menerus atau sementara. Yang diakui atau yang diabaikan.


Berbagai macam karakter manusia menjadikan kebaikan semakin berwarna. Dengan berbagai sudut pandang. Dengan berbagai macam aplikasi.


Marcya dan Olivia datang membawa sepiring besar pizza.


Begitu ditaruh di atas meja, Marcel langsung mengambilnya.


"Pizza adalah makanan favorit Marcel."


kata Marcya.


“Apa?! Siapa??”


Olivia berseru kaget dan heran melihat Marcya.


Marcya dan Marcel pun kaget mendengarnya.


"Maksudku Blekly."


Ucap Marcya buru-buru mengubah ucapannya.


Marcel memandang Marcya. Sekarang gilirannya. Apakah dia ingin tertawa atau diam menahan rasa geli.


Sebenarnya tidak sulit untuk mengalihkan perhatian. Ada ribuan kata untuk mengolahnya agar Olivia tidak curiga.


"Blekly.. Coba mainkan lagu ciptaanmu."


"Lagu yang mana? Aku lupa."


Marcya melihat Marcel. Marcel terlihat tenang.


"Kok lupa sih? Kan baru tahun kemarin kamu menciptakan lagi itu."


"Sumpah aku sudah melupakannya."


Olivia menarik kedua sudut bibirnya.


Seperti sudah hafal watak Blekly.


Olivia sepertinya sering begadang. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 02.00 namun ia masih semangat bermain gitar dan ngobrol seru dengan Marcel.


Dia lupa bahwa Marcya telah keceplosan beberapa menit yang lalu. Untungnya Olivia bukan tipe orang yang melihat terlalu jauh. Jadi Marcya tidak perlu menggunakan kata-kata untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


Bahkan jika dia mengatakan yang sebenarnya, mustahil baginya untuk mempercayainya dengan mudah.


"Blekly... kamu ingat waktu kecil kamu tersesat di hutan?"


Olivia bertanya dan terus memetik gitarnya.


Obrolan dengan backsound petikan gitar itu bak disiarkan langsung di televisi antara tamu undangan dan presenter.


Sekadar iseng, Marcya yang sedang mengantuk mengambil ponsel Olivia.


"Oliv...bolehkah aku meminjam ponselmu?"


"Ya. Gunakan saja."


Marcya membuka ponselnya dan menggulirnya.. Tiba-tiba muncul ide untuk merekam Olivia bermain gitar yang menceritakan masa kecilnya bersama Blekly dan Abigail.


Marcel dengan senyum manis mendengarkan dan sesekali menanggapi pembicaraan Olivia dengan humor khasnya.


Menarik sekali karena keduanya memiliki wajah di atas rata-rata. Sekilas mereka tampak seperti saudara kembar.


Marcya merekamnya di akun YouTube Olivia yang ternyata sudah memiliki lebih dari 20 ribu subscriber. Kontennya tentang kehidupan sehari-hari. Dan sebagian besar isinya adalah gitar akustik yang diiringi puisi.


Marcya tidak menyangka Olivia berbakat di bidang seni.


Banyak puisinya mendapat komentar yang mengagumi karya Olivia.


Penampilan Olivia malam ini bak seorang ibu yang bercerita kepada anaknya sebelum tidur.


Marcel mendengarkan dengan penuh perhatian semua ceritanya.


Marcya sudah mengenal baik karakter Marcel. Dia selalu mengagumi wanita berbakat.


Suatu kali dia berkata,


Wanita tanpa apa pun sudah tercipta begitu cantik. Dan menjadi lebih jika dia memiliki kelebihan.


Inilah karakter Marcel.


Ini...Yang membuat cinta Marcya semakin dalam selama bertahun-tahun.


Di umurnya yang masih muda tersimpan jiwa yang matang tentang pemahaman akan luasnya alam semesta.


Marcel yang nyaris tidak berkedip menatap Olivia tak menimbulkan rasa apa pun di hati Marcya.


Sebab, Marcya meyakini kekaguman itu baginya tidak sama dengan mencintai seseorang yang spesial.


Setelah videonya ditayangkan di YouTube, sudah banyak pelanggan yang menyukai konten tersebut.


Seseorang mengirim komentar.


Marcya tertawa mendengar respon yang begitu cepat.


Marcel dan Olivia menoleh padanya.


“Ada apa denganmu, Abigail?”


Olivia bertanya.


"Lihat ini. Aku membuat video tentang kalian berdua."


Olivia dan Marcel mengambil ponsel dari tangan Marcya.


Menyimak bersama videonya di akun YouTube Olivia.


"Haahhaa..."


Olivia dan Marcel tertawa.


"Apakah kamu sedang bersenang-senang?"


seru Marcel.


"Aku sangat mengantuk. Makanya aku merekam kalian berdua untuk menghilangkan kantuk."


Olivia tampak sibuk menanggapi komentar followers.


Pemilik akun yang baik


batin Marcya saat melihat Olivia sibuk mengetik.


Berbagai cara untuk mempertahankan followers.


Karena bukan hanya dalam satu atau dua hari saja youtuber bisa mendapatkan banyak subscribers.