
Marcel sampai di rumah jam 2 pagi. Seperti biasa pintu tidak terkunci.
Melangkah masuk ke kamar. Melewati ruang tengah dan melihat Marcya tertidur di sofa.
Marcel terperanjat. Mungkinkah Marcya menunggunya pulang? Sepertinya tidak mungkin. Dia terlihat asik dan bahagia tanpa dirinya.
Begitu dekat wajah mereka berdua. Tapi kenapa rasa enggan menghampirinya? Kebiasaannya yang dulu selalu tidak pernah melewatkan kesempatan ini untuk menunjukan rasa sayangnya yang begitu dalam. Marcel selalu menciumnya. Atau sekedar menyentuh wajahnya.
Tapi kali ini tidak di lakukannya. Begitu sakitkah hatinya? Sehingga bisa berubah sedrastis ini.
Marcel hanya mengambil selimut dan menyelimutkannya ke badan Marcya.
Kemudian memindahkan tubuh Marcya ke kamarnya.
Lalu dia beranjak pergi ke kamarnya sendiri.
Begitu masuk di dalam kamar tercium aroma bunga gunung yang segar.
Hhmm siapa yang mengganti parfum kamarku?
Aroma wangi favorit Marcel sejak junior school. Membuat perasaan dan hatinya merasa nyaman.
Marcel tertidur lelap dengan cepat.
+++
Terdengar sayup-sayup pembicaraan antara Olivia dengan Abigail.
"Kemarin aku letakkan di laci kamarku."
"Aku tidak tahu sama sekali Oliiivv.. Mungkin terjatuh di bawah kasur."
"Sudah aku cari di situ tidak ada. Coba kamu ingat-ingat dulu. Biasanya kamu yang pakai dan lupa mengembalikannya kembali."
"Tapi seminggu ini aku tidak pakai."
"Mungkin kamu lupa?!"
Suara Oliv meninggi. Karena seluruh kamar sudah di obrak abriknya tapi tidak ketemu.
Marcya yang setengahnya masih mengantuk tidak kuasa menahan emosinya juga. Nadanya tinggi menjawab pertanyaan Oliv.
"Kamu mau tanya tentang barang yang hilang atau menuduhku mengambilnya?"
Mendengar nada tinggi dari Abigail emosi Olivia menjadi tak terbendung.
"Kalau tidak mau bantu ya sudah. Sana pergi!!"
Kata-kata ketus Olivia membuat Abigail marah dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu.
Bantingan pintu Abigail membangunkan Marcel yang sudah mendengar pembicaraan mereka dari tadi.
Marcel duduk di pinggir kasur.
Apa yang sedang terjadi?
Marcel berbisik di dalam hati.
Dia melangkah keluar kamar. Mendapati kamar Olivia yang berantakan.
"Ada apa Liv?"
Olivia menoleh ke arah Marcel.
"Aku mencari jam tangan pemberian Papah yang selalu di pakai Abigail."
"Jam tangan apa? Kenapa Abigail memakainya?"
Marcel bertanya.
"Jam tangan yang berbentuk gelang. Abigail memakainya karena jam tangan dia jam tangan sport bukan berbentuk gelang."
"Trus? Kenapa banting pintu?"
"Aku marah dan dia juga ikutan marah."
"Emang Papah beliinnya ga sama bentuknya?"
"Ya engga. Tadi kan sudah aku bilang. Aku suka yang feminim dan Abigail suka yang sport."
"Kalau suka yang sport kenapa pakai jam kamu?"
"Kadang-kadang saja dia pakai. Kalau ada acara formal di butik."
"Kalau dia pinjam pasti di kembalikan kan?"
"Iya di kembalikan. Tapi naruhnya sering sembarangan. Dan ga bilang-bilang lagi kalau sudah di kembalikan atau belum. Pernah aku sampai terjatuh di tangga karena jam itu di letakkan di pinggir tangga."
Si Aldo juga pernah terpeleset karena menginjak jam itu yang tergeletak di lantai. Hingga sandalnya mencelat keluar dan masuk selokan lalu hanyut di bawa arus selokan yang saat itu deras sekali setelah hujan.
"Aldo?"
"Iya.. si Aldo..tukang kebun yang kadang-kadang aku panggil ke sini."
"Oohh gitu.."
"Iya yaa.. harusnya kan Abigail ngomong di taruh di mana jamnya."
"Itu jam mahal. Ada suratnya lagi."
Kata Olivia.
"Kalau sudah hilang mau di apain? Sandalnya Aldo juga hilang. Emang bisa ketemu?"
Olivia memandang Berkley. Apa yang di katakannya memang benar adanya. Kalau sudah hilang mau di cari dimana.
Marcel beranjak ke kamarnya. Perempuan kalau berantem ga jelas gitu ya alasannya.
Siapa yang tidak pernah kehilangan. Setiap manusia mengalaminya. Semua juga sedih. Semua juga sakit.
Marcel menutup wajahnya dengan bantal. Masalah dia sendiri saja belum kelar. Rasa sepi masih menghantuinya. Marcel mencoba mengerti bahwa ini masalah perasaannya sendiri. Dia mencoba menjadi profesional untuk tidak menyalahkan perubahan Marcya. Kalau Marcya berbahagia dengan keadaan ini haruskah dia merusak kebahagiaan itu.
+++
Castela Esperanza... namanya di sebut di salah satu klinik kesehatan. Akibat pulang malam kemarin badanya langsung di serang flu. Badannya demam dan menggigil. Pagi-pagi dia harus bangun dan pergi ke klinik.
"Semoga lekas sembuh ya."
"Iya Buk. Terima kasih."
Castela berjalan keluar klinik. Sampai di luar dia bertemu dengan teman satu fakultas.
"Castelaaa... Wooyy darimana saja kamu baru kelihatan?"
"Oiii Zahraaa... Aduh tambah cantik saja sekarang."
"Ayo kita nongrong di tenda itu. Eehh.. Tapi kamu lagi sakit ya?"
"Eehmm iya sih.. Nongkrong di rumahku saja gimana?"
"Oke deh.. Yuk."
Mereka berdua jalan kaki ke rumah Castela. Karena rumahnya dekat dengan klinik.
Tidak sampai 15 menit sudah sampai.
"Ayo masuk.. Ke kamarku saja ya?"
"Iyaa.."
Di dalam kamar Castela, makanan sudah di siapkan oleh Mamanya.
"Maaa.. Kenapa di letakkan di sini sarapannya?"
Castela berteriak dari kamarnya.
"Kamu kan lagi sakit? Biar ga repot jalan ke dapur."
Mama menghampiri kamarnya.
"Eehh ada Zahra.."
Seru Mamah.
"Iya tante."
Zahra menganggukkan kepalanya sebagai penghormatan.
"Masih tinggal di belakang kompleks kan?"
"Masih Tante."
"Oohh ya sudah. Enjoy yaa.. Ga usah sungkan. Anggap saja rumah sendiri."
"Oke.. Makasih Tante."
Nyonya Magdalena Esperanza atau Mama Castela keluar kamar dan menuju kamarnya.
"Mama masih terlihat cantik ya?"
Kata Zahra.
"Iya... Hehehh kamu juga."
Ucap Castela.
"Kamu juga masih jelita. Apa resepnya?"
"Kamu sendiri?"
"Kan aku duluan yang bertanya."
"Tidak ada resep khusus. Hanya cuci muka saja secara rutin."
Kata Castela sambil menyelesaikan sarapannya.
"Inii.. Kamu mau sarapan juga ga?"
Tanya Castela sambil menyodorkan sandwich.
"Tidak.. Terima kasih. Aku sudah sarapan."
"Cobalah satu. Masakan Mama lezat lho."
"Iya.. Iyaa..."
Zahra mengambil satu sandwich lalu mengunyahnya.
"Lezat kan?"
Kata Castela.
"Huum.. Lezat sekali. Seperti sandwich yang di jual di restaurant. Pantesan kamu jarang keluar rumah."
"Weee kata siapa? Aku sering keluar rumah. Mendalami hoby fotografiku."
"O ya? Enak dong keliling-keliling kota. Aku ikut dong?"
"Kameramu masih ada?"
"Masih."
"Trus kenapa ga ada inisiatif sendiri mencoba menjadi fotografer freelance."
"Uuhh kamu kan tahu. Aku orangnya pemalu. Di kampus selalu mengekor kamu saja."
"Hahahaaa..."
Castela jadi teringat masa kuliahnya. Memang betul Zahra selalu menguntitnya kemanapun dia pergi. Apa-apa selalu menunggu keputusan dari Castela. Mereka seperti anak kembar yang berbeda wajah.
Karena kedekatan mereka teman-teman kampus mengira mereka dua bersaudara.
"Iya aku masih ingat saat itu Ra. Masak sampai sekarang kamu masih tidak bisa mengambil keputusan sendiri?"
"Heheh.. Setelah pisah dengan kamu, aku selalu mengekor Mama aku."
"Hahhhhahh... Konyol kamu."