
Olivia menaruh hati pada Kemed sudah sejak lama. Tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan Abigail sekalipun.
Situasi ini sangat menguntungkan Marcya. Type Olivia yang ceria tapi penutup. Hingga Abigail baru tak harus banyak berpikir.
Kemedpun tidak menyadarinya. Kedekatan mereka walau beda negara tidak juga menjamah hati Kemed bahwa dia spesial sekali bagi Olivia. Karena mungkin saking banyaknya perempuan yang akrab dan dekat dengan Kemed. Hingga semua perhatian di sama ratakan artinya.
Gurauan Abigail menyentil rahasia terdalamnya. Bibirnya tertawa lebar. Tapi sorot mata Olivia tidak dapat menyembunyikannya. Bahkan menutupinya dengan cara mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kemed menangkap moment tersebut.
Ternyata bukan aku saja yang melihat mata Olivia.
Marcya berkata dalam hati.
Melihat Kemed yang mencoba meraih wajah Olivia memegangnya lalu memutar wajah itu ke arahnya.
"Kamu kenapa?"
Tanya Kemed.
Setelah wajah Olivia menghadapnya Kemed terkejut. Melihat sepasang mata yang sedang tergenang.
Untungnya masih seperti danau. Tidak seperti air terjun.
Pikir Kemed.
Tidak ada yang bakal mengira seorang Kemed akan sekeras itu pemikirannya. Jika apa yang ada di dalam otaknya di keluarkan secara langsung, dia sendiri sangsi apakah semua wanita masih perhatian kepadanya.
Yang menjadi kebiasaan Kemed selalu asal ngomong kalau di depan Olivia. Tapi kali ini dia tidak tega melihatnya. Belum pernah dia melihat Olivia menangis. Walaupun sebenarnya dia ingin tertawa terbahak-bahak. Geli juga melihat teman akrabnya sedih.
Baru hari ini Kemed tahu ternyata Olivia menyimpan rasa padanya. Dugaanku pasti tak meleset.
"Tidak mau menjawab ya? Ya sudah...Mau aku belikan es cream?"
Tanya Kemed.
Olivia menengadahkan kepalanya.
Sekarang kamu pasti tahu bagaimana sulitnya aku bertahan di sisimu tanpa status yang sesuai dengan jarak kedekatan kita. Egois? Iyaa... Kata orang,
~ Ada saatnya cinta tak harus memiliki.
~ Maksudnya pak?
+ Ya karena one side lovers. Gitu aja kok repot, kata Gus Dur.
Bertanya sendiri menjawab sendiri. Di dalam hati.. dimana hanya dirinya saja yang tahu.
Perang batin yang selalu dia usung untuk membawa kegundahan di dalam benaknya mencapai ketenangan layaknya surgawi.
Sering terjadi di saat dia bertemu face to face dengan Kemed.
Kematangan jiwa yang telah di bangunnya bertahun-tahun. Demi menjaga sesuatu. Pertaruhan antara menjadi lebih dekat atau malah menjauh. Ketidak siapan untuk menerima hasil yang belum terlihat.
Cinta selalu berakhir menyakitkan. Sepertinya sudah menjadi kutukan bahwa cinta akan selamanya begitu.
Dilema yang selalu terjadi di antara dua sahabat.
Dan akhirnya Olivia selalu membunuh perasaan cintanya. Persahabatan di atas segala-galanya.
Hingga terbina sampai sekarang.
Jika Olivia berani jujur sejak awal, pasti saat ini mereka tidak akan bertemu sperti ini. Olivia akan menolak setiap pertemuan. Merenungi hatinya yang telah patah. Karena sebagai seorang wanita yang punya kepekaan yang lebih dalam, selama ini dia tidak merasa bahwa Kemed menyayanginya lebih dari sekedar seorang sahabat saja.
Heyy kamu tahu ga?? Karena Kemed romantis pada semua orang. Perhatian pada semua orang. Peduli sama semua orang.
Olivia kesal di dalam hati.
"Woyy!"
"Iyaa.. Aku mau. Yang cone besar ya?"
Olivia menjawab.
"Okee.. Kamu juga kan?"
Pandangan Kemed beralih pada Abigail.
"Iyaa.."
Jawab Abigail.