
Marcel beranjak keluar rumah. Keadaannya yang sunyi sepi membuatnya ingin cepat-cepat pergi.
Sekian lama tak pernah ada pertengkaran yang begitu berarti dan terlalu serius, kini terantuk masalah yang membatu begitu panjangnya. Seolah enggan menyelesaikannya.
Dari arah barat ada sebuah mobil berhenti di tepi jalan sebrang rumah Olivia. Ternyata yang mengendarai seorang laki-laki berdua dengan istrinya. Merek berdua turun dari mobil berjalan ke arah Marcel.
"Halo? Selamat pagi...boleh kami mengganggu sebentar."
"Iya Pak... Apa yang bisa saya bantu?"
Tanya Marcel.
"Benarkah ini alamat Olivia's Boutique?"
"Iya benar. Tapi di sini hanya rumahnya saja. Alamat Butiknya di dekat pasar saveflowers."
"Oh di situ.. Ok. Saya ke sana ya."
"Silahkan..."
"Terima kasih atas infonya.."
"Sama-sama pak.."
Suami istri itu masuk ke dalam mobil lalu melaju di jalan arah pasar saveflowers.
Jalanan lengang sekali. Mobil bisa melaju dengan cepat. Tidak sampai sejam sudah sampai.
Sampai di dalam butik,
"Selamat siang.. Bisa saya bertemu dengan penjahitnya?"
"Bapak mau po?"
Tanya Zahara.
"Iya.."
"Oh gitu... Ini istri saya."
Pria setengah baya yang masih berdandan keren itu menarik lengan istrinya.
"Selamat pagi Buk. Mari kita ke ruangan saya."
Zahara mengajak Istri pria itu masuk ke dalam ruangan yang di hias cantik sekali. Khusus untuk merancang busana. Ruangan ini terlihat bersih dan rapi. Semua tampak tertata rapi dan ekslusif.
Zahara mulai mengukur badan Nyonya Tamia. Nama wanita itu. Masih terlihat muda sekali. Tak heran Ia tampak masih takut-takut masuk ke dalam butik.
Zahara sangka dia wanita pendiam. Ternyata sampai di dalam ruangan pribadinya, Nyonya Tamia curhat. Dia mengaku sebagai istri muda Tuan Tanzan. Baru terjalin beberapa bulan yang lalu. Dia bersyukur karena dengan menikahi pak Tanzan hutang keluarganya menjadi lunas.
Keluarganya tidak pusing lagi memikirkan hutang. Dia dua kakak beradik. Mengalami hal yang sama. Harus menikah untuk melunasi hutang keluarga. Kebetulan keduanya berparas cantik-cantik. Tidak memakan waktu lama mereka segera di pinang oleh pria kaya.
Begitulah kehidupan. Tidak ada yang pernah tahu nasib kita ke depan. Nasib atau takdir yang jelas sangat berbeda. Tidak sama arti nasib dan takdir. Nasib bisa diubah. Sedangkan takdir tidak bisa.
Keluar dari ruang pribadi Zahara...
"Sudah di ukur sayang.."
Ucap Tuan Tanzan.
Mesra sekali pengantin baru itu. Seperti sepasang kekasih yang masih muda belia. Bermesraan di depan umum saling bersentuhan dan berpelukan.
Mereka memesan sepasang baju pesta yang akan di ambil satu minggu kedepan. Biaya jasa express yang mahal sekalipun tidak masalah bagi Tuan Tanzan.
Untuk membahagiakan istri satu-satunya apalah arti kata mahal.
Istri tua Tuan Tanzan sudah meninggal dunia. Dia pria type setia yang bisa bertahan dalam waktu yang lama untuk tidak menikah lagi. Dia masih bisa bersama wanita tapi tidak untuk hubungan yang lebih serius.
Semua di ceritakan oleh Nyonya Tamia kepada Zahara. Entah karena saking senangnya dengan pernikahan yang baru saja terjadi atau karena memang dia wanita yang ekstrovert.
Kedua tamu tajir itu sudah pergi ketika Olivia datang dari luar untuk makan siang.
Dia melihat daftar orderan. Dan terkejut melihat omset sehari bisa mencapai 4 kali lipat dari estimasi setiap hari.