
Marcel kembali ke rumah. Kunci rumah yang biasa di bawanya tertinggal. Sore ini dia ada janji bertemu dengan Castela di auditorium kampus Sapienza. Ada pertunjukan theater di sana.
Bergegas dia mengambil kunci di dinding sebelah meja makan.
Badannya bertubrukan dengan Marcya karena saking terburu-burunya.
Marcel segera memeluk tubuh Marcya agar tidak terjatuh.
Masih sesigap yang dulu.
Marcya tersentuh dengan tindakan Marcel. Dia merasa sangat bersalah sekali. Sampai saat ini ternyata Marcel masih melindunginya.
Di tariknya tangan Marcel yang hendak pergi meninggalkannya.
"Tunggu.."
Sergah Marcya.
Marcel menoleh ke arahnya tanpa sepatah kata.
Melihat kedinginan Marcel, Marcya melepaskan tangan itu.
Marcya mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Marcel.
Sesudah tangannya terlepas Marcel mengambil kunci yang tergantung di dinding.
Setelah itu melangkah keluar rumah tanpa berpamitan dengan Marcya.
Hanya melihat punggungnya dari belakang, tapi Marcya bisa merasakan rasa jengkel di hati Marcel.
Mencoba mendinginkannya saat ini adalah percuma.
Marcya menghela nafas panjang. Yang akhir-akhir ini sering dia lakukan.
+
+
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di sore hari ini. Dimana jalanan sangat lengang.
Berharap dengan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi saat ini mampu menghilangkan kejengkelan Marcel dengan cepat juga.
Sugesti yang di miliki para pria penyuka balap mobil. Selalu ngebut di jalanan jika sedang capek hati.
Mungkin ada kepuasan tersendiri bila melampiaskannya dengan cara tersebut.
Kebetulan dapat hadiah mobil sport dari Olivia. Yang mendapatkan kontrak fashion show di salah satu pusat modelling ternama di Italy.
Sebagai ungkapan rasa gembira atas keberhasilannya mendapatkan kontrak, Olivia membelikan mobil untuk Blekly.
Abigail sempat cemburu dengan kemurahan hati Olivia.
POV.
"Aku mana kak?"
Tanya Abigail saat itu.
"Kamu bisa duduk di samping Blekly."
"Itu yang Audi buat kamu."
"Trus kakak?"
"Kakak naik taxi."
Abigail tergelak. Apalagi ketika melihat Olivia bercanda dengan wajah yang datar-datar saja.
Blekly yang mendengar pembicaraan keduanya hanya terdiam di sofa. Protes yang di tunjukan Abigail terlihat sebagai kecemburuan antar saudara. Tidak tahu dalam hatinya seperti apa.
Karena setelah kedatangan Castela dan Zahra di rumah mereka, telah mencetak rekor yang membuktikan bahwa Marcya masih perhatian dengan Marcel.
Tidak terungkap melalui perkataan. Dengan melihat sorot matanya saja sudah lebih cukup bagi Marcel.
Marcel juga tidak mengharapkan penjelasan yang lebih rinci dan detail. Karena hidup mereka berdua sudah beda jalur.
Ketika emosi menurun kedewasaan muncul sebagai sang juara berikutnya. Mencoba menerima kenyataan. Lebih baik mengikuti langkah Marcya yang hanyut dalam karir. Dari pada meratapi hubungan yang tidak jelas dan membuat kepala dan badan panas dingin dengan tiba-tiba.
+
+
Sampai di auditorium Sapienza, Castela dan Zahra sudah menunggunya di depan.
"Haii... Wow cakepnyaaa."
Sapa Zahra.
Suara polosnya terdengar merdu.
"Terima kasih."
Balas Marcel.
"Mau di traktir apa nih?"
"Apanya?"
"Kan sudah di puji Zahra."
"Lalu?"
"Traktir dong."
"Bukan kamu kan?"
"Aku yang nagih tidak masalah kan?"
"Nanti jadi kebiasaan."
"Kamu kan dermawan?"
"Kamu juga."
Castela memukul badan Marcel. Ada ya pria seperti Marcel? Tidak mudah berteman dengannya. Paling lama hanya beberapa bulan langsung pergi. Setelah merasa di perhatikan beberapa hari ke depan sudah tak di hiraukan lagi. Hanya pertemanan biasa saja bisa membuat hati seperti berdarah-darah layaknya orang pacaran.