The Class Meeting

The Class Meeting
Dress Cantik



"Halo... sudah berapa lama kamu di sini?"


Marcel menyambut kedatangan dua gadis cantik yang membawa bungkusan di tangannya.


"Iya...kakakmu masih kaget ada yang menggunakan karya seninya."


Marcya menoleh ke Olivia. Antara senang dan geli.


"Maksudnya?"


Marcel bertanya.


"Di street foods kita bertemu dengan seorang gadis yang mengenakan gaun ciptaan Abigail. Kakakmu tertegun lama sekali saat melihatnya."


Marcel memalingkan wajahnya ke Marcya. Secercah kebahagiaan terpancar dari mata kecil itu. Akhirnya impian Marcya sejak kecil terwujud tanpa ada perencanaan sebelumnya.


"Kamu suka?"


Marcel bertanya.


"Iya.. Akhirnya..."


jawab Marcia.


"Maksud kamu?"


seru Olivia.


"Tidak ada. Just saying."


Marcel segera menetralisir pembicaraan tersebut.


Olivia masuk ke kamar tidur. Disusul Marcya dari belakang.


"Apakah kamu ingin mandi?"


Olivia mengganti pakaiannya sambil menoleh ke arah Marcya.


"Ya. Panas sekali setelah berada di jalan."


“Ada banyak debu di jalanan.”


"Cepat mandi. Kalau tidak, airnya akan dingin."


"Pemanas air?"


"Pagi ini rusak. Besok akan diperbaiki."


"Kamar mandi ruang tamu?"


"Coba saja. Sepertinya masih bagus."


Marcya mengambil pakaian dari lemari dan membawanya ke kamar mandi ruang tamu.


Bertemu Marcel di ruang makan.


Ini adalah kesempatan untuk memeluknya erat.


pikir Marcel.


Marcya terkejut dengan pelukan Marcel yang tiba-tiba.


Dia segera melepaskannya. Takut jika Olivia muncul dari kamarnya.


Marcel tersenyum sangat manis dan membisikkannya ke telinganya.


"Aku merindukanmu."


Marcya tidak menjawab. Dia hanya mencium pipi Marcel dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Marcel menyentuh pipinya. Mereka sudah lama tidak meluangkan waktu untuk bermesraan.


"Hei Kly...apa yang kamu lakukan disini."


Olivia keluar dari kamarnya.


"Tidak melakukan apa-apa. Apakah...


Ups, Marcel hampir kepeleset.


Dia ingin bertanya apakah Olivia punya buku untuk dibaca. Tidak mungkin menanyakan hal itu karena mereka satu rumah sebagai kakak dan adik.


Eh...tapi tidak ada pengaruhnya juga. Mengingat kamar mereka terpisah. Bisa jadi Olivia membeli buku dan menyimpannya di kamarnya.


"Oliv...apa kamu punya buku baru?"


"Ada di dalam kamar. Ambil saja sendiri."


"Novel?"


"Ya. Tapi novel Islami."


"Saya suka itu."


"Ya, aku juga menyukainya. Novel itu sedang viral sekarang."


“Sinopsisnya?”


"Baca saja sendiri. Kalau kuberitahu, cita rasa novelnya akan berbeda."


"Ya.."


Marcel pergi dan berjalan menuju kamar Olivia.


Ada sebuah novel di meja rias. Judulnya Spring Blooming.


Karya penulis terkenal Italia.


Penulis wanita paruh baya yang telah menerima banyak penghargaan dari media. Karena setiap buku selalu laris manis dan menghipnotis pembacanya. Hingga penggemar terus mengikuti hingga halaman terakhir.


Marcel membawa novel itu ke kolam renang. Membacanya di bangku taman di tepi kolam renang.


Saat Marcel sedang asyik membaca, ia dikejutkan oleh Marcya yang membawakan sepiring songecake yang masih dingin.


"Baca apa sayang?"


"Ini.."


Marcel menunjukan novel.yang sedang di bacanya.


"Spring Blooming... Dari judulnya seperti kisah percintaan yang romantis."


"Sepertinya.. Aku baru baca beberapa lembar."


"Kalau sudah selesai baca nanti aku di ceritain ya?"


"Maksudnya??!!"


Marcya tertawa ngakak.


Melihat Marcya tertawa Marcel langsung mengerti maksudnya.


"Dasaarr pemalas!"


Marcel berseru sambil menarik rambut Marcya.


Olivia muncul dari dalam rumah dengan membawa setoples kacang almond kesukaannya.


Dua gadis ini sama saja. Suka sekali membawa makanan ke kolam renang. Ngemil sepanjang haripun betah sambil ngobrol kesana kemari.


"Abigail apakah ini roti yang kamu buat?"


"Iyaa. Enak kan?"


Marcel memotong sepotong roti dan memakannya.


"Hmm, enak sekali. Enak...sepertimu."


"Hahhaa.. Dasar bodoh."


"Apakah kamu ingin begadang malam ini?"


"Tidak. Aku sangat lelah."


"Apakah butik itu sibuk dengan pengunjung pagi ini?"


"Ya, ini sangat sibuk."


“Banyak yang terjual?”


"Ya.."


“Hampir 10 juta.”


"Wah... Kalian masih muda sudah mempunyai penghasilan sebesar itu."


“Ya… Kapan kamu seperti kami?”


"Hahhaahh.."


Marcel terkekeh.


Olivia berdiri dan beranjak ke dalam rumah, sambil berkata,


"Aku tidur dulu ya?"


"Jam segini?


Balas Marcya.


"Capek."


"Ya sudah."


Olivia berlalu meninggalkan kami berdua.


Marcya: "Tadi mengapa kamu tertawa dengan pencapaianku?"


Marcel: “Bukankah kamu sudah mewujudkannya?”


Marcya menghela nafas pelan.


“Tapi tidak di dunia kita sendiri.”


"Anggap saja sama."


Marcya memandang Marcel. Air matanya menetes.


Hah...kenapa aku tiba-tiba merasa sentimental seperti ini?


Marcya berkata dalam hatinya.


Marcel terkejut melihatnya menangis. Lalu menyeka air mata Marcya.


"Mengapa?"


Suara Marcel terdengar lembut.


"Aku rindu Mama."


Air matanya jatuh lagi.


"Sudahlah. Suatu saat nanti kita pasti pulang."


Marcel menyeka air matanya kembali.


Karena air matanya tak kunjung berhenti, Marcel berusaha mengeluarkan senjata andalannya.


Ia mengulangi cerita-cerita lucu yang pernah didengar Marcya sebelumnya. Hingga beberapa cerita terucap, Marcya masih murung. Namun air matamya tidak lagi keluar.


"Kenapa kamu tidak tertawa? Biasanya kamu tertawa ketika mendengar leluconku."


Marcel bertanya.


Marcya memutar wajahnya ke arah Marcel.


"Kau sudah menceritakan cerita itu sebelumnya."


kata Marcya.


Marcel tertawa.


Melihat Marcel tertawa justru membuat Marcya geli.


Marcya tertawa bersama Marcel.


Dunia terasa seperti milik mereka berdua.


Terkadang rasa rindu bisa terobati dengan hal-hal kecil yang tak terduga.


Cara-cara umum yang biasanya mampu mengobati malah tergantikan oleh hal-hal yang tidak terduga.


Marcel ingin memeluk kekasihnya namun segera melepaskannya karena mendengar suara Olivia memanggil Marcya.


"Abiiii...kamu dimana?"


“Ya, aku masih di sini. Di kolam renang.”


Olivia muncul dari dalam rumah sambil membawa sekotak pizza.


"Ini, makanlah."


kata Olivia.


"Tidak jadi tidur?"


Tanya Marcel.


"Tidak."


Jawabnya.


"Pizzanya pesan online?"


Seru Marcya.


"Iya."


"Masih banyak spongecake di lemari es"


"Sesekali menyenangkan Blekly."


"Heheh.."


Marcel tertawa saat mendengar dirinya dimanjakan.


"Aku kapan?"


"Aku sudah transfer ke nomor rekeningmu."


Marcya menatap Marcel.


"Periksa dulu."


kata Olivia.


"Hmm, nanti."


jawab Marcia.


Kalaupun dia memeriksanya sekarang, Marcyapun tidak tahu pinnya.


Marcel geli melihat ekspresi Marcya. Jika dia melanjutkan, Olivia mungkin akan mengetahuinya.


Marcel segera mengusap wajah Marcya.


Olivia tertawa melihat mereka berdua.


“Iya Abigail, kenapa kamu begitu terkejut? Aku sudah terbiasa mentranfermu kan?"


Marcya hanya tersenyum lembut.


"Oh iya.. Aku juga sudah mentransfer kiriman dari Papa."


Marcya menatap Marcel lagi.


"baiklah. Aku akan memeriksanya nanti."


Jawab Marcya.


Dari segi materi mereka berlimpah limpah. Bisa dipastikan tidak akan kekurangan.


Keadaan ini lebih baik dari pada tempat yang kemarin.


Apalagi dengan memiliki aktivitas baru membuat Marcya mudah melupakan kesedihannya.


Walaupun bukanlah aktifitas Marcya yang sebenarnya. Tapi untuk sementara mampu mengalihkan kepedihan Marcya.


Marcel mengelus rambut Marcya. Olivia tidak melihatnya karena Marcel duduk di belakang kursi Olivia. Olivia sendiri tidak begitu konsentrasi pada Marcel yang sedang menjahili Marcya.