
“Apa aku harus menjawab?” ucapku dengan nada suram. Tanganku terkepal erat saat mengatakan itu.
Gadis didepannya seketika terdiam, “.....” tubuh gadis itu bergetar hebat. Ia menghadap Nina pelayannya, “Nina... mari kita pulang ke mansion saja...” bisik gadis itu dengan takut.
“Kenapa Nona, lebih baik Nona hukum gadis tak punya sopan-santun itu!” ucap Nina dengan percaya diri dan lantang.
Seketika orang-orang yang menonton perdebatan mereka berangsur-angsur mundur, dengan kaki gemetaran mereka.
Aku yang menyadari itu hanya terdiam dengan tatapan aneh, ‘ada apa dengan orang-orang itu?’ batinku.
“Apa yang kau lakukan disini?” suara yang terdengar dingin menyapu pendengaran ku, dari arah belakang.
Suara itu...
Aku merasa familier! ‘Apakah?’ dan benar saja saat aku menghadap kebelakang, seorang lelaki remaja bersurai hitam dengan mata bernetra hitam kelam.
Ia adalah Lezarus, ‘Kenapa ia bisa berada disini?’ batinku bertanya-tanya, seketika kaki ku lemas. Rasanya ingin terjatuh, namun sebelum benar-benar terjatuh, ada tangan yang mengangkat pinggang ku.
“Eh?!!” pekik ku kaget. Ternyata pelaku yang mengangkat pinggangku adalah Lezarus!
Bagaimana bisa? Bukankah Lezarus dalam novel juga pernah mengangkat Pemeran utama wanita “Putri Kematian Marquess” ? Dan Lezarus hanya akan mengangkat Pemeran utama wanita, tak ada peran lainnya.
Ini aneh.
Lebih baik aku membuang isi cerita novel yang bagiku benar-benar tidak penting, seperti tadi itu. ‘Menyebalkan.’ batinku.
Aku mencium bau khas Cendana, saat aku mendongak aku menyadarinya bahwa aku di dekap oleh Lezarus.
Astagah, ini adalah hal-hal mengejutkan yang tak ada dalam novel, khususnya untuk pemeran figuran sepertiku ini.
“Nona ke-2 dari keluarga Marquess Ywille, Trivia Ywille.” ucap Lezarus dingin.
“Marquess Ywille?” gumamku pelan, dengan posisi yang sama dalam dekapan Lezarus.
“.....” Trivia Ywille. Trivia mundur beberapa langkah kebelakang, saat mendengar namanya disebutkan. ”Y-ya... tu-tuan?” ucapnya gelagapan.
Dulu ia adalah Nona yang nakal dan sombong, serta haus akan harta. Tetapi setelah ia berumur 18 tahun, ia bertaubat saat mengetahui jika segala perbuatan yang selama ia buat itu salah.
Dan sekarang dihadapannya adalah Pemeran utama wanita saat masih kecil, sifatnya belum waktunya akan berubah.
Satu lagi, yang aku baru sadari. Dalam novel tertulis bahwa Lezarus Lagronvi adalah setengah pemimpin di ibu kota wilayah Duke Lagronvi. Bisa-bisanya dirinya melupakan hal sepenting itu?
“.....”
Mataku terasa berat, serasa ingin memejamkan mata. Pengelihatan ku pun perlahan memudar, entah apa yang terjadi. Tetapi dengan jelas aku mendengar samar-samar ucapan Lezarus yang berada didekatnya.
“.....Per....Dan....” ucap Lezarus yang samar-samar ku dengar.
Dan akhirnya mataku benar-benar tertutup rapat.
***
Ciut ciut!
Suara burung berkicau, dengan cuaca yang cerah. Disebuah kamar terdapat seorang bocah kecil yang sedang terbaring lemas di atas kasur.
Ia perlahan membuka matanya, “Hoam...” bocah itu menguap. “Ah... sudah pagi? apa yang terjadi sebenarnya kemarin...” ucapnya dengan pelan.
Yap, bocah itu adalah Viviana Feelnea alias Celliana Anvele Lagronvi.
Gadis kecil itu merasa lupa dengan kejadian kemarin yang menimpanya, ia hanya ingat bahwa dirinya kehilangan penglihatan. “Apa aku amnesia?” tanyaku padaku sendiri, namun seperti nya aku tidak amnesia. Aku masih ingat dengan jelas tentang Novel “Kematian Putri Marquess”.
Dan saat aku kabur dari istana Glowne.
[Bersambung!]
Terimakasih telah membaca karya AnnaOne, Chapter 9! Dan selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin ya semuanya! Maaf telat ucapnya🥺✨
Terimakasih telah membaca, salam hangat tangan AnnaOne kepada kalian~3