
Suara burung yang saling menyahut satu sama lain, dan matahari bersinar menerangi seluruh dunia dengan terang nya.
“Uh...” seorang gadis mungil melenguh saat sinar matahari menerpa seluruh tubuhnya.
Ia membuka matanya, menerjap-nerjap. Sembari mengumpulkan nyawa yang tersebar entah kemana.
5 menit kemudian, nyawa yang menyebar telah terkumpul menjadi satu, di satu raga.
“Nona, hari ini anda kedatangan tamu!!” suara Chena menggema di ruangan.
Tamu? Apakah aku memiliki beberapa kenalan? Kurasa tidak, karena aku yang menjalani kehidupan biasa-biasa ini mana mungkin memiliki teman.
“Oh ya?, suruh orang yang kau sebut 'tamu' itu menunggu.” ucapku dengan santai berdiri dan meregangkan otot. Tak tak, “Huft.” hela ku.
Chena terdiam sejenak, “B-baiklah.” balas Chena menyahuti perintahku. ‘Mengapa gadis bodoh ini bisa sesantai itu? Kupikir ia akan menangis karena baru pertama kali mendapatkan tamu di istana miskin seperti ini.’
Chena pun menghilang dibalik pintu, oh tak lupa membungkuk hormat.
Andai aku mengetahui batin yang Chena ucapkan, maka aku akan berteriak “Hanya seorang tamu, untuk apa menangis?!”. Tapi aku tak mengetahui isi batinnya, jadi aku tak akan berteriak seperti itu.
Aku yang melihat Chena menghilang dibalik pintu, hanya terbengong. Biasa nya Chena akan memandikan ku, tapi kali ini tidak. Tidak apa, tak masalah aku bisa membersihkan diri sendiri.
Saat aku memasuki kamar mandi, ternyata Chena sudah menyiapkan air hangat di bak mandi. Ini lebih baik daripada tidak. Karena di zaman ini, mana ada yang namanya keran air, jadi secara otomatis jika aku yang menyiapkan air hangat sendiri akan mati kelelahan.
Tanpa basa basi, aku melepaskan pakaian yang menempel dengan erat ditubuh mungilku. Dan mulai masuk kedalam bak mandi yang berisi kan air hangat serta bunga melati.
***
Menghabiskan waktu berendam didalam bak mandi melati, memerlukan waktu sekitar 30 menit (setengah jam). Dan tentu tak lupa mengenakan dress kasual ala-ala bangsawan.
Dress dengan rok mencapai dengkul, berwarna hijau muda, dengan lengan panjang dihiasi pernak-pernik kecil. Disertai kain berwarna hijau bermotif bunga, yang dijadikan ikat rambut.
Walau tak terlihat mewah, tetapi itu cukup untuk menemui seorang tamu bukan?
“Sudah siap, aku dapat merasakan aura yang berbeda setelah mengenakan pakaian ini.” gumam ku pelan, aku mengamati dengan teliti dress yang ku gunakan di cermin “Aku merasa lebih imut!” lanjut ku.
“Baiklah, mari kita lihat siapa kah yang 'tamu' yang datang ke istana miskin seperti Glowne ini?” ucapku merasa cukup tertarik kepada tamu tak di undang itu.
Saat sudah diambang pintu yang terbuka, aku baru tersadar dimanakah tempat tamu yang dimaksud oleh Chena itu berada?!
“Aish, kenapa ia tidak memberitahuku sih?” rutuk ku yang ingin menabok Chena. Padahal tinggi kami luar biasa berbeda jauh.
Drap
Drap
“Nona! Nona!” suara wanita yang tak asing memasuki indra pendengaran ku.
Itu adalah suara Chena, ada apa ia berteriak memanggil nama ku. Apakah ia ingin mengantarkan ku kepada 'tamu' yang dimaksudnya, ya?
“Hah... hah...”
“Jangan terburu-buru, kakak Chena.” ucapku yang sudah berada diluar kamar. Hanya selangkah.
“Kebetulan anda sudah siap Nona, mari saya mengantarkan anda kepada tamu anda. Sepertinya ia sudah tak sabar.” ucap Chena terputus-putus.
Akhirnya pun Chena mengantarkan ku ke ruang tunggu tamu, cukup jauh dari kamar ku. Karena istana Glowne yang miskin ini memiliki struktur yang luas, walau tak seluas istana orang-orang keluarga Duke Lagronvi yang lain.
Jeng, jeng!
Kini, aku sudah berada diambang pintu ruang tunggu khusus tamu. Mari kita lihat, siapa tamu tak di undang untuk pertama kalinya?
Pintu didorong oleh Chena, dan menampakkan sesosok lelaki tua yang sudah pasti tak asing lagi bagi seorang Celliana Anvele Lagronvi!
“Hormat Chena kepada tuan.” Chena membungkuk dengan hormat kepada lelaki yang berumur itu.
“Hem..” dahem lelaki tua itu tak tertarik, bagaimana bisa wanita muda itu memberi salam kepadanya terus? Membosankan. Mungkin lelaki berumur itu tak tahu posisi.
“Dimana Nona mu, kan sudah kukatakan berkali-kali. Haa~” ucap lelaki berumur itu menanyakan keberadaan ku.
‘Hey, aku terhalang Chena tahu!’ batinku yang ingin sekali berteriak.
[Bersambung!]
Hahaha, bagaimanakah kelanjutan kisah ini yang masih berlanjut? Ntah lha, alur ini masih belum menantang masih santai menyantai. Okeh sekian dulu untuk Chapter 17!
i Hope u enjoy!
Salam Hangat tangan kiri & kanan AnnaOne!