
Aku berada dalam ruang kamarku yang ada di Istana Glowne, ugh apa yang kakek tua encok itu lakukan?
Bisa-bisa nya ia tega membuang ku kesini lagi, sia-sia aku mengikuti nya! Baru tumbuh sekecil ini, masa kakek tua itu dengan tega nya membuang ku.
“Kakak? Ma-maksudku Tuan.” aku mengalihkan pandanganku ke arah Lezarus.
Untuk apa ia berada disini? Layaknya saudara yang akrab, padahal kami tak pernah berkomunikasi. Ini aneh.
Lezarus hanya menatapku datar, setelah itu ia berbalik pergi keluar dari kamar. Namun sebelum itu terjadi, aku berteriak keras dengan sendiri nya, dan ia terhenti.
“Mengapa aku bisa kembali kemari?!” teriakku menahan rasa kesal yang menggebu-gebu. Ah, sial kakek tua encok penipu, ingin rasanya ku tampol!
Lezarus yang hanya diam sedari tadi membuka suaranya, “Teleport.” ucap Lezarus sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
Hah? Teleport? Otak ku mencerna alasan itu, dan kata teleport saja tak cukup sebagai alasan mengapa aku bisa kembali kemari.
Tak lama kemudian, ketukan pintu berbunyi setelah kepergian Lezarus dari ruangan ini.
Tok
Tok
Tok
“Masuk.“ ucapku malas, sudah pasti ia adalah Chena pembawa sial.
Chena masuk, dan ia memegang nampan yang berisikan makanan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini menu sarapan nya adalah, sayur hijau? Dengan bubur dan air putih biasa, disampingnya juga telah tersedia cocolan bubuk garam halus.
Tumben sekali, dan lagi itu bukanlah makanan kesukaan bagiku.
“Selamat pagi Nona,” sapa Chena dengan senyum mengembang nya, “Ini adalah sarapan Nona untuk ke depan nya.” lanjutnya sembari meletakkan nampan diatas nakas panjang itu.
Mengapa Chena menyiapkan makanan yang berbeda kali ini? Apakah ia tidak memiliki uang, sehingga tak dapat membeli daging dan jeruk peras?
Masuk akal juga sih, lagian Istana Glowne sangat miskin.
Mencurigakan, aku harus lebih waspada terhadap Chena ini. Dimulai dari sifat, sikap, dan caranya melayani, sangat berbeda.
Aku dapat merasakan aura Chena tak biasa, dan tak beraturan. Hanya insting saja, sih.
“Hmm, Baiklah.” jawabku seadanya.
“Baiklah Nona, kalau begitu saya pamit dulu ya!” ucapnya Chena dengan riang, ia menunduk hormat kemudian keluar dari ruangan.
“Haaa~” aku menghela nafas panjang.
Akhirnya pergi juga, aku pun berdiri dan mengambil makanan diatas meja nakas, dan membawa nya ke atas kasur.
Ya, makan diatas kasur adalah tempat ternyaman selain di lantai (?). Mungkin ini bisa dibilang kebiasaan dari kehidupan sebelumnya.
“Kehidupan layaknya orang desa” gumam ku tanpa sadar tersenyum kecil sambil memakan makanan itu.
Aku menikmatinya sampai habis, soal rasa aku tak begitu memperdulikan nya.
Satu hal yang harus kalian ketahui, bahwa mataku sudah mulai berat untuk tetap terbuka. Entah mengapa, bukankah aku baru bangun dari tidur?
“Hoam...” aku menguap.
Menyebalkan, mungkin ini efek samping dari mengikuti kakek tua encok itu, ah! Atau justru Chena memasukan obat tidur di dalam bubur itu?
Aigo, aku tak tahu intinya aku mau tidur! Menyebalkan.
[Bersambung!]
Halo everybody, kangen author ga yg udh 2mg ga up😀 maaf kan author ini ya teman-teman sekalian, aku memang bodoh. 2mg terakhir tubuh ku lemas dan suka ngatuk dengan cepat skali, jangan lupakan suaraku yg serak + kyk mau ilang. Sokey, pokoknya skrg udh mendingan. And maaf klo cerita pendek banget, karena aku mmg ga kuat nulis panjang2. Itulah author.
Makasih yg udh mau bersabar menunggu novel ini update yaa, see ya gaes kuharap keadaan kalian tidak seperti keadaan ku sebelum2nya.
Sehat-sehat, Salam Hangat Tangan AnnaOne~