The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 25 (S2)



1 hari kemudian, tidak-tidak 3 hari kemudian.


Aku keluar dari kereta kuda dengan tubuh terhuyung. ‘Pusing sekali.’ batinku.


Aku pun berjalan menjauh dari kereta kuda, ke selokan yang berair putih jernih. ‘Tidak mungkin aku muntah disini.’ aku harus berpikir dua kali, tapi mulut ku sudah penuh!


Ah, kan ada rerumputan, aku pun berlari pelan lalu memuntahkan seluruh isi perut ku ke rumput tebal.


“Ah, lega nya.” aku membersihkan mulut ku dengan lengan baju. Aku memperhatikan sekelilingku, apakah ini adalah wilayah Sholten? Kita bahkan sudah sampai di dekat ibu kota nya!


Wilayah Sholten dipenuhi oleh pepohonan yang layu, namun penduduk sana tetap santai seperti biasa (sepertinya). Aku teringat ucapan Maria, bahwa terjadi musibah aneh di wilayah Sholten. Yang menyebabkan seluruh tanaman bermana layu dan tak bernutrisi.


Apakah itu semacam penghisap mana?


Mungkin saja.


‘Ngomong-ngomong Maria dimana, sih. Aku ditinggal.’ batinku kesal. Tapi bukan saat nya untuk kesal, aku lebih baik berkeliling dan tidak lupa masuk ke gerbang menuju ibu kota dari wilayah Timur Sholten.


Seperti yang kalian tahu, kereta kuda berhenti tepat di luar gerbang Ibu kota.


Kereta kuda yang aku tumpangi pun sudah tidak ada.


“.....” tunggu, kereta nya sudah tidak ada? Aku berbalik dan menatap terakhir kali kereta kuda berhenti.


“!?” Benar-benar sudah tidak ada!


Jika dikatakan kereta kuda itu ghoib, maka kalian salah. “Jangan bilang, ruang penyimpanan?” gumam ku terkejut.


Novel ‘Kematian Putri Marquess’ menuliskan, hanya orang tertentu yang bisa memasukan barang besar ke dalam cincin atau kalung penyimpanan. Mungkin kah pria bersurai putih tadi itu orang yang berpengaruh?


“Sial.” aku menghentakkan kaki ku, “Tidak mungkin kan? Aku masuk penjara di wilayah utara.” Yap, tempat tokoh antagonis terpenjara di umurnya yang ke-14 tahun.


Seperti nya kalau diingat kejadian 3 hari lalu, pria itu sudah memaafkan ku. Aku menghela napas lega.


Tanpa banyak menunggu, aku segera masuk ke Ibu kota. Sebelum masuk, biasa orang-orang baru akan dicegat oleh para pengawal di depan gerbang. Untuk membayar pajak.


***


“Phew.” aku mengelap keringat di keningku dengan lengan pakaian. “Mahal sekali, hanya untuk masuk menghabiskan 3 koin emas.” Bagiku, 1 koin emas itu termasuk cukup banyak apalagi 3 koin emas.


Pemandangan Ibu kota, ramai. Benar saja, walau keadaan Ibu kota cukup mengenaskan mereka tetap santai berbelanja.


Seperti biasa, banyak Nona bangsawan kaya yang berkelompok bersama para dayang ataupun pengawal di samping kiri dan kanan mereka, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu kepada Nona mereka.


Hanya satu pertanyaan di kepala ku saat ini, ‘Apakah mereka tidak risih?’ Jika aku menjadi Nona itu, sudah pasti akan risih.


Aku membuang seluruh pikiran ku tentang mereka, tubuhku saat ini lengket. Ada baiknya aku menyewa penginapan, tidak lupa membeli pakaian di toko yang tidak ternama. Agar tidak terlalu mahal.


1 jam kemudian.


Setelah berkeliling jauh, aku mendapatkan 4 dress untuk kaum rakyat jelata seperti ku. Sederhana dan murah. Hanya memakan 50 koin perak, jika sudah 100 perak maka sama saja seharga 1 koin emas.


“Berat sekali sih.” rutuk ku. Aku malas merangkul kain besar yang satu ini, andaikan aku juga memiliki cincin penyimpanan, akan sangat mudah untuk ku menyimpan barang yang satu ini.


Ah benar! Kenapa tidak terpikirkan oleh ku dari tadi, aku ingin membeli satu buah cincin penyimpanan walau tingkat rendah. Biasa terjual di pandai besi profesional.


Cincin penyimpanan terhubung dengan yang namanya ruang dimensi. Bisa dikatakan semacam sihir, tapi cincin itu tidak terbuat dari sihir melainkan batu. Batu itu bernama Batu dimensi. Sangat langka untuk didapatkan, sehingga harga cincin penyimpanan meningkat drastis sesuai tingkat/kapasitas.


“Mungkin aku bisa membelinya dengan uang yang ada. Semoga harganya tidak begitu mahal.” gumam ku memikirkan harga cincin penyimpanan yang akan ku beli nantinya.


Aku mengangguk puas. Dan berjalan sambil merangkul kain besar, oh tidak lupa aku menggandeng 4 dress di tanganku. Tidak tahu aku harus menempatkan mereka dimana.


Dan akhirnya aku sampai pada tempat tujuan, yaitu pandai besi. Aku sempat bertanya pada orang yang berjalan, dimana letak pandai besi profesional yang menjual cincin penyimpanan. Awalnya orang itu terkejut, lalu ia menunjukkan tempat pandai besi profesional itu berada.


Disinilah tepat didepan aku berdiri sekarang.


Tempat ini sangat besar, dan lihatlah pintunya bahkan besar. Tanpa berlangsung lama, aku memasuki toko, banyak sekali para Pria berbadan besar sedang memapah besi bahkan ada juga yang memotong besi tersebut dengan tangannya.


‘Aku belum pernah melihat hal semacam itu sebelumnya.’ batin ku. Memang benar, di dunia asli ku tak ada yang bisa memotong besi dalam sekali potong menggunakan tangan, kecuali alat.


“Hey Nona!”


“Aku datang kemari hanya untuk membeli cincin penyimpanan.” jawabku pada lelaki muda itu. Lelaki itu seketika menjawab ku dengan cepat, menyuruh ku untuk mengikutinya.


Aku hanya mengangguk dan mengekori di belakang lelaki itu – sambil mengangkat beban dikedua tanganku. Tubuhnya tidak sebesar orang-orang tadi, ukuran tubuhnya kecil. Sepertinya kami seumuran.


Ia membuka pintu yang tidak sebesar pintu masuk tadi itu, lalu ia menyuruhku untuk maju ke depan duluan. Entah apa maksudnya, aku tetap maju dan didepan terdapat sebuah meja panjang, em... seperti meja bar mungkin? Tapi lebih untuk kerja.


Lelaki muda itu menyuruhku untuk duduk, aku hanya bisa menuruti nya tanpa berkata sepatah kata pun.


Kemudian lelaki itu berkata, “Silahkan berbicaralah dengan pemilik pandai besi ini. Aku keluar dahulu.” ungkapnya sebelum benar-benar tidak terlihat batang hidungnya.


Brak


“.....”


“Katakanlah, kau ada urusan apa Nona muda.” Suara lelaki tua menggema di setiap ruangan.


Aku menelan saliva dengan kasar, “Anu, apakah... kau menjual cincin... penyimpanan?” ucapku dengan gugup. Takut untuk diterkam hidup-hidup!


Lelaki tua itu terdengar menertawaiku, “Hahaha, berapa yang kau inginkan, pandai besi kami hanya menyisakan 2 cincin saja.” ucap kakek itu kemudian. Ia berbalik dari kursi putarnya, dan menampakkan sosok tuanya yang rapuh.


Di genggaman tangan kakek tua itu sudah tersedia cincin yang berbeda, di tangan kiri cincin itu berbentuk bulat biasa, dan di tangan kanan berbentuk persegi. Entah apa yang membedakan kedua cincin tersebut, terkecuali bentuk batu nya saja.


“Apakah ada perbedaan kualitas diantara keduanya?” tanyaku menunjuk tangan sebelah kanan kakek itu yang menarik perhatian ku.


Ia meletakkan kedua cincin itu di meja, sembari membelai jenggot nya. “Perbedaan hanya berada pada kapasitas, yang berbentuk persegi ini kualitas biasa. Dan sebelah kiri berkualitas rendah. Jadi kau akan memilih yang mana Nona?” kakek tua itu bertanya dengan alis terangkat.


Aku tidak bisa berkata-kata, sebaiknya aku bertanya tentang harga. Bisa saja harganya akan sangat mahal.


“Jika diperbolehkan bertanya, berapakah harganya?” tanyaku balik karena tidak tahu seberapa mahal kedua jenis cincin penyimpanan itu.


“Harga menjamin kualitas, kau tahu?”


Aku mengangguk. “Aku tahu, tapi aku tidak memiliki cukup banyak koin jika harganya terlalu mahal.” ucapku sambil tersenyum simpul.


Kakek itu tertawa, “Pandai besi kami selalu memberikan diskon kepada orang-orang baru.” Mata kakek itu kemudian menyipit, “Aku belum pernah melihat mu.” lanjutnya.


“Oh, tentu aku juga baru pertama kali kemari. Dan satu hal, aku baru pertama kali ke wilayah Sholten.” jawabku jujur, agar ia melanjutkan tawaran diskonan itu kepadaku sebagai orang baru.


Mata kakek itu membulat sempurna, “Oh, pendatang baru?” kakek itu berucap lagi, “Apakah kau kemari ingin melihat keadaan wilayah Sholten yang membuat kekaisaran gempar?” tanya kakek itu 2 (dua) kali.


“Em yah, aku pendatang baru. Dan begitulah.” aku hanya mengangguk. Karena tidak ingin berlama-lama ditempat gelap dan pengap ini, aku segera mengalihkan pembicaraan.


“Bisakah kakek memberitahukan harga kedua cincin tersebut?” tanyaku dengan ekspresi serius.


Kakek itu mengelus jenggotnya lagi dan lagi, “Tentu, sebelah kiri ini bernilai 100 koin emas. Dan sebelah kanan bernilai 125 koin emas. Aku memberikan mu diskon secara khusus. Harga awal cincin sebelah kanan 200 koin emas.” ia menjelaskan seluruh harga dengan detail.


‘Aku tidak tahu, berapa sisa koin emas ku. Tapi kurasa seharusnya cukup! Orang baik sepertinya tidak boleh disia-siakan.’ batinku bersemangat. Lalu aku mengeluarkan 1 kantong koin emas yang sudah ku perkirakan berisi 100 koin emas lebih.


Lalu aku menyodorkan nya keatas meja, “Aku menginginkan cincin penyimpanan berbentuk persegi.” ucapku sudah merasa bahwa pilihan ku tepat.


Kakek itu mengangguk pelan, dan segera mengambil kantong koin emas milik ku, serta cincin disebelah kiri dan tersisa sebelah kanan.


“Ambilah cincin itu sekarang menjadi milik mu.” Kakek itupun memutar kembali kursi putarnya. Sehingga wajah dan tubuhnya tidak terlihat.


“Cara memakai cincin itu, kau cukup menuangkan setetes darah milik mu sebagai kepemilikan cincin tersebut. Lalu kau hanya perlu membayangkan barang apa yang ingin kau keluar masukan.” jelasnya lagi untuk cara penggunaan cincin tersebut.


Aku pun memahaminya, lalu segera aku menggigit bibir ku yang kering dengan pelan. ‘Ukh aku ragu, sialan.’ batinku mendelik. Aku pun pasrah, aku sudah menghabiskan banyak koin untuk membeli cincin kecil ini.


Dengan keberanian, setetes darah pun keluar dari bibir ku. Dan jatuh terkena batu cincin berbentuk persegi, cincin itu mengeluarkan cahaya dalam waktu singkat dan meredup.


Oh, sepertinya bekerja ya?


Aku pun membayangkan, barang yang ku bawa untuk masuk. Dan bravo! Mereka semua hilang dalam genggaman dan pangkuan.


Aku berdiri dari kursi dan menundukkan sedikit tubuhku, “Terimakasih atas penawaran anda Tuan. Saya pamit duluan.” aku pun menghilang dari balik pintu.


[Bersambung!]


Terimakasih! Maaf kemarin listrik padam 🙏🏼