
Ia memberikan senyuman terbaiknya dengan anggun. Dan menyapaku dengan penuh semangat serta tidak sopan!
Tamu tak diundang itu langsung memeluk ku, dan Happ dia melingkari tangannya pada leherku. Entah kenapa rasanya terasa sedikit... ambigu?
“H-hei, lepaskan itu.” aku berkata dengan patah-patah, leherku rasanya akan tercekik bila terus seperti ini!
Tamu tak diundang itu melepaskan pelukannya yang melingkari area leher ku, “Oh maafkan aku, hehe lihatlah aku membawakan mu sebuah hadiah!” ia menepuk tangannya “Prak prak.”.
Lalu muncul lah orang dengan pakaian jas biru ala-ala pelayan loyal terhadap majikannya. Mereka semua rata-rata seorang Pria. Dan mereka semua membawa sebuah kantong belanjaan di tangan mereka. Kira-kira para pria itu sekitar 5 orang.
“Sebanyak ini?” aku mengucek mata untuk memastikan apa benar yang ia lihat saat ini? Tentu saja jawabannya benar!
Maria Barch adalah tamu yang tak diundang itu, ia menatap ku dengan mata ikan. “Bagaimana?” tanya nya padaku yang sedang menatap sedikit takjub kantong belanjaan di tangan 5 orang tersebut.
Aku mengalihkan pandanganku pada Maria, dan berkata “Aku sedikit terkejut. Tapi terima kasih.” aku membungkuk kan sedikit badanku pada teman baruku yang sangat baik hati ini. Walau aku tidak tahu, apa niatnya.
“Oh tidak apa, aku dengan tulus memberikan nya padamu.”
Aku hanya mengangguk, mengiyakan ucapan nya. Lalu para pria berjas biru itu meletakan kantong belanjaan itu di bawah lantai dekat ranjang. Dan aku mengucapkan terima kasih pada mereka yang sudah membawakan hadiahnya.
Pria berjas biru itu pun pergi, hanya aku dan Maria yang tersisa. Maria membuka mulutnya dan berkata,
“Celli, aku tidak yakin bahwa belanjaan ini akan tersimpan dengan baik. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan belanjaan sebanyak ini!” ucapnya dengan gelisah, ia menggigit kuku jempolnya.
“.....”
‘Bagaimana bisa, ia sendiri yang membelinya tapi tidak berpikir panjang!?’ batinku merasa bahwa tindakan Maria cukup salah. Tapi yasudah lah bukan masalahku, aku bisa menyimpan nya sebagian di cincin penyimpanan.
Aku memegang pundak Maria, ia tampak sedikit terkejut. Aku tidak perduli dan langsung berkata, “Tidak apa, aku bisa menyimpan nya dengan baik.” ucapku dengan percaya diri, aku harus membuat nya percaya.
Hoho, bisa saja ia akan mengambil balik hadiah yang telah ia berikan padaku, bukan? pikir ku.
Oh maaf, aku terkadang akan berpikir kritis tentang pikiran orang lain.
Maria menatapku, “Bagaimana caranya?” tanya nya dengan penasaran.
“Mudah saja, kau bisa membeli cincin penyimpanan!” ucapku seadanya dengan bersemangat, siapa yang tau Maria akan membelikan ku sebuah cincin penyimpanan dengan percuma.
Raut wajah Maria seketika berubah, “Hei Celli, apakah kau tidak sehat?” tanya Maria ia memegang keningku.
Aku menepisnya pelan, “Ya? Aku tidak sakit.” jawabku aneh dengan pertanyaan Maria.
“Kau tidak tahu sesuatu?” tanya Maria yang sudah pasti tidak aku ketahui, “Cincin Dimensi adalah cincin dengan kapasitas tak terbatas! Bagaimana caranya kau ingin mendapatkannya? Bahkan, jumlah mereka hanya ada 1-2 buah.” lanjut ucapnya dengan mata melotot kearah ku.
‘Sialan, yang ku maksud bukan cincin dimensi!’ batinku ingin merutuk ketulian seorang Maria Barch.
Jadi cincin penyimpanan memiliki 2 (dua) spesies, yaitu yang pertama Cincin penyimpanan biasa, dan cincin dimensi. Aku mengetahuinya dari novel, entah kenapa semua dari isi novel sangat berguna untuk ku.
Maria menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Hm, tentu saja! Besok bagaimana kalau kita mengunjungi tempat Marquess Ywille? Aku ada urusan penting disana.” ujarnya, Maria berjalan dan duduk di atas ranjang.
“Yeah, tentu.” jawabku langsung tanpa berpikir panjang.
Sejujurnya kami memang hanya berbicara bahwa akan pergi ke wilayah Sholten Marquess Ywille bersama. Tapi sepertinya Maria ingin aku menemaninya. Jadi tujuan kami, benar-benar sama.
“Baiklah, Terima kasih!” ungkap Maria dengan senyuman manisnya.
‘?!!’
Astagah, lihat lah itu ia sangat mempesona! Pesona nya terasa mirip dengan pemeran utama wanita dalam novel.
“Ya, tidak masalah.” balasku dengan senyuman terbaik, em yah, walau terlihat ... kaku?
Maria mengangguk sebagai balasan, dan ia merebahkan tubuhnya sembarang keatas ranjang milik ku.
“Huwaaa, aku harap masa-masa kritis segera berakhir!” teriaknya dengan sengit.
Aku menutup telinga ku yang terasa akan pecah. “.....” aku hanya bisa menghela napas dan bersabar, aku tidak tahu maksud dari ucapan nya apa.
Ngomong-ngomong, ada satu hal yang tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Bahwa kejadian yang terjadi di Wilayah Sholten, berhubungan dengan event ketiga dari pertemuan antara Pemeran utama wanita dan Pria antagonis.
Woah, bukan kah itu berarti aku sudah melewatkan 2 plot lainnya? Tapi tidak apa, aku bisa melihat event lainnya dari dekat jika berteman dengan baik bersama pemeran utama wanita.
‘Eh?'
‘Bukan kah berarti, pemeran antagonis Lezarus Ez Lagronvi akan mengunjungi tempat Marquess Ywille berada untuk mengajukan kerja sama? Berarti, kami akan segera berpapasan dong?’ batinku mendelik.
Untung saja aku berpikir dengan jernih, tentu kami akan berpapasan karena berada di wilayah kekuasaan yang sama. Namun bukan berarti ia akan mengenali ku bukan? Rupa Celliana yang saat ini, seharusnya tidak dikenali oleh siapa pun.
Kurasa akan baik-baik saja!
Dan satu hal, aku tidak akan merusak plot event para pemeran utama. Aku hanya akan menjadi penonton di pojokkan.
Itulah yang aku pikirkan. Tapi aku baru tersadar akan permintaan dari Celliana asli, bukan kah berarti aku dengan terpaksa harus masuk beberapa kali dalam plotnya?
Mendekati seorang pemeran utama wanita, bukanlah hal yang mudah.
[Bersambung!]
Hwee, maaf ya author otaknya lagi gk bisa diajak kerja sama:(
Salam hangat AnnaOne!