
Esok harinya.
Pagi yang cerah, hewan maupun tumbuhan menari dengan gembira dibawah udara yang sejuk.
Aku berhasil keluar dari kediaman Grand Duke Lagronvi seutuhnya. Karena keadaan saat itu sangat sepi, memudahkan untukku kabur.
“Betapa beruntung nya aku.” aku menikmati roti dimulut ku dengan mata terpejam.
Setelah berhasil keluar dari kediaman Grand Duke, aku menyewa penginapan hanya untuk sehari dan harganya sungguh membuatku ingin muntah darah. 1 malam bisa menghabiskan 1 koin emas per orang nya
Tapi syukurlah, aku tersadar bahwa aku masih memiliki sekantung koin emas dari kakek tua yang terhormat itu. Jadi aku tidak perlu mencemaskan perekonomian ku saat ini.
Beberapa menit lagi aku harus berlari ke tempat penyewa kereta kuda. Walaupun aku tak yakin berapa harganya, namun harga terkadang bergantung pada kualitas. Aku mendengarnya dari teman baruku, ia tinggal disebelah kamar penginapan ku.
Ternyata tujuan kami sama, yaitu pergi ke wilayah Sholten. Wilayah kekuasaan Marquess Ywille.
Aku bertanya pada nya, alasan kenapa ingin pergi kesana. Dan ia malah bertanya balik padaku “Apa kau tidak tahu?” tentu saja tidak tahu, dan ternyata “Masa bodoh, jadi di wilayah Sholten terjadi sebuah musibah. Yang dimana seluruh tanaman yang menghasilkan mana, layu dan sudah tidak bernutrisi.”
Jadi tujuannya kesana adalah ingin melihat kondisi wilayah Sholten.
Tok
Tok
Tok
Pikiran ku terbuyarkan saat ketukan pintu terdengar cukup keras. Aku menelan kasar roti lapis yang aku pesan dengan susah.
Ceklek
Aku membuka pintu, seseorang menyapaku dengan senyuman cerahnya.
“Selamat pagi, apakah kau sudah bersiap?” Yap, orang itu adalah teman pertamaku didunia ini karena aku merasa membutuhkan seorang teman walau 1 (satu). Namanya adalah ‘Maria Barch.’ berumur 1 tahun lebih tua dariku.
“Pagi, seperti yang kau lihat.” aku menyingkir dari depan pintu dan menunjukan area atas ranjang yang sudah terisi kain sebesar bola raksasa.
Ia menatapku, “Hm... bukankah kau katanya belum membeli pakaian?” ia bertanya dengan nada seolah-olah aku berbohong padanya.
Aku menatapnya malas, “Aku hanya memasukan barang tak berguna kedalamnya.” aku berucap dengan santai seolah itu bukanlah masalah yang harus dipermasalahkan.
“Mustahil! Aku akan meminjamkan mu 5 pakaian lagi padamu. Kurasa kau akan butuh itu.” Maria menyentil keningku pelan.
“Aw...” sejujurnya tidak sakit, hanya saja aku lebih-lebihkan. “Terima kasih, tapi kurasa aku tidak memerlukannya lagi.” Tolak ku halus, aku menatap pada pakaian yang sekarang aku pakai, kasual dress yang berbahan lembut dan dingin berwarna hijau maroon.
Ya, dress itu adalah milik Maria. Bisa dibilang aku meminjam dari nya karena aku merasa butuh walau hanya 1.
“Tidak. Kau butuh itu.” bantah Maria dengan melipatkan kedua tangannya di atas perut.
Karena malas berdebat, aku hanya bisa mengiyakan nya. Jika aku sudah membeli pakaian yang seukuran orang dewasa, maka aku akan mengembalikan pakaian pinjaman darinya.
“Baiklah, jika kau ingin memberikan ku 10 potong pakaian pun aku tidak masalah.” aku mengangkat kedua bahuku.
Wajah Maria tampak berseri, “Hm! Baik, aku akan memberikan mu seluruh pakaian ku.” jawabnya cepat. Jelas sekali dia tampak senang.
“.....?” Celliana Anvele.
Aku tak pernah memikirkan Maria adalah orang kaya, apakah ia orang yang sangat berpengaruh? Jadi bisa membeli semua barang yang ia mau dengan sekali ungkapan.
“Aa-hehe, kau tampak bingung ya...” ia bisa menebak pikiran ku! “Jadi aku akan berkata jujur padamu, tapi jangan katakan pada siapapun..!” ia mendekati telinga ku dan berbisik, “Aku adalah seorang Putri Viscount.” ia menjauh dari telinga ku dengan wajah berseri-seri nya lagi.
“?!” aku tampak sedikit terkejut, pantas saja Maria bisa berkata dengan santai jika ingin memberikanku seluruh pakaiannya.
“Tapi, kenapa kau ingin memberikan ku seluruh pakaian mu? Padahal kita baru pertama kali bertemu kemarin.” tanyaku dengan wajah penasaran.
Maria menatapku dengan wajah cemberut, “Tentu saja karena pakaian itu tidak cocok untuk ku, dan terlalu kolot!” Maria menggembungkan pipinya yang memerah.
Akh, ia sangat menggemaskan! ‘Astagah, bisa-bisa aku terkena diabetes!’ batinku berteriak gemas.
“Jika sudah begitu, ada baiknya kita lari.” sebelum kata 'lari' benar-benar ku lakukan, aku mengambil gulungan kain besar diatas ranjang. Merangkulnya dan berjalan mendekati Maria, dalam sekejap aku menarik tangan Maria dengan kencang berlari menerobos tangga.
Maria berteriak keras tepat di belakang ku, “HEY JA-JANGAN MENARIK KU DENGAN KASAR!!”
Aku mengacuhkan teriakan dari Maria, aku terus berlari hingga akhirnya kami sampai di tempat sewa kereta kuda.
Aku melihat tersisa 1 (satu) kereta kuda yang masih kosong. Dengan cepat aku berlari, namun terhenti saat keningku terbentur sesuatu yang... keras?
Tiba-tiba saja, “Uhuk.” aku terbatuk pelan saat merasakan dorongan yang kuat dari arah belakang.
“Aaaaa!!”
Maria mengangguk pelan, “Tentu, aku baik-baik saja... Kok...” tak lama setelah ia berucap, tubuhnya ambruk begitu saja kedalam pelukan ku.
“Ma-maria.” aku memanggil namanya dengan panik, menepuk-nepuk pipinya pun tidak akan berguna. Sial.
Barang yang kubawa pun terjatuh karena benturan tadi. Benda, kurasa aku terbentur benda. Aku pun mendongak kearah belakang, dan yang mengejutkan nya ialah, kemeja putih? Em, dengan dada yang bidang.
“Eh?”
Sesaat aku melirik wajah sang pemilik dada bidang itu, karena ia menatapi ku terus sedari tadi, dan aku baru menyadarinya.
Tampan.
Satu kata yang hanya bisa ku ucapkan dalam batin. Bersurai putih alami, dengan mata tajamnya menambah pesona Natural dalam diri lelaki gagah itu.
Namun pikiran ku terbuyarkan saat melihat kereta kuda yang ingin kutumpangi hampir direbut orang lain.
Aku segera menyeret tubuh Maria sembari mengambil segulung kain berisi barang-barang ku. Lalu berteriak, “Permisi paman, bisakah saya menyewa kereta kuda itu?” tanyaku merujuk pada kereta kuda yang terlihat mewah...? Yap, itu adalah satu-satunya kereta kuda disitu.
Tapi kurasa ada yang salah dengan kereta kuda itu, deh?
Paman itu menatapku dengan tatapan tak bisa diartikan. “Maaf Nona, Kereta kuda itu bukanlah milik dari bagian penyewaan kami.” ia menunduk hormat lalu pergi meninggalkan ku yang masih ingin bertanya.
Suara berat khas lelaki memasuki pendengaran ku, “Itu adalah kereta kudaku.” - Aku berbalik dan menatap lelaki yang tak sengaja aku tabrak tadi itu.
“Ah, maafkan saya sudah salah mengira bahwa itu adalah kereta kuda sewa.” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Akh, memalukan. Pikir ku yang sudah terisi penuh dengan kata 'memalukan'.
“Kau ingin pergi ke wilayah Sholten? Jika benar, kau boleh pergi bersama ku, tujuan kita sama.”
“Ya?” aku memiringkan kepalaku dan mataku melirik sekilas keadaan Maria saat ini. Gawat jika aku membiarkan Putri seorang bangsawan terluka kan.
***
Sudah berjam-jam kami menaiki kereta kuda mewah yang nyaman satu ini, dan ehm... pemilik nya yang sangat tampan.
“.....”
“.....”
“.....”
Suasana saat ini sangat canggung.
Maria sempat memarahiku karena lupa membawa kopernya di dalam penginapan. Aku menerima seluruh keluhannya, karena itu memang salahku menariknya dengan terburu-buru.
Ngomong-ngomong Kereta kuda ini terlihat seperti kereta kuda kelas atas, nyaman di duduki. Tidak berguncang hebat, biasanya kereta kuda biasa akan banyak getarnya.
“Psshh, Cel.” bisik Maria memanggil ku.
“???” aku menatapnya seolah bertanya, “Ada apa?”.
“Apaka–” belum sempat Maria menyelesaikan ucapannya, Kereta Kuda yang kami bertiga tumpangi bersama Pria tampan bersurai putih tadi membuat gelombang benturan yang cukup keras.
Aku tersentak kaget, dan dengan sigap aku mencengkram erat bagian lubang jendela yang kacanya menonjol keluar.
“Uahh!” Suara Maria berteriak membuat telingaku ingin pecah.
Mataku menatap kearah Maria, sedari tadi ia berteriak melulu, pasti terjadi sesuatu.
Mataku membulat sempurna, “Uhuk maafkan aku.” aku mengalihkan pandanganku kearah lain dengan wajah memerah.
Saat ini posisi Maria tengah memojokkan pemilik kereta kuda yang kami tumpangi ini.
“He-hey!” Maria melepaskan tangannya dan duduk di sebelahku. Keadaan telah kembali normal. “Jangan salah paham.” ucap nya dengan nada pelan, disertai kemerahan di pipi nya.
“Pfft, ya itu hal biasa.” ucapku sembari menyenderkan kepalaku dengan tangan sebelah kiri.
Jika kalian bertanya, bagaimana keadaan Pria bersurai putih tadi... Ia hanya menunjukkan wajah datarnya. Bisa dibilang ia tidak berbicara, ataupun angkat suara.
Yang terpenting sekarang adalah, waktu. Aku tidak tahu kapan kami akan sampai.
[Bersambung!]
Maaf jika banyak basa-basi, tunggu esok hari lagi ya👋 Salam AnnaOne.