The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 31 (S2)



Tubuhku bergetar kecil saat sosok Antagonis melirik ku. Siapa lagi jika bukan Lezarus.


‘Apakah aku akan ketahuan?’ batinku mendelik. Sedari tadi Lezarus memandangi ku. Membuat aku panik dan was-was, berpikir apakah sudah waktunya?


‘Sialan, sialan sialan’. Aku menangis dalam batin mengigit bibirku kasar. ‘Hehe, bagaimana jika ia tahu bahwa aku Celliana, mengetahui kekuatan ku dan memperbudak seperti cerita aslinya? Lalu mati menggenaskan.’ batin ku negatif thinking.


Aku dan Maria sudah sampai pada ruangan inti, yaitu ruangan membaca di kediaman Marquess Ywille. Karena jika berbicara di dalam ruang tamu akan sangat menguntungkan para pengintai musuh Marquez Ywille penjagaan disana tidak ketat seperti di ruang baca.


Padahal sebelumnya aku biasa saja, tidak panik. Kenapa sekarang malah berbeda dari ekspektasi, terkadang hanya berbicara tidak cukup untuk mem


Aura yang mengintimidasi itu, benar-benar menyebalkan. Tapi wajah nya tampan, sayang sekali. Wajah Lezarus tidak banyak berubah.


Aku menggaruk pipiku yang gatal dengan kuat, menyebabkan keluar darah dari goresan tipis itu. Tidak ingin berlama-lama ditempat ini aku memutuskan berbisik pada Maria.


“Psshh, Maria aku sepertinya harus pergi dari sini.” ucapku menatap Maria dengan serius. Lagi pula kenapa aku ikut ke kandang harimau.


Maria menatapku dengan memelas berharap aku tidak meninggalkan nya sendirian. “Kumohon, jangan tinggalkan aku Cellin.” ujar Maria memegang erat telapak tanganku.


Sial.


Kepala keluarga Marquess Ywille, Grand Duke Lezarus Ez Lagronvi, Duchess Sofian Alezard, menatap kami dengan penasaran nan tajam.


“Ck, sepertinya aku hanya bisa melakukan ini.” decak ku kesal dan melepas kan genggaman erat dari Maria. Menatap seluruh orang yang berada di ruangan satu per satu terkecuali Lezarus. ‘1, 2, 3!’ setelahnya aku berdiri dari sofa dan berlari secepat kilat meninggalkan ruang membaca Kediaman Marquess Ywille.


Brakk!!


...


Aku menjulurkan lidahku saat sudah berada di taman, aku samar-samar melihat reaksi mereka semua. Ada yang terkejut, geram dan ada yang cuek bebek.


Aku menjatuhkan tubuhku ke rerumputan, memikirkan seharusnya tidak perlu repot-repot datang kesini. Tetapi tujuanku berteman baik dengan Pemeran utama wanita, Trivia Ywille. Demi masa depan yang baik.


Jika aku telah menemukan Nona Trivia Ywille, maka aku akan segera mengajarkan nya cara menggunakan sihir batu murni. Membuatnya percaya padaku menjadi teman nya, walau semua orang bisa saja ia percayai itu memudahkan ku beraksi.


Berjam-jam telah berlalu, aku berjalan-jalan disekitar taman Mansion Utama Marquis sampai ke ujungnya.


Duduk di kursi taman dengan tatapan ikan. Diantara bingung, gelisah, dan tidak ada kerjaan.


Drap


Drap


Drap


Suara kaki berlari terdengar samar-samar, aku mendongak mencari asal suara itu dan menemukan Maria berlarian sembari membawa sebuah kotak kecil.


Maria tampak terengah-engah “Ini dia, bersihkan luka mu. Dan kita akan pergi, urusan telah selesai.” ucap Maria mengulurkan tangannya dan aku menyambut kotak tersebut dengan baik.


“Terima kasih.” ucapku dengan tulus. Aku membuka kotak kecil tersebut yang berisikan alcohol 25ml, perban, kapas dan obat luka 20ml.


Aku mulai dari membersihkan pipi menggunakan air alcohol ke luka gores pipiku, lalu menggunakan kapas untuk mengeringkan nya, meneteskan setetes obat luka yang berwarna putih tanpa aroma meratakan obat itu yang menjadi bewarna hitam.


Maria menatap ku aneh, “Apa kau tidak tahu? ah sudahlah, obat ini bernama Sari Minyak. Yang dapat membantu menghilangkan rasa sakit serta bekas luka dengan ampuh. Tetapi obat ini cukup langka.” jelas Maria tanpa basa-basi. Ia mengeluarkan satu botol obat luka Sari Minyak entah dari mana.


“Bukan khasiat yang aku inginkan.” decak ku kesal dengan Maria yang berbeda arah dari pembicaraan. ‘Sialan.’ rutuk ku dalam batin menepuk jidat.


Maria menatapku jengkel, “Lalu apa?” tanya nya padaku. Baru saja ingin menjawab Maria melanjutkan ucapannya “Oh, kenapa bisa menghitam?” tanya nya memastikan, aku mengangguk. “Itu karena membuang seluruh bakteri dari luka-luka mu. Jadi berwarna hitam.” jelas Maria lagi.


Ah, rupanya seperti itu.


Mengapa Novel tidak menjelaskannya? Mungkinkah author dari novel tersebut maniak romansa, sehingga tentang hal-hal sejenis ini pun tak di jelaskan.


“Hey, ada apa dengan tatapan mu itu? Apakah ada masalah dengan obat luka ini?” ucap Maria sembari menunjukkan botol Sari Minyak di telapak tangan nya.


Mungil dan ringan untuk di bawa kemana-mana. Sepertinya akan sangat bagus jika kedepannya aku meracik sebuah obat, jika aku melakukan perjalanan menuju langit maka akan berguna.


Di dunia novel fantasi yang satu ini, tidak ada hal yang mustahil. Semuanya pasti ada, tanpa terkecuali seperti era modern kurasa tidak mungkin, yang dimana teknologi telah berkembang pesat.


“Hahaha, tidak apa-apa. Ini cukup efektif.” jawabku dengan senyum kaku. Tidak tahu harus berkata apa.


Maria menghela napas, “Yah ... itu baik.” ia tersenyum bagaikan malaikat dengan efek cahaya!


Ya ampun silau!


“Cellin, jika sudah selesai bagaimana kita ke ibu kota disini? Ada banyak sekali jajanan yang enak!” ajak Maria dengan antusias, ia menarik tanganku pelan. Dan aku hanya bisa menerimanya, tidak lupa memasukan kotak kecil yang berisikan alkohol, perban, kapas, dan obat Sari Minyak kedalam ruang penyimpanan.


15 menit kemudian.


Tanpa perlu waktu lama, kami telah sampai di ibu kota. Ramai akan pengunjung, di pojokkan aku selalu melihat adanya Tunawisma, ckckck bagaimana bisa yang memerintah ibu kota ini tidak berbelas kasihan memberikan rumah kepada mereka. Jika dilain kesempatan, aku berjanji akan memberikan kalian tempat bersinggah dengan 500 kamar lebih.


Yeah jika aku menjadi orang kaya, maka itu semua akan terjamin.


Maria menarik pelan lenganku, dan aku terperanjat kaget “Astagah!” pekik ku kaget setengah mati.


Tanpa meminta maaf, Maria menarik ku lagi dan aku hanya bisa pasrah. Kami berbelanja banyak dimulai dari makanan manis, pedas, bersinggah di sebuah restoran terkenal akan makanan khas nya yang populer, serta ke toko butik.


“Hah, hah, haaa... Maria hentikan..! aku lelah.” teriak ku pelan napas ku tak teratur, dengan dibanjiri oleh keringat di dahi, tubuh terasa akan jatuh dengan mudah.


Aku mendongak, mendapatkan tatapan berbinar dari Maria. “Ukh, seorang anak Viscount yang giat berbelanja?” Walau begitu, aku juga mendapatkan sebagian dari belanjaan Maria. Itu cukup menguntungkan.


“Ayolah Cellin, aku ingin lebih. Bagaimana kita ke toko kosmetik? Katanya ada produk baru.” ucap Maria menggeledah kantung dress ajaib nya dan mengeluarkan secarik kertas putih dengan ilustrasi bedak pemutih. Tertulis juga harga nominal!


Astagah, 250 koin emas? Lebih baik pergi membeli cincin! Sialan.


(Author: Menghilang*)


[Bersambung!]


Selamat HUT Indonesia yang Ke-76th fuufu✨