
“Kolam air ini...”
“Adalah darah ”
“Akhirnya kau paham juga?”
Suara yang terdengar berat, menggema di ruangan yang luas ini.
“KYAAAAAA! SUARA SIAPA ITU?!” Teriakan Maria yang keras membuat sebuah gelombang suara yang besar.
“Kecilkan suara mu bocah.”. Terdengar suara berat tersebut tampak kesal dengan Maria.
Maria dengan wajah ketakutan memeluk tubuhku dengan erat, “Aku takut...” Cicit Maria. Ia menenggelamkan wajahnya di punggung ku.
‘Maria saja takut apalagi aku?! Sial.’ Aku menatap sekeliling, dengan rasa waspada aku memberanikan diri untuk berbicara dengan suara tersebut.
“Kau... siapa?”
“Bocah lemah seperti mu tidak pantas tahu siapa diriku.” Suara itu menjawab dengan sombong, aku ingin sekali menghancurkan pemilik suara tersebut.
“Kau pemilik tempat ini?”
“Tentu saja, aku berada disini sejak 2 tahun yang lalu.”
‘Tandanya belum lama-lama ini...’
‘Kalau begitu, penduduk sekitar juga pasti tahu kan? Tentang hal ini.’
“Aku tidak sabar untuk mencicipi makanan baru.”
Jika kalian bertanya, aku takut atau tidak? Maka jawabannya tentu saja. Namun aku dengan Maria harus segera keluar dari tempat ini.
“Maria, psh.”
“Lepaskan pelukan mu.” Bisik ku kepada Maria yang masih menempel layaknya induk dan anak yang ketakutan.
“Tidak mau.” Balasnya.
“.....”
“Baiklah.”
Aku dengan paksa mendorong tubuh Maria sampai ia terjatuh kedalam kolam darah.
BYURR.
“Hahaha, pertemanan yang baik.” Suara yang terdengar menghina dan tidak nyaman di dengar.
Membuatku marah besar.
Dengan cepat aku membantu Maria berdiri, namun belum sedetik aku memegang tangannya, Maria tiba-tiba saja menjauh dengan cepat, karena angin kencang yang tiba-tiba muncul menyebabkan kolam darah tersebut terbawa arus.
Sedangkan aku?
Kaki ku terasa berat di bawah kolam darah ini, membuat diriku tidak ikut terjatuh karena angin tersebut.
(Maafkan gambar author.)
“MARIA?!” Aku berteriak dengan kencang, dengan uluran tangan. Berharap Maria dapat mencapainya.
“CELLIN!!!”
Maria pun semakin menjauh, hingga akhirnya terbawa oleh kegelapan.
“Ini semua... salahku...”
“Tidak-tidak-tidak.” Menggeleng.
“Aku harus menemukan Maria, bagaimana pun caranya.”
Dengan tekad yang kuat, aku memutuskan untuk mengejar Maria.
“Kau ingin mengejarnya?”
“Tidak semudah itu.”
“Kaki mu telah aku kunci untuk sementara seperti itu. Atau bahkan sampai aku memakan mu?”
Ucapan yang terdengar creepy dan hanya ada di film horor modern yang pernah aku dengar kini ada di hadapan ku.
“Kau siapa sebenarnya?”
“Kau akan tahu setelah melawan bawahan ku.”
“HAHAHAHA!”
‘Itu adalah bayangan yang persis saat kami memutuskan untuk kemari. Ternyata bawahannya?’ Batin ku merasa terperangkap. Jika memang tujuan atasannya adalah untuk membuat siapa pun yang penasaran dengan bayangan tersebut dan rumah ini... Kemungkinan besarnya ialah jebakan, bahkan aku sudah terjebak karena rasa penasaran.
Kalau dipikir-pikir sudah berapa banyak korban nyawa yang kehilangan disini?
Bawahannya tidak terlihat di udara, namun terlihat melalui pantulan kolam darah dengan bantuan remang-remang cahaya di atas bolong nya genting.
‘Seperti nya akan menjadi sulit, tapi aku tidak dapat pesimis terlebih dahulu.’
Aku menghembuskan napas panjang, karena kaki ku di kunci dengan kekuatan asing dari pemilik suara, maka aku hanya bisa melawan dengan kekuatan fisik. Aku menaikan lengan pakaian ku. Dengan sigap aku merasakan kehadiran tak kasat mata.
Puk!
Kena sekali.
Prak!
Kena dua kali.
Sring!
Srett.
“.....”
“Bermain senjata rupanya.” Aku mengerucutkan bibir, merasa tidak adil. Namun demi menyelamatkan Maria yang memiliki aura yang sama dengan pemeran utama wanita, kenapa tidak? Lagi pula Maria adalah teman pertama ku di dunia novel ini.
“Huff.” Sigap aku menatap kolam darah, dan menentukan strategi dimana dan kapan aku harus memukul bawahannya itu. Bawahannya menyerang mengenakan pisau kecil, dan hanya akan menyerang dengan berputar balik.
Sungguh bodoh.
Puk.
Prak.
Duakkk.
Sreett.
‘‘Ah... tanganku berdarah.’’ Goresan besar hinggap di lengan tangan ku, dengan darah yang mengalir deras. Aku merobek bawahan pakaianku, dan menggulung nya ke lengan yang berdarah.
10 menit kemudian.
Aku yang telah kehabisan tenaga mulai melemah, dan tidak siap tanggap. Banyak sekali robekan dari pakaian, dan goresan yang bercucuran darah kental. Menyatu dengan kolam darah.
Bayangan tersebut dapat menggores kaki ku yang bahkan ada didalam kolam darah.
Kaki ku yang masih terkunci, membuat kaki ku yang lelah berdiri terus menerus berbunyi Krekk.
“Jika terus seperti ini aku akan kalah.” Gumam ku yang sudah mulai kehilangan kesadaran. Tak lama, aku melihat senyum gigi pepsoden di tengah kegelapan.
“.....?”
Tuk.
BYURRR.
Ah, kaki ku kembali normal!
Namun naas aku terjatuh dengan tidak berdaya di kolam darah dan mengapung diatas bau anyir yang tidak sedap.
‘Ini... kenapa rasanya aku seperti merasakan energi asing?’ batin ku yang merasa bahwa kesadaran yang hampir menghilang pulih kembali sedikit demi sedikit.
Rasanya kolam darah tersebut mulai menyurut.
“Jangan-jangan...?”
“APA?!! Kenapa darah para manusia bodoh yang aku kumpulkan dengan susah payah mulai menghilang??!!” Suara tersebut tampak sangat marah dan tidak terima.
Dengan seringaian kecil, aku mulai memahami kekuatan dari Celliana asli. Bahkan setelah terjatuh dan bermandikan darah, luka-luka goresan mulai menghilang.
Kekuatan Dewi Darah memiliki banyak macam kegunaan dan manfaat. Bahkan aku tidak tahu dari mana Celliana memiliki kekuatan ini.
“GROOOARRRRR!!!”
[Bersambung!]
Assalamualaikum/shalom semuanya, balik nih author xD wkwkwk setelah sekian lama gak update, rencananya mau up pas udah selesai ulangan alias libur, tapi gak ada libur akhir tahun ini, jadi gk mungkin kan author lanjut pas Januari, yah lagi-lagi author gk nentu updatenya, karena hal lain.
Maaf kan author yak, lumayan yang minta lanjut, karena author tak tega jadi up lah setidaknya 1+
Salam hangat tangan author AnnaOne!
Note: Btw, sketsanya hasil jiplak, author gk bisa gambar (kecuali pakaian/muka) xD ini author jujur jadi jangan ada yg komen tentang sketsa nya.