
“Apakah aku harus bangun dan turun ke sana?” Gumam ku ragu-ragu, jalur menuju kebawah itu sangat gelap. Kaki ku pegal, malas untuk berdiri.
“Too~... long...”
Tiba-tiba, samar-samar terdengar suara seseorang meminta tolong.
“Maria?”
Tidak, suara itu bukan milik Maria, dari suara tersebut terdengar lebih dari satu orang. Apakah orang-orang yang kemari dikurung disana?
Merasa bahwa mereka membutuhkan pertolongan, aku dengan cepat kembali bersemangat nan bertenaga, Tuk, tuk, tuk. Aku menyusuri tangga tersebut.
5 menit kemudian.
“Gila, sepanjang ini kah?” Aku menggaruk kepala ku, suara-suara tersebut semakin terdengar dengan cukup jelas. Aku berlari dengan hati-hati, takutnya terguling di tangga.
Bisa-bisa mati dengan konyol. Para pembaca pasti tidak akan mengampuni ku.
“Hmm...”
Tak lama, aku menemukan sebuah obor, yang menyusuri tangga tersebut, sebelumnya hanya satu per satu di setiap beberapa meter. Aku mengambil salah satunya, “Kenapa aku tidak melakukan ini sebelumnya?” aku menggeleng pelan dan melanjutkan perjalanan.
Seperti yang ku duga, kita sampai pada akarnya.
Bunyi gergaji terkikis, bau anyir yang membuat rasa mual, tangan-kaki-jari-mata-otak-jantung dan bagian-bagian lainnya berserakan di seluruh ruangan tersebut.
“......”
Seharusnya aku tidak melihat adegan menjijikan ini.
Sebentar, bagaimana kalau Maria disini? Lalu sudah di potong-potong dengan bunyi gergaji tersebut?
Ketakutan menyelimuti ku, walau aku tidak terlalu mengenal Maria, namun dia adalah teman pertama ku.
Setelah bergulat bodoh dengan pikiran, aku akhirnya tersadar bahwa ada sangkar besi yang berisikan manusia-manusia kurus.
Disana aku mendengar suara jeritan mereka yang bahkan kehilangan suara nya.
‘Apa ini termasuk ulah serigala iblis itu juga?’ batin ku menjerit.
Sepertinya orang-orang pemegang gergaji ini... Bukan bawahan nya deh, berbeda sekali dengan penampilan sang bawahan serigala iblis yang mengenakan jubah hitam.
Tanpa berbasa-basi aku langsung menggunakan kekuatan darah, aku akan menguji keefektifan nya.
Ini akan mudah karena mereka hanya bertiga.
Aku mengarahkan kedua tangan ku kearah dua orang tersebut, secara tidak bersamaan sensasi aneh mengalir dan CRASSHHH mereka meledak dengan sendirinya.
“.....?”
Bahkan merapal mantra nya saja belum aku lakukan. Kurasa ini bukan ulah ku deh, lalu siapa? Emangnya disini ada siapa lagi selain diri ku dan para korban?
Entah lah, mungkin mereka memakan sebuah Pill, saat merasa terancam mereka akan menggigitnya dan meledakan diri.
Satunya masih sibuk dengan memakan daging segar yang bahkan aku tidak tahu kapan ia memotongnya.
“......”
Sekali lagi aku mengarahkan tanganku, sensasi aneh terasa lagi, dan CRAAASSHHH.
Meledak.
“......”
Apakah ini terlihat seperti kebetulan?
Kurasa ini adalah efek dari kolam darah yang menyerap ke tubuhku.
“Luar biasa.”
Tanpa lama, aku langsung menghancurkan gembok tersebut dengan gergaji yang di pakai oleh orang-orang berlumuran darah sebelum nya.
Saat mereka semua sudah terbebaskan, aku mulai mengevakuasi kan mereka semua, apakah ada yang terluka lebih dari kekeringan. Ternyata semuanya mengurus, seperti kehabisan darah dan protein.
Dari sini aku melihat Maria yang masih sehat bugar, “Hufftt... Maria!” Aku memeluk Maria dengan erat, ia membalas pelukan ku dengan gemetaran.
Aku melepaskan pelukannya dan berbalik menatap ke mereka semua yang rata-rata adalah laki-laki.
“Bagaimana menurut mu Maria?” Tanya ku kepada Maria, walau pun Maria tidak setuju aku akan tetap merawat mereka semua.
Maria menganggukkan kepalanya cepat, “Tentu saja, aku iba kepada mereka. Aku sempat terkejut karena dibawa kemari dan langsung melihat adegan seperti ini...” Mata Maria terlihat sembap. Dia lebih lemah dari ku, sepertinya sih.
“Te-terima kasih... a-aku tidak akan menyangka... akan di selamat kan setelah 3 bulan disini....” ucap salah satu perempuan dengan manik biru muda, bersurai pirang pendek.
Mata ku membola, “Hah? 3 bulan? Kukira baru-baru ini. Bagaimana cara kalian bertahan selama itu?” tanya ku terheran-heran.
Perempuan bersurai pirang itu pun berkata, “Se-sebelum itu... Perkenalkan nama ku... Sarah Gebridan...” ucap gadis itu terbata-bata, dengan kondisi mereka yang seperti ini kurasa tidak cocok untuk bertanya terlebih dahulu.
“Baiklah Sarah, em... Bagaimana kalau kita keluar dari sini terlebih dahulu?”
Mereka mengangguk senang dan bahagia, akhirnya terbebas dari sangkar.
***
Swuusshhh.
“Su-sudah selama ini... aku tidak menghirup udara segar....” ucap salah satu gadis bersurai merah panjang, dengan manik hijau tua.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu!” Maria tersenyum berseri kepada kumpulan korban.
Korban-korban tersebut terdiri dari 7 orang, 5 orang laki-laki, dan 2 orang perempuan.
“Anu... terima kasih banyak Nona...” Mereka semua menundukkan kepala kearah ku, untung saja wilayah di sini sepi, jadi tidak akan menjadi pusat perhatian.
Aku hanya tersenyum kecil membalas mereka.
“Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita menyewa rumah sederhana? Kurasa disini ada yang menjualnya, jika kalian tinggal di penginapan orang-orang disekitar sana akan heboh dengan rupa kalian.” Tutur kata ku dengan sok bijak, tapi ada benarnya.
Maria mengacungkan jempolnya, “Benar, rupa kalian sangat tidak ramah lingkungan, ini akan memicu rumor aneh.” tanpa perasaan Maria mengucapkannya tanpa jeda.
Mereka tersenyum kikuk mendengar ucapan Maria, yang memang menjadi fakta.
“Bisakah kalian menunggu sebentar disini?” Mereka saling menatap ragu, “Aku akan mencari tempat menyewa.” lanjut ku yang membuat mereka mengangguk.
“Kalau begitu... Maria tinggal.”
Tanpa berlama-lama aku berlari dengan secepat kilat meninggalkan mereka semua yang kelelahan dan rapuh.
Maria baru saja akan mengajukan diri untuk ikut dengan ku, namun diriku sudah pergi menjauh duluan. “Sudahlah! Kuharap kalian masih kuat, mari duduk dulu.” Mereka pun duduk.
Swuuushh.
Sekarang aku berada di dekat desa sebelumnya, aku dengan berani menanyakan satu per satu warga yang masih berkeliaran di siang hari nan terik ini.
Mereka semua menatap ku dengan tatapan ngeri, aneh, dan konyol secara bersamaan.
Saat itulah aku sadar, akan pakaian ku yang robek dan darah yang kering.
Aku tersenyum pasrah, sadar akan situasi aku memutuskan untuk kembali ke penginapan sebentar untuk memperbaiki diri.
Sesampainya di penginapan sebelumnya.
Orang-orang mulai menatap diriku aneh lagi, sepanjang perjalanan pun begitu. “Haaah...”
Dengan cepat aku meleset ke dalam kamar. Mengeluarkan pakaian yang ku simpan di dalam cincin penyimpanan, Ssiing. Cincin itu mengeluarkan bunyi yang samar-samar tiba-tiba, aneh sekali.
Aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu se' wangi-wangi mungkin dan SIAP.
Aku duduk ditepi ranjang, memandang ke arah langit-langit siang hari yang panas, “Seharusnya mereka tidak kepanasan kan?”
Tiba-tiba aku teringat dengan 2 kotak kecil dan selembar kertas kosong itu, oh dan tentunya tubuh serigala iblis tersebut!
Bagaimana kalau ada yang jalan-jalan atau tersesat dan tidak sengaja menemukan mereka berdelapan? Dan bahkan masuk ke dalam rumah tersebut?
Pasti akan menjadi gempar!
[Bersambung!]
Update lagi nih maaf kalau gk jelas, author sedang berpikir biar gk kaya dulu.
Salam hangat author AnnaOne!