
“Ayolah Cellin, aku ingin lebih. Bagaimana kita ke toko kosmetik? Katanya ada produk baru.” ucap Maria menggeledah kantung dress ajaib nya dan mengeluarkan secarik kertas putih dengan ilustrasi bedak pemutih. Tertulis juga harga nominal!
Astagah, 250 koin emas? Lebih baik pergi membeli cincin! Sialan.
“Kenapa wajahmu geram begitu?” tanya Maria memiringkan kepalanya.
Aku menggeleng, “Harga yang sangat tidak cocok untuk sebuah kosmetik biasa.” ucapku sembari memainkan tas belanja.
“Terserah saja.” Maria memalingkan wajahnya dariku, lalu ia mulai berlari dengan memegang tanganku lagi menuju tempat kosmetik itu.
‘Aku menyesal bertransmigrasi.’ batinku menangis tertekan.
***
1 jam kemudian.
Maria sudah memilih banyak kosmetik, mulai dari gincu (lipstik), bedak wajah, blush on yang setiap produk hanya ada satu warna yaitu merah muda (pink). Kecuali bedak wajah, tidak mungkin berwarna merah muda. Lanjut, pensil alis namun mereka menyebutnya pembuat alis alami. Aku yang mendengarnya saja hampir terbatuk, namun dapat dibenarkan sebutan itu.
“Nah, mari kita pulang.” ucap Maria yang sudah bercucuran keringat. “Disana itu sangat lengkap untuk sebuah kosmetik!” lanjutnya Antusias memberikan jempol dua kepada toko kosmetik tersebut.
‘Ya iyalah.’
‘Tunggu, pulang? Apakah ia memiliki rumah di sini?’ batinku mendelik.
Maria menyenggol lengan ku, “Aku memiliki batu teleportasi, jadi mari kita gunakan di tempat yang sepi.” bisik Maria pelan, agar orang-orang sekitar tidak mendengar.
Aku hanya mengangguk, dan kami pergi ke tempat yang sepi. Melewati banyaknya kerumunan orang-orang yang menjengkelkan. Dan sampai.
“Tunggu, sebelum itu aku ingin memasuki barang-barang ini ke cincin dulu.” ucap ku memasukan seluruh barang belanjaan ke cincin penyimpanan.
Maria juga sempat menitip barang-barangnya, bisa dibilang kami mencampurkan seluruh barang milik kami ditempat yang sama, sehingga tercampur aduk.
Aku memiringkan kepalaku, bertanya ”, Kesepakatan apa?”
“Barang mu, adalah barang ku.” lanjut Maria dengan nada yang agak sedikit tidak enak di dengar.
“.....”
Dengan malas aku hanya mengangguk, dan kami pulang ke sebuah Mansion kecil yang sepertinya milik Maria memang. Pantas saja ia berlagak, seolah-olah memiliki rumah disini.
***
Burung berkicau saling menebar pesona di pagi hari. Orang-orang ramai berjalan ke sana-kemari untuk berbelanja sesuai kebutuhan mereka.
Sedangkan seorang gadis dengan kulit putih bersih dengan rambut coklat, bermalas-malasan di kasur enggan untuk pergi bangun.
‘Kasur yang empuk ini, aku merasa familier.’ batinku merasa nyaman berbaring diatas kasur yang satu ini.
Ngomong-ngomong Mansion yang terlihat dari luar kecil, namun dari dalam luas dan besar apakah terbuat dari sihir ya.
Didalam novel tidak dijelaskan tentang hal ini juga, mengapa banyak sekali lubang-lubang kecil yang ada pada novel ini. Tapi wajar saja mengingat novel ini hanya tertuju pada kisah cinta segi tiga.
Aku bangun dari kasur dengan cepat, “Aku tidak boleh melupakan kematian Celliana asli dalam novel!” gumam ku berusaha tenang. Kenapa harus terpikirkan sekarang sih, lagian kematian ku juga 20% sekarang. Karena aku akan segera berteman dengan pemeran utama wanita.
Aku memohon kepada dewa, segera pertemukan aku dan Maria, eh tidak maksudku Trivia Ywille pemeran utama wanita.
[Bersambung!]
Gak ada ide😆 Otak author lemot gais, maaf 'yeah✨