The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 44 (S2)



Alat tersebut mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, dengan terpaksa aku menutup mataku.


Dan yang bodoh lagi,


“He-hey! Lepaskan tanganmu, kurasa MANA mu akan habis. Itu akan menyebabkan diri mu berumur pendek!” ucap gadis itu dengan wajah panik. Tentu saja aku yang mendengar hal tersebut merasa kaget. Buru-buru aku melepaskan MANA yang akan mengalir kembali ke dalam alat tersebut.


“Su-sudah.” aku cengengesan, kurasa umur ku benar-benar di takdir kan pendek, deh.


Gadis itu menghela napas panjang, “Hm, lebih baik ku cek dulu,” gadis itu pun mengecek alat tersebut, ia melihat total MANA yang aku keluarkan untuk alat tersebut. “Ini... kelebihan, kurasa sebagai gantinya ambil lah sekiranya 20 botol ramuan tingkat tinggi lagi.” Gadis itu menatap ku.


“Eh, yang benar?” Dengan gercep aku segera mengambil botol-botol secara acak tanpa mengetahui efek dari ramuan tersebut. Karena aku berpikir, ‘mungkin saja bisa ku ketahui melalui buku.’


.


.


.


Dengan begitu aku pulang dengan membawa banyak ramuan untuk anak buah ku.


Aku menyuruh mereka meminum potion dengan warna merah. Tentu saja mereka shock, dan bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan ramuan tingkat tinggi ini?


“Tentu saja aku membelinya.” jawabku jujur, jika tidak jujur masa aku berkata kepada mereka "sebenarnya aku bisa membuat ramuan," impossible! Yang kutahu Celliana hanya mempunyai kekuatan darah saja.


“Ini benar-benar berharga, pasti mahal.” Ungkap Sarah dan mereka semua mengangguk setuju walaupun ada diantara mereka yang hanya terdiam sembari menatap ramuan itu.


“Ya, sebaiknya kalian minum jika ada reaksi yang tidak menyenangkan tolong panggil aku, aku selalu berada di kamar.” ucap ku dan segera meninggalkan mereka di ruang tengah, dan kembali ke habitat ku, yaitu kamar.


Drap


Drap


BRAAKK.


Aku menutup pintu kamar dengan sangat kencang memastikan bahwa tak ada satu orang pun yang bisa membuka pintu ini. Karena saat ini tubuh mereka melemah, jadi kurasa ini bisa memakan waktu sekitar setengah jam untuk mereka kembali pulih.


Sedari perjalanan pulang tadi, aku melihat anak muda yang berbicara ngawur tapi memang benar.


Ia berbicara seperti ini, "nona, aku yakin anda berasal dari tempat yang jauh dan bukan disini. Mungkin saja saya bisa membantu anda." Ia berkata seolah-olah ia adalah Dewa di dunia ini. Sekarang saja aku belum memulai mencari 10 hewan mitos yang diberikan Dewi Paus Delioxe.


Aku masih ingat Dewi Paus berkata, “Aku ingin menunjukkan mu sesuatu, yang akan menjadi awal dari perjalanan hidup mu!” dan juga, “Kau akan segera menjadi seseorang yang berpengaruh dimasa depan, bila kau mengikuti kata-kata ku. Dan mendapatkan ke 10 (sepuluh) hewan mitos ini.”


Tapi kurasa tak ada salahnya berbincang-bincang dengan anak muda itu, jadi aku memutuskan untuk mencarinya. Mungkin saja dia bukan Dewa, tapi peramal.


.


.


.


Sekarang, tepatnya 2 hari telah berlalu sejak aku memutuskan untuk mencari anak muda itu, namun aku tidak menemukannya di mana pun, maksudnya di desa ini.


“.....”


Kurasa anak muda itu benar-benar telah pergi jauh dari sini, seolah-olah dia tau bahwa aku akan mencarinya dan mencoba untuk melarikan diri agar aku terus mencarinya. “Hmph... aku malas, kalau benar dia bisa melihat masa depan sesuai ekspektasi ku coba lihat lah wajah sedih ku ini, sialan.” Aku menghempaskan tubuhku ke rerumputan. Sekarang aku sedang menyantai di gunung dengan sinar matahari yang cerah.


“Huhuhu, adem banget. Kapan lagi aku bisa merasakan rasa sunyi, hangat, dan nyaman ini?”


Sudah 2 hari berlalu, tapi aku tidak melihat tanda-tanda anak buah ku mencari ku. Mungkin mereka mengira aku mengurung diri? Atau bunuh diri ya? Entahlah. Mungkin mereka punya alasannya tersendiri.


Karena aku sudah berada di gunung, kenapa aku tidak langsung mencari salah satu hewan mitos itu sendiri, ya?


Nanggung sekali rasanya.


Sekarang aku berada di gunung Fusha. Gunung yang dimana hewan mitos tersebut berdiri, Serigala Api Murni.


Ia menyukai daging dan buah spiritual, kebetulan aku sudah menyiapkannya. Aku tidak mengerti maksud dari kata menaklukan tapi aku akan berusaha.


Awalnya aku mengira bahwa perjalanan untuk menaklukan Serigala Api Murni akan sangat merepotkan, tapi...


.


.


.


Setelah menelusuri cukup dalam gunung Fusha yang di tutupi oleh banyak pepohonan yang rindang, aku hanya menemukan 2 butir besar telur yang bergoyang-goyang.


“Telur apa ini? Apakah ini anaknya ya?” aku mencoba berpikir namun kurasa tidak ada gunanya. Karena yang kulihat di kertas tersebut hanyalah bentuk dari sosok Serigala Api Murni.


Lagian, masa iya seekor serigala terlahir dalam bentuk cangkang?! Mustahil bukan?


“Hm... aku lagi malas buka kertasnya, tapi aku simpan dulu deh.” dengan begitu aku memasukannya kedalam cincin penyimpanan, dan melanjutkan perjalanan.


Tak lama, aku menemukan sebuah goa bawah tanah berserta papan berwarna merah yang bertuliskan kata 'BAHAYA' karena jiwa penasaranku terus menerus bergejolak walaupun otak ku sudah traveling kemana-mana aku memutuskan untuk masuk.


Goa itu memiliki tangga yang panjang dan agak sempit, tapi semakin menelusuri kebawah semakin lebar, disertai dengan obor yang menyala, bukan kah aneh kalau gunung ini tidak ada penghuni tapi apinya tetap menyala?


“Kemungkinan besar hewan mitos itu berada disini!” aku tersenyum sumringah, mungkin saja goa ini adalah rumahnya.


“.....”


Setengah jam kemudian.


“.....”


“Ak-aku capek...” ucap ku yang sudah hampir kehabisan tenaga. Dengan begitu aku duduk sebentar dengan menyandarkan tubuhku ke arah tembok dari goa itu. Aku meminum air putih yang masih ada di dalam cincin penyimpanan, serta beberapa makaron yang masih terlihat bagus.


“Hmm, enak sekali. Harusnya aku membeli sepotong daging babi panggang dan steak sapi sebelum kemari.”


Memikirkannya saja sudah membuat diriku ngiler.


Tanpa menunggu lama-lama lagi aku menyimpan yang tersisa, dan kembali untuk turun lebih dalam.


.


.


.


Setelah 1 jam lebih tidak sampai juga, akhirnya sampai pada bagian akhir.


“Panjang banget, gak tahan!” Setelahnya aku melemparkan tubuh ku sembarangan, saat terinjak rasanya empuk, apalagi direbahkan?


“Kangen kasur ku.”


Hampir saja aku menutup kelopak mataku, jika saja suara seseorang tidak terdengar mungkin aku sudah mati dalam keadaan tidur.


“Grrrr, siapa kamu?”


Aku dengan sigap buru-buru bangun. “Kamu yang siapa?!” Kaget? Tentu!


Tiba-tiba saja aku merasa tempat ini bergetar. Bukan, bukan ruangan ini, tapi yang aku pijak!


Aku terpental begitu saja saat sosok empuk itu menampakan wujudnya. Besar, bulu-bulu yang cerah seperti masa depan, disertai warna Oren dengan putih pada bagian tertentu, mata nya bersinar seperti warna api.


Ialah sang Serigala Api Murni, penguasa gunung Fusha dengan populasi 3%.


“Pertemuan dengan cara tidak elite.” cicit ku takut, bukan berarti aku takut.


[Bersambung!]


Follow follow your heartbeat~