
Sudah berhari-hari lamanya aku tak bertemu lagi dengan Lezarus, sang antagonis terkuat yang dapat menaklukan pemeran utama wanita dan semua wanita.
“Haaa~” lagi-lagi aku menghela nafas, entah sudah berapa kali aku menghela nafas sejak kejadian itu.
“Apa yang harus ku lakukan dengan tubuh sekecil ini?” aku rasanya ingin kabur dari Istana Glowne untuk kedua kalinya lagi!
Apa kalian masih ingat dengan Chena, pelayan nya itu? Ia terlalu memperlakukan ku dengan cara istimewa, sampai aku yang merasa terbebani dengan hal itu.
Tok
Tok
Tok
“Nona~” suara wanita yang tak asing berada dibelakang pintu kamar.
‘Suara ini ...’ wajahku seketika pucat, aku pun dengan segera mengambil jaket yang seukuran tubuh kecil ini. Jaket itu tak tebal, bahan nya mudah dicari dan pastinya murah. Terbuat dari kulit domba.
Aku menuju jendela kamar yang tak jauh dari ku. Disana, beberapa hari yang lalu, aku sudah menyiapkan kain yang kuat untuk membantuku kabur melalui jendela. Dan kain itu berasal dari pakaian-pakaian dress milik Celliana asli yang entah berapa harga nya, tetapi aku Vivana Feelnea tak perduli.
“Here we go!” ucapku dengan semangat, aku sudah tak punya pilihan lain.
Aku pun mulai mencoba turun secara perlahan di kain itu. ‘T-tinggi banget!’ batin ku berteriak histeris. Aku baru sadar, kalau kamarku di istana Glowne sangat tinggi.
Padahal istana termiskin, tapi bangunan nya seperti kaya.
5 menit sudah berlalu, dan akhirnya aku berhasil kabur dari kamar. Tapi, belum tentu aku bisa kabur dari lingkungan istana Glowne?
Aku benar-benar sudah dibuat gila oleh Chena sialan! Ingin rasa nya aku mengutuk wanita itu menjadi monyet bodoh, tapi ini bukan saatnya mengutuk seseorang.
Sekarang aku sudah memijakan kaki ku di rumput hijau yang luas, untuk kedua kali nya untuk kabur, seperti lapangan bola di dunia ku dulu.
“Aih...” kalau dipikir-pikir lagi, semisalnya aku kabur apakah ada yang mencariku? Tidak ada kan?
“Baiklah, Dewa matahari mohon bantuan mu!” ucapku dengan semangat api membara. ‘Aku pasti bisa kabur.’ lanjutku dalam batin.
Tapi sepertinya aku tak menyadari nya. Dan itu membuktikan bahwa aku cukup bodoh.
Aku teringat sesuatu!
Aku berbalik, dan melihat kain yang menjulang tinggi itu. Seperti nya aku harus menarik kain itu keluar, jika tak ingin ketahuan kabur oleh Chena.
***
Sementara Celliana sedang kabur, maka Chena sedang menunggu di depan pintu. Andaikan Celliana tahu, bahwa Chena menunggu nya di depan pintu kamar, pasti ia akan tertawa terbahak-bahak.
Chena saat ini sedang duduk membelakangi pintu kamar, “Apakah gadis kecil itu sakit?” bingung Chena, ia sudah memanggil nama Nona Celliana, namun ia tak kunjung mendapatkan respon selama 5 menit lebih.
“Jangan berharap untuk gagal.”
“Kalau tak ingin mati.”
Chena seketika bergidik ngeri saat mengingat ucapan 'orang itu'. Chena sebenarnya bingung, mengapa 'orang itu' ingin sekali melukai Celliana.
Seolah-olah 'orang itu' memiliki dendam masa lalu dengan Chena, entah prediksi nya benar atau tidak.
Tapi ia harus melakukan nya demi keselamatan dirinya sendiri, ia tak ingin menderita hanya karena satu orang.
[Bersambung!]
Hai hai smuanya, maaf kalau berbelit-belit, gak nyambung dan sebagai lain nya. Karena author sedang mencari inspirasi nih, dan diinfokan kalau update nya 2 hari sekali tak apa kan?
Hmm, kalau tak setuju juga tak apa sih author fine fine aja😗 hehe, kalau begitu gaes sampai jumpa esok hari.
Salam hangat AnnaOne,