
Tapi Heyna sempat meninggalkan pesan, “Sepertinya kau adalah anak yang beruntung, tidak mati karena telah menginjakkan tanah di istana Glowne.” ujarnya sebelum akhirnya benar-benar menghilang.
Hm, kalau dibilang beruntung sih tidak. Karena di dalam cerita pun Celliana masih diperbolehkan tinggal di istana milik Lezarus, sampai Celliana berumur 12 tahun.
Mungkin karena Lezarus ingat wasiat Ibunda 'nya?
“Mending aku mencari udara segar saja.” aku melangkah kan kaki ku dengan cepat, agar cepat juga keluar dari istana ini. Lama sekali sejak aku bereinkarnasi, tak pernah keluar dari kamar, paling hanya bersandar pada kursi didekat jendela kamar dan memandangi luasnya lapangan rumput di istana Glowne.
***
1 jam kemudian.
“Hosh... hosh...”
“Melelahkan!” teriakku dengan volume keras. Aku tidak memperdulikan sekitar lagi, lagian juga di istana tempat Lezarus dan aku tinggal tak ada pelayan seorang pun.
Terkecuali saat aku masih bayi sampai beranjak usia 5 tahun, pelayan Chane memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pelayan ku. Tidak tahu apa alasannya.
Karena pada umumnya Istana milik Ibunda Lezarus miskin.
Aku melihat sekelilingku yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. “Ini ...?”
Pantas saja udara disini sejuk, ada berbagai macam tumbuhan. Tapi ini tempat apa?
Ahh! Aku ingat sekarang, kalau tidak salah disini adalah taman yang Lezarus sukai. Ia tak suka jika seseorang menginjakkan kakinya di taman kesayangan nya. Jika ada, maka ia akan segera melenyapkan orang itu.
(Note: Taman yang Lezarus sukai berada di Istana Glowne, namanya Taman Roselle.)
“Siapa?”
Suara dingin yang menusuk hingga ketulang-tulang, ‘DEG’ Keringat dingin bercucuran dikeningku.
Aku berbalik dan melihat seorang lelaki yang tak asing dengan surai hitam menatapku dengan tatapan dingin nya.
“Sa-saya?” tanyaku dengan gugup. Aku dapat merasakan aura Lezarus yang mendidih. Akh, mengerikan!
Tuk
Bruk
“Aww!” ringisku sakit.
Aku terjatuh disaat berdiri tadi, entah bagaimana bisa aku terjatuh. Apa jangan-jangan ini adalah sihir gelap milik Lezarus? Tidak, ini pasti karena tekanan aura nya.
‘Harusnya aku tidak membuat masalah lagi dengannya, Apa yang harus kulakukan?’ batinku berpikir keras, sambil mengelap keringat dingin yang sedari tadi bercucuran.
“Jawab.” suara dingin itu kembali menusuk sampai ketulang-tulang rusuk.
Aku menghela napasku, ayo santai huft...
Pria mengalihkan pandangannya dariku, “Memang.” ucapnya, kemudian ia berjalan menjauh dari tempatku terduduk.
Secepat itu?!
Tapi apa katanya? Memang? Apa aku benar-benar pengganggu, sialan!
“Ck.” aku berdecak kesal semoga ia tidak mendengar ku.
Aku pun berdiri sembari membersihkan dress ku yang kotor terkena debu tanah. “Akan kubatalkan rencana untuk mencari udara segar.” ucapku sebelum akhirnya meninggalkan tempat aku kesasar.
Yap, aku sendiri tak tahu bagaimana aku bisa kemari.
Lain kali aku harus mencari tahu mengapa Lezarus menyukai taman (Roselle) itu. Bahkan dinovel tidak dijelaskan, memang novel yang tak lengkap. Tapi seru. Bisa dibilang novel ‘Kematian Putri Marquess’ memiliki plot yang berlubang.
***
Hari ke-hari telah terlewati dengan begitu tenang, terkadang saat aku keluar dari kamar, aku sering berpapasan dengan Lezarus, tapi kali ini aku tidak menyapa nya lagi. Aku takut di penggal olehnya.
Aku tak tahu dimana letak yang pasti kamarnya, kamar di istana Glowne ada banyak sekali, mungkin lain kali aku harus me-stalking Lezarus. Tapi kurasa aku akan melakukan hal sia-sia. Lupakan saja.
Sepertinya aku melupakan sesuatu dari seorang Lezarus, tapi ya sudahlah.
Hari ini cuaca sedang hujan, jadi aku memutuskan untuk tidak keluar kamar.
JDERRR!!
Suara petir yang besar membuatku ketakutan setengah mati, sebenarnya bukan jiwa ku yang ketakukan akan petir, namun raga Celliana asli yang ketakutan dengan petir.
“AAAAA!!” teriakku histeris sambil sesegukkan.
“Hiks...”
Dalam novel “Kematian Putri Marquess” dijelaskan bahwa pemeran figuran Celliana Anvele Lagronvi sangat ketakutan akan petir, maka sebaliknya dengan kakaknya yang seorang pemeran utama pria antagonis, ia membenci petir. Namun bukan berarti pemeran antagonis itu takut dengan petir, ia sangat tak suka dengan bunyi berisik dari petir.
Aku meringkuk kedalam selimut yang tebal itu, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa takut itu.
[Bersambung!]
Hello! Semoga suka ya dengan ceritanya, dan maaf jika berbelit-belit... aku juga bingung harus nulis apaan:v (belum makan jdi otak gk jernih).
Hehe sekali lagi aku minta maaf, jangan lupa tinggalkan Like, komen, favorite serta ratingnya ya~.
Oh ya, nanti malam bakal up lgi hhe. Sampai jumpa malam nanti semuanya :D
Salam hangat tangan AnnaOne🖐✨