
Oke, jangan menghina ku karena tubuh ini pendek.
Chena pun minggir dari depanku, dan seketika wajah lelaki tua itu tampak tersenyum ceria, sampai ada efek bunga.
Sedangkan wajahku, hanya datar.
‘Ingin sekali, rasanya berteriak dan membantai kakek tua encok itu!.’ batinku kesal dan geram bercampur aduk menjadi satu.
Yap, seperti dugaan awal kalian lelaki tua yang dimaksud sang author ialah kakek tua encok yang bahkan aku tak tahu namanya siapa.
“Akhirnya kau datang juga, aku sudah lama menunggu mu! aku hampir setengah jam lebih harus duduk di sofa kasar ini!.” kakek itu mengomel karena sofa itu kasar, mentang-mentang berkualitas rendah bisa seenaknya kakek tua encok sialan ini mengomel.
Huh, untung saja aku bukan pemilik istana Glowne ini, mungkin sudah ku tendang keluar kakek tua itu!
“Ah, maafkan istana kami yang serba berkualitas buruk ini.” ucapku sok ramah. Karena aku masih kecil di kehidupan kali ini jadi pasti orang-orang tak akan bisa menangkap ekspresi kejujuran dari anak kecil dengan mudah kan. Apalagi pemikiran anak kecil.
Kakek itu memangut-mangut jenggot putihnya, lalu ia berkata “Kakek yang sudah tua ini ingin membantu sedikit.” ucapnya, “Aku akan berkontribusi terhadap istana kualitas buruk ini.” lanjutnya dengan diakhiri tegas.
Aku tak menduga bahwa kakek itu ingin berkonstribusi dalam istana Glowne. Dalam novel tak dijelaskan adanya kontribusi di istana miskin ini.
“Apakah kakek ini adalah orang terhormat yang kaya, dan ingin membantu mendekorasi kan ulang istana miskin ini? tapi ... kenapa?” tanyaku bertubi-tubi dengan penasaran, aku harus tahu apa alasan kakek itu.
Kalau kakek itu ingin berkontribusi terhadap sebuah istana yang bagiku luas dan besar, tandanya ia orang mampu pastinya kaya.
“Tanyakan satu per satu, kakek ini sudah tua.“ ucap kakek itu dengan wajah memelas.
Em, apa hubungannya dengan 'tua'?
“Langsung ke intinya.” ujar ku menatap kakek itu tajam, walau tak berefek sedikit pun tatapan itu terhadapnya.
Kakek itu awalnya terkejut saat melihat ekspresi anak kecil yang berbeda dari seusianya, dalam sekejap keterkejutan itu lenyap. “Jadi...” kakek itu melihat sekelilingnya, “Bisakah kau menyuruh pelayan mu itu untuk keluar gadis muda?” bisik kakek itu pelan.
Apakah pertanyaan ku tadi terlalu rahasia bagi kakek itu? Ah, entahlah.
“Chena, bisakah kau keluar sebentar. Jika pembicaraan ini telah selesai, akan aku panggil.” titah ku pada Chena yang masih berdiri di dekat pintu tertutup.
‘Oh wow, jadi nama kakek itu Hermos? Eh salah, bukankah itu marga ya? Aku sebelumnya tidak pernah mendengar nama itu didalam novel aslinya, entah akan sebanyak apa hal mengejutkan yang akan terjadi dimasa depan.’ batinku berpikir serius, dan buyar saat mengingat tujuan.
“Langsung saja ke intinya.” ucapku untuk kedua kalinya.
“Baiklah,”
“Pertama-tama kakek ini bukanlah seorang bangsawan yang terhormat, hanya memiliki jalur koneksi terhadap para pebisnis disini.” Jawab kakek itu serius. “Tentu aku ingin membantu. Alasan mengapa kakek ini ingin membantu, kurasa tak ada.” lanjut kakek itu.
“Maaf?”
“Apakah kakek ini salah berbicara?” tanya kakek itu kebingungan, banyak sekali tanda tanya diatas kepalanya.
“Tidak-tidak, hanya saja aneh rasanya jika tiba-tiba ingin berkontribusi tetapi tak memiliki alasan.” jawabku seadanya.
“Baiklah.” ucap kakek itu, ia pun menyesap teh yang entah berasal dari mana.
“Kau memang berbeda dari anak-anak seusia mu!”
DEG!
A-apakah aku ketahuan? Tidak, ini tidak boleh ada satu pun yang tahu, bahwa aku memiliki kehidupan dimasa lalu, dan ini adalah dunia fantasi novel!
“A-apa maksud kakek?” tanyaku dengan gugup, semoga ia tak menyadarinya.
[Bersambung!]
Hai hai hai, balik lagi✨ maaf jika novel ini kurang memuaskan kalian yah. Wajarlah ya, masih pemula. Oke sekian.
I hope u enjoy gaes!
Salam hangat AnnaOne, selalu support novel ini terus yaa, he-he-he.🎉