The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 22 (S1 End)



Swushhh


Tiba-tiba saja angin berhembus sangat kencang, tidak seperti biasanya. “Uhk...” tubuh mungil dan enteng ini pun ambruk begitu saja di tanah. Tak ada seorang pun disini, siapakah yang ingin membantunya?


‘Bagaimana bisa ada angin sekencang ini? Sialan.’ batinku geram, kemunculan angin yang mendadak itu membuatku hampir terbawa angin.


Suasana saat ini adalah aku mencengkram erat tanah dan rumput yang menari, pose kali ini terlihat... aneh? Mungkin karena ini taman dekat istana jadi seharusnya baik-baik saja kan?


Tapi apa yang akan terjadi, apa kah aku akan terhanyut terbawa arus angin lebat ini. Karena mengingat tubuh ini enteng, apalagi aku yang jarang makan.


“Entah kehidupan sekarang atau dulu, sama-sama sial.” lirihku aku memejamkan kedua kelopak mataku. Debu-debu ikut berterbangan di udara yang luas sangat tidak mengenakan jika mataku kelilipan.


“Aaaaaa....!” samar-samar aku mendengar teriakan orang yang ada disekitar taman. Mungkin saja itu para pelayan.


‘Kenapa mereka tidak masuk kedalam istana?’ batinku bertanya-tanya. Lebih baik aku tidak memikirkan hal itu sekarang, karena yang lebih penting adalah hidupku!!


“Hosh... hosh.. hosh...” aku membuka mataku dan menerjap-nerjap ‘Kamar?’ kenapa sekarang aku berada di kamar, bukan kah seharusnya di taman istana Cavron.


Jadi... tadi itu mimpi?


Kenapa mirip sekali, jelas-jelas itu nyata. Apakah aku pingsan ya, makanya tiba-tiba berada dikamar.


Kepalaku berdenyut, “Akh!” aku memegang kepalaku, rasanya seperti akan meledak.


Tak lama kemudian rasa sakit itu menghilang, seolah rasa sakit itu tidak pernah muncul.


“Ini...?” aku tidak bisa mendeskripsikan nya! Apa kalian tahu, apa yang aku dapatkan? Ingatan Celliana Anvele Lagronvi!


Ingatan Celliana dimana saat ia berumur 5 sampai 17 tahun. Ingatan yang tidak ada dalam novel, atau pun side-story Celliana. Aku awalnya cukup terkejut dengan kehidupan sehari-hari Celliana yang tidak pernah diceritakan dalam novel.


Umur 5 tahun, ia hanya bisa memandangi pemandangan dari kaca jendela. Umur 6 tahun, ia mendapati boneka kayu didepan pintu kamarnya dan ia sangat senang karena memiliki teman baru (Viviana: Aku cukup sedih.)


Dan Celliana 7 tahun, ia mendapatkan luka di punggung kecilnya. “Kenapa kehidupan Celliana asli begitu menyedihkan? Di novel pun ia tidak mendapatkan cinta dari sang kakak yang merupakan Tokoh Antagonis. Dan mati tanpa ada seorang pun yang mendatangi makam nya.” setelah mendapatkan ingatan sekilas itu aku mendapatkan beberapa hal penting yang tidak di tulis oleh sang penulis.


“Haaa~” aku menghela napas. Tanpa sadar air mataku mengalir setetes demi setetes. Aku mengelapnya dan berkata “Tenang saja, karena aku sudah berada di raga mu maka masa lalu seperti itu tak akan terjadi lagi, lagi pula umur jiwaku sudah 25 tahun bukan anak kecil lagi.” gumam ku berusaha menyingkirkan pikiran tak jelas masuk.


Seketika aku tersadar sesuatu, “Ah iya, tapi bagaimana bisa aku berada dikamar? Harusnya di taman istana Cavron!” pekik ku aku bangun dari duduk.


Aku memperhatikan sekitar ku, “Hm?” apa tidak salah ya, kenapa pemandangan kamarku berbeda dari sebelumnya. Dan apa itu? aku mendekat kearah meja bundar retak yang sebelum nya tidak ada dikamar. Aku mengambil sesuatu diatas meja bundar itu dan menelitinya baik-baik.


Walau terlihat sudah kusam dan tidak layak dipakai, tapi ini ... Eh??


Boneka kayu?


Ini kan yang ada di ingatan Celliana asli, yang bahkan penulisnya pun tak tahu mungkin. “Kok tiba-tiba ya?” entah aku bertanya pada siapa.


Aku mengusap kedua mataku, apakah tidak salah lihat? Sekali lagi, ternyata ini benar-benar boneka kayu.


Aku pun memperhatikan sekeliling kamar ini, dan menemukan patung mini Dewi Davlen di dekat meja rias tergeletak dengan mengenaskan.


“Apa yang terjadi?” sampai saat ini aku belum menyadari apa-apa. Aku pun mendekati meja rias dan tidak sengaja kedua sorot mataku melihat kaca yang tergantung di atas meja rias itu.


Terkejut?


Tentu saja, aku menutup mulutku tidak percaya. “I-ini apa yang terjadi?!” seketika tubuhku lemas. Kaki ku terasa berat dan akan berakhir jatuh, tapi aku menahannya dan mendekati kaca perlahan.


“...Ini benar... benar nyata?” mataku melotot tidak percaya.


Rambut coklat ku lebih panjang dari sebelumnya, leher yang jenjang dan kaki panjang, tubuh yang awalnya mungil dan datar kini berisi. Mata sayu nan tajam berwarna hijau zamrud ala keluarga Kerajaan Zebren.


Aku memegang kedua pipiku, menepuk-nepuk nya memastikan ini bukan mimpi.


Namun percuma, tidak terjadi apa-apa jadi kurasa ini nyata. Sekarang aku menjadi Celliana Anvele Lagronvi, ah tidak tapi Celliana Anvele Zebren yang sudah beranjak dewasa!


Ini benar-benar mirip sesuai side-story tentang Celliana.


Tapi satu pertanyaan yang membuat ku ingin bertanya, “Kenapa secara tiba-tiba aku menjadi Celliana dewasa, hee!?” Bisa-bisa aku gila tahu!


Suara halus dan lembut terdengar ditelinga ku. Aku menoleh kearah kanan dan kiri, namun tidak mendapati siapa pun, apakah dia itu hantu?


Layaknya Dewa yang bisa membaca pikiran ia berkata, (“Aku bukanlah hantu, perkenalkan namaku adalah Celliana Anvele Zebren.”)


Mataku berkedip, “Hah? Apakah aku tak salah dengar...” aku mengorek telinga ku.


(“Kau tak salah dengar, akulah Celliana yang sesungguhnya. Aku ingin berkata jujur kepada mu, dan Dewa memberiku kesempatan untuk itu.”)


Terasa sekali dari nada orang yang mengaku Celliana asli itu tulus.


Aku mengangguk, jika dilihat oleh orang lain maka akan seperti orang gila, “Ehm, jadi seperti itu? Lalu apa yang ingin kau katakan Celliana Anvele Zebren.” tanya ku kepada Celliana asli yang entah bagaimana wujudnya.


(“Jadi... umur mu saat ini adalah aku yang ke 17 tahun. Aku meminta permohonan kepada dewa untuk mempercepat waktu takdir dunia dan berbicara sebentar pada mu. Dunia kini hampir berada di ambang kemusnahan, aku berharap kau dapat mengubah takdir dahulu ku yang mati dengan tragis itu. Selagi masih belum waktu nya kemusnahan itu terjadi, perkuat kan dirimu! Oh tidak lupa, bahwa aku yang memohon kepada Dewa juga untuk membawakan sesosok jiwa yang bisa menyelamatkan hidupku. Dan itu kamu, benar Viviana Feelnea Gansha?.”)


Aku mendengarnya dengan seksama, dan tentu aku terkejut. Tapi apakah ia tak tahu soal Novel Kematian Putri Marquess? Dan ternyata aku sudah menjadi Celliana yang berumur 17 tahun, tepat ia akan mati. Tapi kenapa belum diusir yah? Harusnya berjalan sesuai alur novel.


Aku kesal saat ia menyebut sebuah marga yang tak ingin ia dengar, “Hey jangan menyebut kata ‘Gansha’ itu.”


(“Haha, maaf. Aku tidak tahu bahwa kau akan sebenci itu dengan keluarga mu sendiri. Tapi keluarga tetap lah keluarga yang sedarah dengan kita, seperti aku yang di nyatakan sebagai anak tanpa bakat dan dibuang dengan kejam.”)


Sekilas aku mendengar nada nya yang penuh kesedihan. Apa yang dikatakan oleh Celliana itu juga benar, sih. “Aku memiliki alasan tertentu, dan berbeda dengan mu.” benar, kehidupan masa lalu ku berbeda dengan Celliana yang hanya dinyatakan tanpa bakat, tapi kehidupan Celliana lebih malang dari pada aku.


“Apakah hanya itu yang ingin kau katakan?” tanyaku terakhir kalinya kepada Celliana untuk memastikan.


(“Belum, masih ada yang inginku katakan.”)


Aku terdiam menunggu ucapan selanjutnya.


(“Berusahalah dekat dengan wanita yang dicintai oleh Kak Lezarus dan Kak Arthur ya... ah sudah tiba waktunya, baiklah untuk sekarang aku tidak bisa berkomunikasi lagi dengan mu. Sampai jumpa Vivi.”)


“Tung---” Padahal ada yang ingin aku tanyakan juga! Tapi dia sudah pergi, secepat itu?


Lebih baik singkirkan dahulu pertanyaan yang ingin ku tanyakan pada Celliana, mungkin nantinya kami dapat berkomunikasi lagi. Entah kapan, jadi aku masih bisa menyimpan pertanyaan itu.


Satu hal yang harus aku usahakan adalah, mendekati wanita yang dicintai oleh Lezarus dan Arthur?


Mungkin kah maksudnya adalah Tokoh utama wanita di novel ‘Kematian Putri Marquess.’ Nona kedua dari Marquess Ywille, Trivia Ywille.


Tapi, apakah aku bisa ya? Waktu itu aku melakukan kesalahan kepada pemeran utama wanita, karena aku tak mengenalinya. Memang sih, di novel ia dideskripsikan sebagai anak yang blak-blakan tapi itu masa kecilnya, sekarang ia berumur? Mungkin 18 tahun, berbeda 1 tahun dengan ku.


Aku tersadar dari lamunan ku, dan dengan segera mengambil patung mini Dewi Davlen yang retak. “Hufft..” aku menghembuskan napas ku, mulai sekarang aku harus membunuh orang jahat dengan kekuatan darah sewajarnya ya?


Ngomongin soal kekuatan, Trivia pemeran utama memiliki kekuatan Batu Murni. Namanya saja yang terlalu aneh, namun kekuatan Batu Murni adalah Batu Kristal yang dingin bercampur panas. Tetapi ia tak menguasainya, mungkin aku bisa membantunya? Dan untuk pendekatan diri dengan pemeran utama wanita!


Karena aku sudah membaca novelnya, walau tidak semua sih. Ada beberapa bagian yang aku lompatkan.


“Baiklah, semangat Vivi kamu pasti bisa!” ucap ku dengan mata terpejam.


Walau aku sedikit terbebani dengan hal ini, lagi pula mengapa Celliana asli melakukan ini? Ia memanggil jiwaku hanya untuk membantu nya hidup dengan bahagia.


Ya, karena aku sudah disini maka aku harus menemukan kebahagiaan ku dan Celliana. Karena sekarang kami adalah satu walau hanya jiwa ku saja yang menepati raganya.


POV Author.


Saat itu Celliana palsu alias Viviana, tidak tahu bahwa kehidupan sesungguh nya baru saja di mulai!


[Bersambung!]


Hai semua, maaf jelek dan agak rusak, ini adalah bagian inti dari novel ini yg sebenarnya... maaf bila banyak kesalahan. Nanti author AnnaOne akan merevisi beberapa bagian Chapter yang menurut author ada kesalahan, nanti ada tulisan (R) tpi kadang juga gak ada sih ;) oke sekian, terimakasih telah mengikuti cerita ini sampai akhir s1~


Tunggu S2 berikutnya ya teman-teman, walau agak sibuk author bakal usahain🤡


Sekian Terima kasih, salam hangat AnnaOne!


(Bdw maaf kalau agk mendadak, karena emg gni niat awal author hhe. Jangan kecewa gais :D)