
Kening ku yang terbentur pun terasa sedikit nyeri dan sedikit kemerahan.
Walaupun empuk, aku tidak tahu hal apa yang menyebabkan keningku terasa nyeri. Mungkin saja dasar kayu pada kursi.
Sekarang aku menyadarinya, kenapa kereta kuda sihir jarang sekali peminatnya. Selain harga yang mahal, tapi juga berisiko!
Angin yang kencang bertabrakan dengan kereta kuda sihir, sehingga menyebabkan kuda sihir tersebut tergoyang atau bisa saja terdapat kejadian tak terduga lainnya. Seperti yang aku alami.
Aku mengigit bibirku. “Sialan.” gumam ku tersenyum kecut. Aku memegang kepalaku yang sudah kembali pada posisi awal.
“Awh, kereta kuda ini abal-abal ya?!” Maria memaki-maki kereta kuda sihir yang menyebabkan keningnya benjol.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali, dan memegang pundaknya. “Sabar lah Maria, kurasa sebentar lagi kita akan sampai.” ucapku menenangkan Maria yang sibuk memaki kusir kereta kuda serta kuda sihirnya.
“Tidak!” Bantah Maria cepat, ia menepis pelan tangan ku yang memegang pundaknya. “Maaf.” cicit Maria ia mengalihkan pandangan matanya ke luar jendela.
“Tidak apa.” aku mengangkat kedua bahuku acuh seolah tidak perduli.
Aku merasa seolah-olah Maria ini mirip dengan pemeran utama wanita. Di lihat dari sisi emosional, yang terkadang berubah-ubah. Namun sepertinya didunia ini yang emosinya mirip seperti itu ada banyak sekali.
Menjelang sore hari, kami berdua sampai dengan selamat menuju perjalanan ke Wilayah Mansion Marquess Ywille. Kami berhenti pada tempat penyewaan kereta kuda sihir yang sepertinya memiliki banyak cabang dimana-mana.
Maria sesekali sebelum meninggalkan tempat sewa kereta kuda sihir, memperhatikan sekitarnya kekiri dan ke kanan. Menghela napas dan kembali berjalan, di ikuti olehku.
...
Sekarang kami sampai tepat di depan Mansion Utama Marquis Ywille. Aku tak bisa membayangkannya, sebesar inikah Mansion orang kaya? Hehehe, tak kalah jauh dengan istana Glowne.
Aku menggeleng ‘Kenapa aku malah terpikir istana miskin itu lagi.’ tapi tidak, aku baru saja ingat bahwa istana yang katanya miskin itu telah menjadi sebuah istana mewah.
Perubahan yang mengerikan.
Bahkan tanpa sang kakek yang membantuku, novel ini akan tetap berjalan sesuai alurnya.
“Haaa.” aku membuang napas panjang, menggelengkan kepala. ‘Percuma saja, tapi kakek itu misteri sekali. Sudah tua tapi masih bisa bergerak aktif.’ batinku penuh tanda tanya.
“Ah ya! Benar!” seru ku memukul kepalaku yang akhirnya mengingat sesuatu.
“Kau kenapa?” tanya Maria memiringkan kepalanya. “Ada masalah?” tanya nya kemudian, aku hanya menggelengkan kepala.
Marga kakek tua yang terhormat itu, kalau tidak salah ingat Chena sialan pernah menyebutkan marganya. “Tapi siapa...?” gumam ku bingung sendiri.
Maria menepuk keras bahuku, “Kau ini kenapa? Kita sudah sampai, mari masuk. Sekarang tujuan kita sudah didepan mata!” ujar Maria tanpa basa-basi. Ia menunjuk pintu besar mewah Mansion tersebut, 9/10 dengan pintu istana Glowne yang aku lihat.
Aku terpaku karena kaget, “E-eh ya! Benar, tapi kenapa kau berbicara seolah-olah pemilik Mansion besar ini.” balasku menatap Maria tajam. Memang benar sih.
Yeah, sekarang mari buang dulu pikiran tentang istana Glowne dan kakek tua encok. Tapi sekarang mengapa Maria menyuruhku ikut masuk?
“Hm? Entahlah... Aku tidak paham maksud mu Cellin.” cicit Maria pelan, matanya menyipit.
Bunyi bel terdengar sangat keras, kami berdua mengalihkan pandangan ke arah pintu besar tersebut yang ternyata ada bel raksasa!
‘Sejak kapan ada disitu, sialan.’ pikirku membatin. Aku tidak sadar bahwa ada bel besar itu di atas pintu raksasa.
“Oh! Sudah waktunya.” seru Maria menutup mulutnya. “Ikut aku.” tambah Maria, dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
Ruangan utama yang luas, berlapis emas yang terukir lambang Marquess Ywille bunga melati dengan percikan air (emas). Tersedia banyak sekali sofa dan meja yang berisikan makanan, 11/12 dengan aula pesta yang ada di novel-novel.
‘Apakah ada pesta?’ batinku bertanya, saat menyadari ada beberapa tetua serta anak seusia ku yang sedang bergosip.
“Selamat Datang Nona.” seorang Pria tua menghampiri kami, ia membungkuk tepat di depan Maria dengan hormat.
Maria menatap Pria tua itu dengan tatapan tajam, “Te-terima kasih.” ucap nya dengan gugup.
‘???’ apa maksudnya sialan.
[Bersambung!]
Haii para pembaca! Maafkan atas ketidak nyamanan nya ya, karena novel ini tidak update selama beberapa hari terakhir. Jawabannya adalah tidak ada ide👉🏼👈🏼