
Pagi hari yang cerah, sejuk nan indah dengan keramaian yang menjadi-jadi, aku terbangun dengan keadaan menjijikan.
Air liur yang menetes di setiap permukaan dekat mulut, dan ranjang putih bersih yang ternodai kemerahan.
Apa maksud dari semua ini?
“Bahkan dalam dunia fiksi novel, bisa menstruasi?!” Aku mendelik berpikir bahwa semuanya tidak akan merepotkan. Tetapi ini semua berbeda dari pemikiran!
Aku menghela napas panjang, berdiri dan membersihkan noda liur busuk di permukaan mulut dengan kain lap basah yang entah muncul darimana.
Rasanya enggan untuk mengatakan semuanya kepada Maria. Padahal ini adalah Mansion kecil miliknya. Sungguh, memalukan.
Aku melepaskan seprei dari bagian dasar dari kasur dan menggulung kan nya menjadi sebuah bola besar, membawanya menuju kamar mandi dan menyalakan air keran di bak mandi.
Srasshhh
Air lebat muncul dari keran, dengan aroma khas mawar. Aku heran kenapa bisa ada bak mandi yang tiba-tiba air keran nya mengeluarkan aroma khas.
Tetapi itu sungguh, luar biasa.
Tetapi tetap saja, khusus orang kaya.
Aku tersenyum kecil, dan melanjutkan aktifitas ku dengan cepat.
Membersihkan tubuh, memilih pakaian ringan, sarapan bersama Maria, dan melanjutkan perjalanan.
Tidak lupa aku menghentikan darah itu untuk keluar. Jika kalian bertanya bagaimana caranya, kekuatan Darah Celliana asli.
———
Diluar mansion kecil seorang Maria Barch, aku bertanya kami akan segera berpergian kemana.
Tetapi ia hanya menjawab dengan entengnya, “Tentu saja kita akan pergi ke kuil suci. Untuk apa kau bertanya.”
Aku melupakan hal itu.
“Tidak ada salahnya bertanya.” balasku seadanya.
Setidaknya 2 sampai 3 jam lebih, mengingat bahwa Kuil Suci itu tidaklah begitu jauh. Lagipula aku sekarang berada dalam wilayah Sholten, wilayah kuasanya Marquez Ywille.
Sebelum kami menaiki kereta kuda, Maria membeli beberapa makanan pencuci mulut dan camilan ringan lainnya.
Tidak lama setelah itu kami berangkat dengan tangan kosong, tentu saja memasukan seluruh camilan tersebut kedalam cincin penyimpanan.
Klutuk
Klutuk
Dan, saat ini kami berdua berada di dalam kereta kuda dengan bahan keras dan tidak enak di tumpangi.
“Ini Kedua kalinya aku menaiki kereta kuda sejelek dan seburuk ini.” Ucap Maria dengan nada jengkel, ia menunjukkan beberapa bagian sudut dari kereta kuda yang terdapat jaring laba-laba tebal dan debu yang menempel di kayu.
Aku hanya bisa menghela napas untuk ke sejuta kalinya, dan berkata “Sudahlah Maria, ini adalah kereta kuda terakhir yang tersisa.” Aku ingin mencekik leher nya namun ku tahan dengan sabar sembari mengeluarkan camilan macaroon manis yang ia beli sendiri.
“Ini, makanlah. Jika kau terus marah kau akan berubah menjadi nenek-nenek.”
Wajah Maria yang awalnya geram memudar, “Ya ya ya, aku tahu kau sedang bercanda. Tetapi... aku akan selalu awet muda.” Ucap Maria dengan enteng nya, ia mengunyah Macaroon itu dengan 2 buah sekaligus.
Apa maksudnya?
Aku tidak paham, suatu saat pasti ia akan menjadi nenek-nenek.
Aku tertawa pelan, dan hanya mengiyakan ucapannya lagi untuk kesekian kalinya tanpa perduli maksud dari perkataan Maria sendiri.
2 jam kemudian.
Kami telah sampai didepan gerbang pintu Kuil Suci.
Inilah tempat semua orang berdoa yang terdapat seorang Dewi didalamnya lebih tepatnya sering dipanggil Dewa, meminta rezeki, kedamaian, kecantikan serta menghapus dosa.
[Bersambung!]
Maaf lama tidak up, ternyata kakak kandung berandalan saya ngajak berantem terus bawaannya, terima kasih atas pengertiannya. Salam Hangat AnnaOne~