
Aku telah keluar dari pandai besi yang ternyata bernama Sayent itu. Aku cukup senang karena sudah memiliki cincin penyimpanan di dunia ini.
Sekarang aku hanya perlu mencari Maria Barch, aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Kemana sih?” memiliki teman yang berpangkat Bangsawan kurasa sangat merepotkan? Walau aku belum tahu, apakah ia tulus menjadi temanku atau hanya berpura-pura.
Karena kami baru berkenalan.
Memikirkannya saja sudah membuatku malas. Lebih baik aku mencari penginapan, aku harus istirahat.
Berjalan selama 20 (dua puluh) menit, akhirnya aku menemukan tempat penginapan yang cukup mahal. 1 koin emas per hari, sama seperti sebelumnya.
“Terimakasih.” aku memberikan satu koin emas kepada staf wanita didepan ku, lalu pergi naik ke lantai tiga dari penginapan yang bisa dibilang cukup ramai.
Dilantai satu menyediakan tempat makan, seperti biasa, lantai dua sampai seterusnya menyediakan fasilitas berupa kamar yang dapat di sewa per hari atau pun bulanan.
Aku membuka kamar dengan pintu nomor urut 124 (seratus dua puluh empat), ceklek. Kamar terbuka, menampakan sosok kamar yang bersih dan rapi namun minimalis. Tersedia lemari, rak buku, handuk yang akan diganti setiap harinya jika masa sewa berakhir, lalu kamar mandi, serta ranjang tentunya.
Bagus!
Aku menutup pintu kamar ku dan menguncinya, karena sudah merasa tubuh ini lengket aku pun berakhir di bathtub.
15 menit kemudian.
Aku keluar dari kamar mandi, dengan tubuh basah yang tertutup kain panjang. “Handuk disini kasar sekali, rasanya hampir mirip saat Chena pelayan sialan itu mengusap kasar tubuhku saat masih bayi. Kurasa rasanya sama.” gumam ku mengeluarkan unek-unek tentang sikap Chena.
Aku harap, jika bertemu Chena dia telah bertobat sepenuhnya. Saat berpikir tentang Chena, aku tidak sengaja terpeleset karena lantai dipenuhi oleh air yang berjatuhan dari tubuhku.
“Akh!” erang ku sakit, “Sial sekali, apakah ini karma? aw pan*atku.” ringisku sakit. Akibat terjatuh karena kecerobohan ku, aku menjadi susah berdiri. Bersyukur kepalaku masih utuh, karena yang terbentur bagian belakang bukan atas.
Aku dengan perlahan berdiri, dengan kekuatan yang masih ada aku berdiri dengan sempoyongan. Dan Hap, aku duduk dengan ringan di atas ranjang yang empuk.
Aku mengeluarkan pakaian ku dari dalam cincin penyimpanan, dan memakainya dalam keadaan duduk. Yeah, walau susah berdiri aku harus mengenakan pakaian bagaimana pun caranya bukan?
Membutuhkan sekitar 5 menit lebih untuk ku memakai pakaian, padahal dress ini sederhana. Namun mengancing bagian belakang dari dress ini membuatku repot.
“Huft, akhirnya beres.” Hela ku dengan girang. Aku berbalik – Mataku menatap kearah jendela yang terbuka lebar–
“.....” Celliana Anvele.
“Kuharap seseorang tidak melihat ku terjatuh dengan bodohnya dan mengganti pakaian tanpa sadar.” aku mengunci mulutku rapat dan melempar handuk yang sempat aku gunakan ke lantai dengan mata ikan.
Aku berdiri, lalu berjalan perlahan menuju jendela.
Note: Ranjang berada di tengah-tengah pintu kamar mandi serta jendela, lemari berada pada sisi ranjang.
Bagian belakang ku sudah terasa baikan dengan cepat, hanya satu hal yang aku pikirkan. ‘Kenapa cepat sekali sembuhnya?’ batinku bertanya-tanya. Biasa jika terpeleset rasanya masih akan membekas. Mungkin kah...?
TOK
TOK
TOK
Ketukan pintu terdengar dengan sangat keras, aku memalingkan kepala ku kearah pintu. Dan berjalan perlahan mendekati arah ketukan pintu terdengar, dan ceklek aku membukanya.
Betapa terkejutnya aku pada tamu yang datang tanpa di undang ini!
[Bersambung!]