The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 36 (S2)



Akhirnya selesai juga ritual berdoa, dan keluar dari kuil suci. Tadinya aku hampir saja terpeleset saat diluar gedung kuil, karena banyak air yang tercecer dilantai. Untung saja seorang pendeta datang menyelamatkan ku disaat yang tepat, benar-benar insting seorang pendeta yang hebat!


Akhirnya aku dipertemukan kembali dengan Maria Barch, wajahnya benar-benar manis, melebihi makanan manis. Tapi tak semanis pemeran utama wanita, kurasa.


“Celli! Aku tidak melihat mu selepas kita masuk kedalam kuil suci...” Rengek Maria mengelus pipinya ke lenganku dengan manja.


Sejak kapan sikapnya seperti ini?


Aku merasa tak nyaman, apakah setelah berdoa ia mendapatkan sebuah pencerahan dari Dewi Paus itu? Hm, entahlah.


Maria memasang wajah cemberut, “Kau... Kenapa hanya diam saja, apakah terjadi sesuatu?” Tanya Maria dengan memiringkan kepalanya, “Jika ada yang berani macam-macam terhadapmu, katakan padaku. Aku akan segera memberinya pelajaran!” Lanjut Maria dengan api membara di mata besarnya.


“Aaa, hahaha. Baiklah terserah mu saja.” Jawabku seadanya malas dengan percakapan yang dibahasnya, lagipula siapa yang ingin mencari masalah denganku?


Aku tidak punya kekuasaan saat ini, bahkan saat menyebutkan marga Zebren ataupun Lagronvi pun kurasa mereka akan menertawakan ku sembari berkata “Hahahaha! Kau pasti bermimpi disiang bolong?!”


“Haaaah....”


Aku menghela napas panjang, aku juga tidak ingin mencari masalah dengan orang yang otak nya mirip bocah nakal saja.


Sekarang aku memiliki tujuan hidup, apalagi kalau bukan mencari hewan mitos itu. Rasanya aku ingin berteriak dan berkata “Mustahil!!!” Kearah langit.


Jumlah mereka adalah 10, dalam beberapa tahun kedepan kurasa aku baru mendapatkan salah satu dari mereka, oh atau bahkan tak mendapatkan salah satu dari ke 10 hewan itu. Dalam novel, hewan-hewan itu hanya dapat di taklukan oleh orang yang memiliki kekuatan Suci besar.


Hanya seperti itu.


“Baiklah, untuk saat ini kita akan kembali dulu. Dan menyewa ke penginapan terbaik.” Ucapku tersenyum sampul kearah Maria yang dari tadi melihatku terus menerus.


Maria tersenyum, “Baiklah! Mari kita makan banyak setelah nya.”


Kami pun melakukan perjalanan yang cukup panjang.


***


Kali ini tujuan kami adalah Desa TrouhTage, Desa yang dekat dengan gunung Fusha, tempat dimana sang mitos berdiri tegak didalam nya.


Aku membaca gulungan kertas pemberian dari Dewi Paus secara diam-diam, memastikan setelah Maria tertidur saat didalam kereta.


“Hewan ini dinamakan Serigala Api Murni, dapat meningkatkan atribut bagi pengguna sihir api yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Namun populasi hewan mitos ini hanya tersisa 3% (tiga persen). Menyukai... Daging segar dan buah spiritual. Hidup di pergunungan yang terdapat gunung berapi.”


Aku membacanya dengan pelan, sembari memakan makanan manis yang masih utuh didalam cincin penyimpanan.


“Heh? Setelah di pikir-pikir hewan mitos dapat berbicara kan?” Gumam ku yang mengiyakan pikiran ku. ‘Sepertinya begitu. Ini adalah dunia novel fantasi seharusnya hal semacam itu ada.’


Aku melanjutkan bacaan ku.


Hampir saja aku memuntahkan isi perut ku, ternyata Serigala Api Murni itu bisa bersikap manis, dan emosional.


Bukan kah terlalu keren?


Aku menyudahi bacaan untuk saat ini, dan menatap kearah jendela yang sudah menampakan pemandangan gunung Fusha, dan dibawahnya ada Desa TrouhTage tentunya.


“Baiklah, kurasa aku harus mempersiapkan ranjau dulu.” Ucapku pelan dengan rasa gugup. Mataku memancarkan silau hitam di kehijauan permata itu, dan aku tidak menyadarinya.


Setelah beberapa jam, akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Desa TrouhTage, jalanan disini sangat ramai penduduk yang berbelanja. Sama seperti Ibu Kota, bedanya hanya status dan cara berpakaian mereka.


Setelah melewati banyak waktu, sepertinya aku begitu melupakan banyak hal yang tercetak tebal dalam novel? Entah apapun itu, yang penting saat ini menghindari kematian walau sudah jelas didepan mata, tetapi aku merasa ada yang kurang, tapi apa?


Maria memasang wajah lesunya, dengan kedua pipi cemberut. “Aku, mau, makan.” Ucapnya dengan penuh harap kepadaku.


Aku mengiyakan ucapannya, kebetulan juga sudah lapar.


Setelahnya kami duduk di lantai dua, khusus pengunjung yang membayar 2 koin emas. Siapa yang rela mengeluarkan 2 keping koin emas hanya untuk sebuah tempat bertingkat? Celliana dan Maria tentunya.


‘Aku tidak akan menyadari sebanyak apa pengeluaran ku bila tidak memeriksanya.’


Tidak perduli pengeluaran yang selama ini aku dan Maria gunakan, kami langsung memesan makanan terbaik dari kedai tersebut dan menunggunya sembari bercakap-cakap.


Ditengah percakapan Maria mengatakan sesuatu yang tidak jelas, “Kau... tahu kan? Ti-tidak mungkin... yah kurasa. Aku belum memberitahumu.” Ucap Maria dengan wajah setengah gelapnya, namun ia segera memberikan senyuman terbaik nya.


Benar-benar, apakah ada masalah?


“Hey, apakah kau punya masalah?” Tanyaku dengan wajah serius. Tapi aku yakin bahwa Maria tidak akan mengatakannya, bila ia belum siap.


Maria terkejut sejenak, “Eh...? A-apa yang kau katakan tadi, maaf aku melamun...” Balas Maria dengan pelan, ia menundukkan kepala nya.


Aku menggaruk kepalaku, ‘Kenapa aku seperti menjadi orang jahat disini?’ Batinku merasa sedikit bersalah.


“Ah, tidak apa-apa. Mungkin kau akan menceritakannya suatu saat.”


Aku hanya tersenyum sampul seperti biasa, dan Maria membalas perlakuan ku dengan senyuman nya yang cerah.


Santapan kami hari ini pun tiba.


***


Setelah makan siang kami pun memutuskan untuk mencari penginapan. Kata orang sekitar hari ini mereka akan mengadakan sebuah festival dimalam hari, terjadi selama 1 tahun sekali. Salah satu dari mereka sempat berkata “Bila kalian datang sebagai perantau, kalian datang disaat yang tepat!”


Aku pun berpikir begitu.


Maria terus menerus bergumam, namun samar aku mendengar, “Ini benar-benar keren, aku tiba disaat yang tepat. Semua berkat Cellin.” Begitulah, ia mengatakannya dengan kagum.


Padahal aku kemari hanya ingin melakukan misi pertama yang akan menjadi awal dari perjalanan kehidupan ku, tapi siapa sangka akan ada sebuah festival di hari kami tiba.


“Baiklah, mungkin kita akan mengikuti festival dari Desa ini.” Ucapku santai, Mata Maria pun membola ia menarik lengan ku dan memeluknya, “Tetapi alangkah baiknya mencari penginapan.” Lanjutku dan melepaskan aksi pelukan lengan kiri dari Maria.


“Baiklah, harus cepat!” Balas Maria dengan semangat.


Kami pun mulai mencari penginapan bersama. Tanpa menanyakan arah kepada penduduk sekitar, benar-benar konyol.


Sampai pada akhirnya kami berdua sampai ditempat yang cukup...mengerikan? Ini benar-benar konyol sungguhan! Kami tersesat disebuah rumah kayu besar yang sepertinya didepan pintu rumah tersebut terdapat sapi besar yang tergantung dengan sepasang mata copot, disertai tubuh kurus.


“Ce-cellin, itu... apa?” Tanya Maria yang tampaknya sudah takut duluan.


Aku menghela napas, “Hanya sebuah sapi.”


SWUSHHHH


BRAKKK!!


Maria dan aku terkejut saat melihat sebuah sosok hitam melaju dengan cepat dan masuk kedalam rumah kayu besar itu, sehingga pintu itu pun terdorong dengan kasar.


Kami berdua saling menatap.


[Bersambung!]


Bentar, otak author ngelag gais. Jadi maafin kalau ada yang kurang berkenan apalagi kesalahan kata xD. Memang yah....hee


Salam Hangat Tangan AnnaOne~