
Keluarlah sosok dari suara yang sedari tadi bergema.
Aku membulatkan mataku sempurna, “Kamu... Serigala?” Tanya ku sembari menatap punggung sosok serigala iblis yang berbalik arah.
“Keluarlah dari tempat ini. Kau bebas. Untuk teman mu itu... ia akan segera ku bebaskan.”
“Semudah itu?”
“Wujud ku terlihat oleh manusia rendahan seperti mu, cih.”
“.....”
“Kau hanya akan kuat bila darah-darah itu menyerap kedalam kulit-kulit mu ya?” remeh ku.
“.....”
“Aku tau kau akan kemari. Orang ramalan.” tiba-tiba serigala iblis itu mengatakan hal yang aneh. Ia membalikkan punggungnya dan menatap kearah ku.
Shh, liat lah penampilan nya itu. Sangat mengerikan.
“Kau tau aku akan kemari? dan orang ramalan?”
Dewi paus tidak pernah memberitahuku bahwa aku orang ramalan, apakah serigala itu sedang mabuk?
“Kau pasti bercanda?”
Serigala iblis itu pun tertawa renyah, terdengar mengerikan dan dark. “Manusia yang memiliki kekuatan Dewi Davlen. Ternyata... benar-benar ada.”
BRUGHH!
Tubuh serigala iblis itu pun runtuh begitu saja, para bawahan nya yang juga terlihat saat kolam darah menghilang pun ikut terbakar dan menjadi abu.
“.....?”
“Dia tau bahwa aku memiliki kekuatan seorang Dewi.”
“Astagah aku melupakan Maria!!” Pekik ku saat melupakan satu hal tersebut.
Dengan cepat aku berlarian di ruangan kosong yang kini tidak dibanjiri darah, dengan bebas aku pun bergerak kesana mari, namun tak kunjung menemukan Maria.
“Duh, dimana sih?”
“Sepertinya aku tertinggal satu ruangan?”
Sengaja tidak mengambil ruangan tersebut, yang merupakan lorong panjang dan gelap melebihi ruangan lainnya.
Aku bukannya takut, tapi...
Larut dalam keheningan aku pun memutuskan untuk masuk dengan tampang berani. Tidak perduli apapun yang akan ia dapatkan, pasti Maria ada disana. Pikirnya mantap.
Drap
Drap
Drap
Drap.
Langkah kaki ku terdengar, sesaat aku mendengar suara gesekan skrrtt. “????” Dengan rasa penasaran aku pun mengikuti suara gesekan tersebut, sampailah di sebuah ruangan dengan 4 pintu di setiap sisi nya.
“.....”
Apakah ini sebuah teka-teki?
Sepertinya aku merasa familier dengan keberadaan pintu ini. Di setiap gagang pintu terdapat sebuah ukiran yang berbeda-beda, pintu pertama: Kupu-kupu, pintu kedua: Burung, pintu ke tiga: Aura, pintu terakhir: Bunga.
Di setiap ukiran memiliki makna yang berbeda.
Burung dianggap sebagai pembawa pesan untuk menyampaikan permintaan kita yang rendah hati kepada dewa-dewi.
Aura di dapatkan jika seseorang berbuah baik, iman yang kuat, dan tunduk kepada dewa-dewi.
Bunga dapat dikatakan sebagai lambang apresiasi tentang cinta, ketulusan, persahabatan, dan sukacita.
“Hmm...”
Aku baru saja tersadar, bahwa teka teki ini dijelaskan dalam novel.
~Pintu dengan gagang yang berbeda, sesuatu menunggu mu dalam wujud dan makna lain menyesuaikan sinar dalam diri mu.~
Memang kata-kata nya sulit untuk dimengerti oleh orang bodoh sepertiku.
Setelah terpikir kan hal tersebut, aku mulai membuka pintu tersebut satu-satu namun tidak berbunyi dan tetap terkunci. “Aura....” ceklek. “Eh? Sudah berbunyi tapi belum terbuka, berarti aku harus mencoba dengan yang lain.”
“Aura... Kupu-kupu...” Ceklek.
“Terakhir, BURUNG!!!” Dengan semangat aku langsung membuka pintunya dengan keras.
Ceklek
Brakk.
“Berhasil.”
Apa yang membuat pintu-pintu ini dibuat semenarik mungkin? Bisa saja ada benda berharga yang tidak boleh terlewatkan jika berwisata kemari, hahaha.
Tempat berwisata macam apa, sebelumnya saja di penuhi oleh darah.
“Hm?”
“Kotak apa ini?” saat mengitari ruangan yang cukup besar aku menemukan sebuah kotak kayu kecil yang tertutup debu. “Fuuh,” tiupan angin berskala kecil datang! Dari mulut seorang Celliana.
Bukannya menghindar, debu-debu itu malah berterbangan dengan aktif ke arah ku.
“.....?”
Tidak terasa, hidungku sudah memerah.
“Ugh, mengganggu sekali rasa gatal ini.” beberapa kali aku sudah mencoba untuk bersin, namun tetap saja seperti tersumbat sesuatu. Ah, sial - Celliana pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dengan membawa kotak kecil tersebut, dan mencoba membuka pintu lainnya.
Dan, Ceklek.
Berhasil, karena ketiga pintu ini saling bersangkutan maka bisa di buka. Di pintu dengan ganggang Aura aku menemukan kotak kayu kecil, sama seperti sebelumnya, dan ganggang kupu-kupu aku menemukan kertas kosong tanpa makna.
Tersisa seorang Maria Barch saja yang belum kutemukan. “Dimana sih?” Saat sedang stress dengan keberadaan Maria, aku pun memutuskan untuk istirahat sejenak di dinding-dinding kayu tersebut, namun, tanpa sadar aku merasakan hal ganjal di belakang kepala ku, ia bisa bergerak maju dan mundur, aku pun menekannya ke dalam.
Brruuuuggghhh.
Terdengar suara gemuruh, dan seisi ruangan bergetar, terbukalah jalanan menuju ruang bawah tanah.
Aku mengedipkan mata ku beberapa kali karena merasa aneh tapi juga merasa takjub. “Mungkin kah ini kebetulan?”
Ngomong-ngomong aku sudah melupakan keberadaan sosok serigala menyeramkan itu, yang masih terlelap dalam tidur nya.
[Bersambung!]
Hehe, author tidak bisa berkata-kata.
Salam dari Author AnnaOne, see you again.
YwY