The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 35 (S2)



Aku menatap kagum seisi ruangan gedung kuil suci, tak ada kesan buruk bagiku untuk sebuah kuil suci.


Kuil ini yang sedikit membedakan dari kuil biasa yang lainnya adalah, design interior, dan patung-patung para Dewa-dewi mitologi yang terbuat dari emas berjajar di sekeliling ruangan.


“Bukankah ini terlalu mewah, pasti karena itu...” Gumam ku tidak begitu perduli.


Segera setelah melihat-lihat sejenak, aku mengikuti keramaian orang-orang yang duduk ber'sejajar dan ikut duduk.


Didepan kami telah ada patung utama, yaitu Dewa Paus. Ah, maksudku Dewi Paus.


Ironis sekali bila semua orang tidak mengetahui fakta unik tersebut.


Aku hanya bisa tertawa dalam hati.


Suara lonceng kembali terdengar, namun kali ini menyebabkan sedikit getaran pada kaca-kaca di sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh patung.


Aku sedikit kaget karena suara lonceng itu sangat nyaring dari sebelumnya.


Seusai lonceng itu dibunyikan oleh para Pendeta diluar sana. Ritual pun dimulai, aku yang bingung dan tidak paham hanya bisa mengikuti gerakan tangan mereka dengan pelan.


Sejujurnya sangat mudah, hanya membuat tangan saling bergandeng. Em, yah maksud nya adalah seperti seorang teman atau kekasih yang saling berpegangan tangan. Namun dengan diri sendiri.


Entah mengapa rasanya ingin menangis saat memikirkan nya.


Setelah itu semua orang menutup mata mereka serentak, aku yang belum menutup mata dan asik dengan pergulatan pikiran sendiri tersadar, lalu ikut menutup mata dengan secepat kilat lalat.


***


Sensasi hangat terasa di sekujur tubuhku, ini terasa familier.


Aku membuka mataku, dan melihat alam semesta yang sudah tidak terasa asing lagi.


“Aku benar-benar kembali.” Ucapku menatap takjub dengan kuil suci yang sekarang berubah menjadi alam semesta sepenuhnya. 100 (seratus) persen terpercaya, pantas saja hanya satu-satunya di dunia misterius ini.


Suara wanita yang lembut namun terlalu ditekan memasuki pendengaran ku, “Selamat datang kembali Celliana Anvele Zebren.” Sambut nya sambil mengibaskan ekor besarnya keatas gunung yang ada diriku disana.


(Author: "LOL.")


Bagaikan semut kecil yang menganggu, aku merasakan tubuhku basah semua. Semua air yang tidak terlihat disini pun sangat ghoib. ‘Apakah ini yang dinamakan ke 'tumpahan air.’ Batinku kesal namun karena didepan ku adalah seorang Dewi mau tidak mau hanya bisa bersabar.


“Ya aku kembali.”


“Kau datang di saat yang tepat Celliana.” Ujar Dewi Paus tersenyum lebar di mulutnya.


Aku tahu itu terlihat aneh, tapi itu menjadikannya sangat menggemaskan!


“Aku ingin menunjukkan mu sesuatu, yang akan menjadi awal dari perjalanan hidup mu!” Lanjut Dewi Paus dengan nada antusias.


Dari nadanya aku merasakan firasat buruk menanti ku.


Aku hanya diam menantikan ia melanjutkan ucapan nya.


“Jadi... Ikutlah dengan ku. Kemari.” Dewi Paus itu menunjukkan sebuah portal dengan kekuatan seorang Dewi miliknya. Aku ingin mundur beberapa langkah karena portal itu mengeluarkan cahaya yang tidak biasa, namun kaki ku bergerak dengan sendirinya.


SWUSHH.


Dan pada akhirnya aku menghilang, masuk kedalam portal itu.


TRAK


GRRTAK


Portal pun perlahan hancur saat aku masuk kedalam portal bersama seorang... Wanita Cantik? Oh tidak, aku samar-samar memandang kebelakang saat bergerak sendiri.


***


Aku menatap mata Wanita itu, dan berkata “Rupa manusia mu lebih menggoda dari yang aku bayangkan.” Ucap ku memuji rupa Dewi Paus yang berubah wujud.


Dewi Paus tersenyum, “Hahaha, kau dari awal tidak sopan dengan ku.” Balasnya dengan nada sarkas.


Seorang Dewi pun bisa berbicara seperti itu.


Aku tidak tahu.


Aku hanya membalas perkataan Dewi Paus dengan senyum sampul. Otak ku sekarang dipenuhi kekosongan, “Apa yang akan kita lakukan di ruangan kosong ini?” Tanyaku yang bingung, ruang kosong apakah ini maksud dari perkataan nya sebelumnya?


Dewi itu tertawa menyebabkan getaran pada ruangan putih ini, “Lihat ini!” Ucap Dewi itu dengan tatapan berapi-api.


Ia membuat lingkaran pada ruangan putih itu, dan muncul sebuah kaca berbentuk lingkaran besar. Dengan sendirinya, kaca itu mengeluarkan gambar yang bukan pantulan kedua orang tersebut, tetapi sebuah...hewan?


“Kau lihat hewan-hewan ini Celli?” Tanya nya dengan senyum merekah.


Aku menggaruk tengkuk leherku yang gatal, “Kurasa aku cukup mengenal beberapa dari hewan-hewan ini.” Jawabku seadanya.


Bukan kah itu adalah hewan mitos di dunia novel fantasi ini? Untuk apa ia menunjuk 'kan nya padaku. Sebentar...


“Aku ingin menunjukkan mu sesuatu, yang akan menjadi awal dari perjalanan hidup mu!”


Jangan katakan?


Aku baru saja ingin berteriak, mulutku tiba-tiba terasa berat untuk di buka.


Dewi itu melanjutkan ucapannya, “Apa yang kau pikirkan saat ini adalah benar, hewan-hewan ini akan menjadi awal mula dari perjalanan hidup mu mulai sekarang!”


“Kau akan segera menjadi seseorang yang berpengaruh dimasa depan, bila kau mengikuti kata-kata ku. Dan mendapatkan ke 10 (sepuluh) hewan mitos ini.” Ujar nya sembari menunjuk kan kembali hewan-hewan mitos itu di lingkaran kaca didepan mereka.


Mulutku yang entah tersumbat apa kembali normal, dan aku berkata tanpa berpikir panjang, “Apa kau masih waras...? Darimana aku akan mendapatkan semua hewan mitos ini... Yang bahkan jarang menampakan wujud mereka.” Ucapku menatap heran Dewi Paus yang sekarang berwujud manusia.


Dewi itu membalas tatapan ku dengan tajam, “Apapun itu, aku akan memberikan mu secarik kertas yang berisikan informasi tempat mereka berada, dan cara untuk menaklukkan mereka semua.” Dewi itu benar-benar mengeluarkan secarik kertas besar yang tergulung rapi.


“Ambil ini.” Ia melemparkan gulungan kertas itu ke arah ku, dengan sigap aku menangkap nya. “Ini adalah takdir mu...” Lanjutnya lirih, sambil tertawa kecil.


‘Aku tidak bisa mendengar suaranya.’ Batinku yang merasa pusing, mataku mulai buram, dengan pendengaran yang semakin tidak jelas.


“Sudah habis waktunya, kau seorang Celliana Anvele Zebren, seharusnya kau dapat menaklukan hewan-hewan ini.” Ucap Dewi Paus itu dengan senyuman lesu.


Aku dapat mendengar ucapannya samar, tetapi tidak begitu jelas. “Ukh!” Ringis ku terakhir kali sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.


***


Teng


Teng


Teng!


Bunyi lonceng berdengung diseluruh ruangan. Mataku terbuka secara perlahan, ‘Ah, sudah kembali. Yang tadi itu... Mustahil.’ Batinku yang sekarang merasa benar-benar mustahil untuk Hewan-hewan mitos itu.


“Eh? Gulungan Kertas!” Gumam ku kaget dengan keberadaan gulungan kertas itu berada di tanganku, dengan cepat aku menyimpannya dalam ruang cincin penyimpanan, agar tidak dicurigai darimana asalnya.


Suara seorang pendeta berteriak dengan nyaring.


[Bersambung!]


Yey, upload juga ^^ Gimana? Masih ingat gak nih kalian sama ceritanya? maafin yah, tapi author juga gak bakal tau kapan bisa update lagi nantinya, lihat aja dulu, terima kasih sudah mampir 🫂✨


Salam Hangat Tangan AnnaOne Yo~