The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 43 (S2)



“Dasar pembantu sialan!”


“Malu-maluin aja kamu!!”


“Cepat beresin rumah ini, gak ada kata malas-malasan!!”


“Itu kan... waa waa..”


PLAAKKK!!


Tamparan yang terasa hangat dan perih.


“Jangan sok-sok an cari muka deh didepan teman-teman ku!!!”


.


.


.


WUUUSHHHH


“Hahhh haahh..,” Mataku terbuka dengan sempurna “ternyata cuma mimpi..?” aku menghela napas lega.


Aku kira aku akan kembali lagi di rumah terkutuk itu. Berkat permohonan ku sebelum mati, aku bereinkarnasi dan menjadi diriku yang baru.


Yah, walau karakter sampingan doang sih.


Tetapi itu tidak mengubah sudut pandang ku, aku berhasil bertahan karena waktu yang tiba-tiba berubah (tau lah ya) dan semuanya berjalan semestinya.


“Hm, sudah pagi juga nih. Lebih baik aku membuat sarapan, dan mengajari mereka sedikit ilmu medis.” aku tersenyum cerah, dan bergegas untuk bersiap-siap dahulu sebelum turun ke bawah.


.


.


.


“Pagi semuanya!” sapa ku ceria.


Krik


Krik.


“.....”


Ada apa dengan wajah lesu mereka semua?


Dan... eh, mata panda? Apa yang mereka lakukan semalam?!


Aku mengernyitkan dahi, “kalian sakit?” tanyaku sembari memegang dahi mereka semua yang rata-rata terasa panas.


Diantara mereka mata panda dan suhu yang paling parah adalah seorang Maria Barch.


“Apa yang terjadi, kenapa tidak berbicara?” tanyaku dengan serius. Aku membimbing mereka untuk duduk di sofa ruang tengah daripada membiarkan mereka duduk di bawah lantai dengan tidak elite, sembari menyiapkan teh hangat chamomile. Aku suka aromanya.


Sarah Gebrian (anak dari Baroness), dengan Surai pirang pendek serta bermanik biru muda membuka mulutnya dengan gemetaran dan kesulitan. “Apakah... ini... adalah penyebaran virus?” ucapan Sarah yang patah-patah membuat mereka semua panik, padahal mereka sering berolahraga kenapa harus terjangkit juga? apakah tidak mempan?


Aku berpikir sejenak, kalau dipikir-pikir kejadian ini juga pernah terjadi pada masa-masa aku Sekolah Menengah Atas.


Yang dimana kondisi seseorang mengalami perubahan pada pola tidur, suhu tubuh, dan sakit pada tenggorokan. Penyakit ini menyebar, dan author menamai virus ini adalah Olimpadhadeous (Oylimpathadeaos).


Penyakit Olimpadhadeous dapat disembuhkan dalam kurun waktu seminggu jika itu di duniaku. TETAPI, karena ini adalah dunia novel maka itu dapat disembuhkan dalam kurun 3 hari kebawah mungkin?


Itu hanya prediksi ku, karena di sini memiliki kekuatan jadi akan terasa tidak perlu membuang-buang uang untuk membeli obat. Cukup kerahkan MANA, dan bingo!


Tetapi aku tidak memiliki sihir penyembuhan, tapi kalau belum mencoba tidak ada yang akan tahu kan?


Suara yang terdengar cukup berat dan serak berasal dari Fella, “Kenapa diam saja? Ekhem, ukh, tenggorokan ku sakit.” Surai merah panjang dengan manik hijau tua, Fella Anya Olpper (anak Countess Olpper.)


“Tuh kan, benar!” pekik ku dengan eskpresi kagum, saat mendengar ia berkata “tenggorokan ku sakit” aku langsung menanggapi itu dengan mantap.


Mereka menatapku, “apanya... yang...be-benar? ekhem.” Tanya Gimba Dellar (anak keluarga kesatria kuda api) dengan karakteristik bersurai coklat dan bermanik coklat muda. Walau penampilannya terlihat sederhana, namun skill nya tidak dapat diragukan.


“Jadi, nama penyakit ini adalah Olimpadhadeous, seperti gejala yang kalian alami. Mungkin ini tidak terlalu parah, kurasa membutuhkan waktu 3 hari untuk sembuh.” Jelas ku.


Mereka menyimak dengan sangat cermat walau dengan tampang lesu, dan melanjutkan ucapan ku, “Caranya ialah dengan sihir penyembuhan, kurasa akan efektif, tetapi aku tidak yakin karena diantara kita tidak ada yang memiliki sihir itu..,” aku menggaruk tengkuk leherku yang tak gatal sembari cengengesan, “tapi...” sebelum melanjutkan ucapan ku seseorang menimpali ucapan ku.


“A-aku bisa!” laki-laki dengan Surai abu-abu disertai manik ungu cerah yang bernama Asher La Afarta mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Aku terkejut karena suaranya yang cukup nyaring menimpali ucapan ku. Aku tersenyum senang. Tapi aku mengurungkan senyuman itu.


Asher mengangguk lesu, padahal tadi wajahnya sedikit berbunga-bunga. Andai saja Asher menjawab “Kalian semua adalah orang-orang ku.” maka aku akan kehabisan kata.


Pasti kalian akan merasa senang bila menjadi orang kepercayaan bagi mereka?


Atau mungkin sebaliknya.


“Hmm... kalau begitu aku akan mencoba mencari potion (ramuan) yang pas untuk penyakit ini.” ucapku yang segera bergegas menuju keluar.


.


.


.


Harusnya mereka disembuhkan dengan sihir, sih. Tapi aku berubah pikiran dalam sesaat, karena sihir penyembuhan menguras banyak MANA penggunanya, juga akan memperburuk kondisi Asher kalau dipaksakan.


Sihir penyembuhan termasuk paling langka didalam jajaran ilmu dasar elemen sihir.


Untuk ilmu dasar ramuan sihir sih, ramuan penyembuhan termasuk ramuan yang biasa saja tergantung pada kualitas sang pembuat dan pada siapa ia belajar pembuatan semua jenis ramuan.


Aku berkeliling kota untuk mencari tempat penjualan ramuan, namun yang kutemukan hanyalah 8 ramuan penyembuh tingkat rendah dengan harga 1 keping koin emas perbotol.


Aku tersenyum kecut, namun aku tidak boleh putus asa sebagai orang yang paling sehat diantara mereka.


‘Mungkin aku harus masuk ketempat yang terlihat agak lusuh, biasanya seperti itu.’ batin ku.


Beberapa menit kemudian.


Aku menemukan tempat penjual ramuan yang terlihat minimalis tapi juga seperti gubuk dilihat dari tempatnya.


Tanpa basa-basi aku masuk, dan saat melewati pintu bunyi bel berbunyi.


Segera aku mencari-cari ramuan berwarna hijau namun tidak ada.


Dengan begitu pun aku bertanya kepada penjaga toko, “maaf, dimanakah ramuan penyembuhan?” tanyaku dengan cengengesan. Aku tidak tahu semua jenis ramuan!


Gadis muda yang menjaga toko itu mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “tidakkah kau melihat di pojokan sana? Itu adalah sihir penyembuhan. Seperti nya kau orang baru.” gadis itu berkata dengan nada ketus.


‘Tidak ramah, bintang 1.’ batin ku.


“Be-begitu ya? Benar juga..., saya adalah orang baru!” Aku mengetuk telapak tanganku dengan tanganku yang satunya lagi, lalu aku segera menuju pojokan tempat ramuan sihir penyembuh berada.


Yang aku lihat ialah ramuan dengan warna merah, mungkinkah ini ramuan tahap atas? Entahlah aku tidak tahu.


Segera aku mengambil 9 botol yang tersisa di rak tersebut, buat berjaga-jaga aku menyimpan satu untuk diriku sendiri.


Dengan begitu aku mengambil langkah besar menuju penjaga toko itu dan meletakkannya di atas meja melengkung itu.


“Berapa?“


“Apanya yang berapa?”


“Harganya...”


“Huft..., kami tidak menjual asal ramuan dengan sebuah uang.”


“Hah, lalu?”


“Ini. Gunakan ini, cukup taruh telapak tanganmu diatas batu yang bercetak telapak tangan manusia ini dan pikiran seberapa besar MANA yang harus kau keluarkan.” Gadis itu menjelaskan cara memakainya juga.


Tapi aku ragu, entah kenapa bentuknya lumayan mirip dengan alat pendeteksi kebohongan, ya?


“Kenapa? Kau ingin membeli ini karena kerabat mu sakit kan, apakah kau tidak mau menolong mereka hanya karena ragu?” ucap gadis itu dengan tatapan sinis dan nada yang ketus tentunya.


Hey! Siapa yang berpikir seperti itu, kritis sekali.


Padahal aku ragu karena bentuknya saja. Dengan ragu aku meletakan tanganku dan,


WUUUSHHHHH


Mata gadis itu melotot sempurna.


[Bersambung!]


Halo semuanya, maaf telah menghilang 1-3 bulan ini, author sebelumnya sibuk dan melupakan kalau author punya karya yang belum ditamatkan (^^)


DAN, author minta maaf karena ceritanya jadi berbelit-belit, author juga sudah membaca semua komentar kalian kok😉 akan author usahakan menjadi lebih baik, saya sebagai amatiran mereka senang karena ada komentar positif dari kalian juga! See ya.


Salam hangat AnnaOne~