
“Paus?!!”
Aku terperanjat kaget saat melihat sesosok paus biru besar yang terlihat menatap ku. Ia menyemburkan air dari lubang sembur paus pada umumnya, aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ada air!
Dan dimana ini? Padang rumput?
“Ahaha, aku tahu yang kau pikirkan.” ucap Paus itu dengan mulut tersenyum.
Wait, kapan paus bisa tersenyum!? Tidak masuk akal, sialan.
“Kasar sekali.” ucap Paus itu tiba-tiba bernada sedih.
Aku mengabaikan nya, “Apakah kau seorang Dewi?” tebak ku mendadak. Hoho, hanya intuisi.
“Bagaimana kau tahu? Semua orang mengira aku adalah Dewa.” kejut Paus itu sambil cengengesan.
“Sudah kuduga, hanya menebak.” jawabku seadanya dengan percaya diri. Aku tidak bisa menahan rasa ingin tahu lagi.
Akupun mulai menanyakan banyak hal kepada sang Dewi yang berupa Paus itu. Kuharap hal yang aku lakukan ini sopan. Paus itu menjawab pertanyaan ku dengan baik dan semburan air yang terus mengenai tubuhku.
“Pertanyaan terakhir.”
“Ya?”
“Kenapa kau memanggilku?” tanya ku tanpa basa basi.
Paus itu menatapku sejenak, “Itu karena ada hal yang ingin aku katakan. Tapi kurasa waktunya sudah habis, datanglah ke kuil suci di Wilayah Sholten ini, maka kau akan bertemu dengan ku lagi.” ucap Dewi Paus memberitahuku, ah aku tidak tahu hal apa yang menyebabkan ia kehabisan waktu.
Hal ini mirip dengan Celliana asli.
“Em, yeah tidak apa. Mungkin jika ada waktu aku akan kesana.” jawabku dengan senyum gigi Pepsodent.
“Hahaha, sudah kuduga kau memang anak yang manis.” ucap Dewi Paus itu sebelum aku kehilangan kesadaran. “Sampai jumpa.”
***
Aku membuka kelopak mataku, saat tangan lembut seseorang menepuk pelan bahuku.
“Huft, akhir nya kau bangun. Aku kira kau koma!” ucap Maria kesal denganku yang tidak punya masalah apapun dengan nya.
Aku menatapnya, “Sorry.” jawabku spontan, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan Happ. ‘Mulut sialan.’ batinku mendelik.
Aku memalingkan wajahku kearah jendela kereta kuda. “Bukan apa-apa, itu hanya huruf yang aku tidak sengaja buat sendiri.” jawab ku menjelaskan kepada Maria yang tentunya sudah pasti aku berbohong.
“Ah masa?” goda Maria dengan nada menjengkelkan yang sebelumnya pernah aku dengar! Tapi dimana?
“Ck, menyebalkan.” decak ku sebal. Malas berdebat aku mengacuhkan nya yang terus menerus menggoda ku tidak jelas.
“Oh ya Cellin, apakah kau ingin ikut pergi bersama ku saat urusan ku di kediaman Marquess Ywille selesai?” tanya Maria tiba-tiba. Ia menatapku dengan penuh harap.
Aku menggaruk tengkuk ku yang gatal, “Tentu, tentu saja aku akan ikut. Mau pergi kemana?” ucapku dan menanyakan balik ke Maria yang masih menatapku penuh harap.
“Yay, aku ingin kita pergi ke Kuil suci satu-satunya di Wilayah Sholten ini! Katanya, kau bisa bertemu dengan seorang Dewa.” Maria tampak senang dan gembira. Mimik wajahnya selalu ceria dan kecewa terkadang.
‘Apakah ini kebetulan? Tapi ia adalah Dewi bukan Dewa. Pantas saja Dewi Paus itu terkejut.’ batinku terbatuk ringan.
“Boleh juga, tempat yang sangat membuatku tertarik. Aku akan memikirkan nya” ucapku dengan senyum simpul.
Maria mengangguk semangat, “Benarkah? Kuil di wilayah ini sangat populer dan tentunya tak akan ada yang bisa mengikuti seluk beluk kuil sana yang memiliki Dewa! Aku pernah mencoba berdoa di kuil Suci sekitar 3 kali, tapi itu dulu.” ucap Maria dengan semangat 45.
“Prok prok prok.” aku menepuk tanganku.
“Baiklah kurasa kita memang harus kesana.” balas ku merespon ucapan Maria.
Maria tersenyum lebar, seperti menantikan momen tersebut.
‘Tapi, Maria bilang dia pernah kesana? Bukan kah itu berarti ia sudah pernah tinggal di wilayah Sholten? Waw.’ batinku yang merasa bahwa indetitas seorang Maria Barch adalah menakjubkan.
Tiba-tiba, guncangan hebat menerjang keras Kereta Kuda Sihir.
Aku yang terkejut pun, terbentur kursi kusir yang empuk dan berpegangan pada dasar kursi tersebut. “Sial sekali.” gumam ku jengkel.
Sudah berapa kali aku mengalami situasi ini?
Sialan.
[Bersambung!]
Maaf tidak jelas, author lagi gada ide nih. Kalau kalian punya ide bisa tambahin di kolom komentar biar author pikir-pikir.
Salam hangat author AnnaOne.