The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 19



A-apakah aku ketahuan? Tidak, ini tidak boleh ada satu pun yang tahu, bahwa aku memiliki kehidupan dimasa lalu, dan ini adalah dunia fantasi novel!


“A-apa maksud kakek?” tanyaku dengan gugup, semoga ia tak menyadarinya.


“Aku tidak memiliki maksud.” jawab kakek itu santai.


Aku hanya terbengong, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku menghela nafas, kupikir ia mencurigai ku karena sikap ku sangat berbeda dengan anak-anak seumuran.


Hey, asalkan kau tahu umur ku kini 25 tahun. Tetapi aku tidak bisa memberitahukan itu kepada kakek tua encok sialan ini.


“Hoam...” aku menguap, mengucek kedua mata. “Bolehkah saya pamit pergi dahulu? Tampaknya saya kurang tidur akhir-akhir ini.” ucapku dengan halus. Ya, aku berbohong. Tak apa jika sebelas dua belas kali aku berbohong.


Kakek itu menyeritkan dahinya, garis kerutan di keningnya bertambah banyak. “Hey kakek, jangan memaksa menyeritkan dahi mu itu, kau terlihat tambah tua.” sindirku tersenyum, ‘Walau sudah terlihat sangat tua.’ lanjutku dalam batin.


Kakek itu segera menormalkan ekspresi wajahnya. “Padahal aku selalu menggunakan obat-obatan herbal untuk menutupi keriput ini.” balasnya sembari mengusap kasar setengah wajahnya.


“Hoam...” aku menguap, ah nampaknya aku mengantuk juga pada akhirnya. Padahal tadi aku hanya berbohong, sekarang menjadi nyata.


“Sepertinya kau benar-benar mengantuk, silahkan kau boleh pergi beristirahat. Takutnya kondisi kesehatan mu menurun.” ujar kakek itu, seperti dia saja yang punya Kastil.


“Hm..” Aku pun menunduk hormat, kemudian berlarian kecil meninggalkan ruangan.


Saat keluar, aku tak melihat batang hidung Chena sama sekali, jadi aku memutuskan berjalan sendirian. Hingga pada akhirnya aku tersesat tanpa bimbingan jalan.


Aku menggaruk tengkuk leherku yang tak gatal, “Eum, mengapa istana yang disebut miskin ini bisa membuat ku tersesat, sih? Ha-Haha.” cengir ku.


Kapan-kapan ada baiknya jika aku harus belajar mengingat dan mengenali jalan di istana Glowne. Ini sangat buruk bila dimasa depan kelak aku tak tahu jalan.


Dan lebih buruknya lagi, mengapa Chena meninggalkan ku sendirian. Ah, sudahlah bisa-bisa frustasi jika memikirkan jalanan tanpa ujung ini.


Bahkan di setiap sudut ruang ada banyak sekali debu-debu menempel. Mata manik hijau ku terus menelusuri setiap bagian-bagian lorong.


(Semoga kalian paham maksudku.)


Setengah jam kemudian, aku terjatuh karena kaki ku sudah tak tertahankan lagi. “Sigh.” padahal aku sudah mengantuk parah, apa yang harus kulakukan tanpa tenaga?.


Swush, angin yang entah berasal darimana muncul tiba-tiba dari diarah belakang.


“Apa yang kau lakukan?” suara yang tak asing lagi bagiku, Yap dia adalah Lezarus.


Ia mengangkat tubuh mungil ku, dan aku hanya bisa pasrah. “Terse...-sat.” jawabku dengan malu.


“Pfftt...-” Lezarus terlihat seperti sedang menahan tawa! AH, seharusnya aku tak berkata begitu.


Eh, tapi Lezarus menahan tawa? Ini pertama kalinya bagiku! Dalam novel Lezarus tidak ada diceritakan bahwa ia akan menahan tertawa diumur muda nya ini.


Apakah benar, kehadiran ku membawa perubahan? Tapi sepertinya tidak, bahkan Lezarus belum melihat pemeran utama wanita! Bagaimana bisa aku berkata seperti itu.


“Apa yang kau ingin tertawakan?” decak ku kesal, aku sudah tidak perduli akan sopan-santun.


“Tidak.” seketika ekspresi wajah Lezarus berubah dalam sedetik. Menjadi dingin kembali.


“.....”


“.....”


Hening, karena keheningan terus berlanjut mataku sudah tak tertahankan lagi dan pada akhirnya lagi-lagi aku tertidur dengan nyenyak.


Seharusnya ia membaringkan ku pada kasur yang empuk bukan, lagipula apa gunanya sihir teleportasi miliknya itu.


Dalam Novel “Kematian Putri Marquess” Lezarus ini memiliki bermacam-macam mantra sihir dan tentu saja sehingga dapat melindungi pemeran utama wanita dari segala bahaya.


***


Cip cip cip.


Bunyi burung saling berkicau, dengan matahari yang bersinar terik di pagi hari yang dingin.


Aku sudah terbangun saat pukul 7 pagi, dan ternyata aku sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk tidur?! Aku bingung, mengapa tubuh ini sangat mudah ngantuk, apakah karena terlalu kecil jadi stamina nya sedikit. Atau karena diracuni.


Aku menarik nafas dalam, “Haap... huu..” Aku sudah bosan menjalani hidup biasa-biasa seperti ini, tak punya temen tak apa asalkan ada sesuatu yang membuat ku bahagia.


“Kutarik kata-kataku waktu itu.” gumam ku, aku sepertinya harus punya teman seumuran deh. Siapa yang tahu, jika dimasa depan teman itu akan sangat berguna bagiku.


Ngomong-ngomong, aku belum pernah mencoba sihir darah milik Celliana ini. Kalau tidak salah mantra nya ialah “(Aku Dewi Darah yang terhormat, dengan belas kasihan membunuh penjahat dengan kekuatan mengendalikan darahku.)” Tetapi itu adalah mantra sang Dewi, maka pewaris sihirnya nya harus mengucapkan “(Aku adalah pewaris Dewi Darah yang terhormat, dengan belas kasihan membunuh para penjahat dengan kekuatan warisan Dewi Darah Devlen.)”


Kira-kira begitulah mantranya, dalam novel Celliana Anvele asli mengucapkan mantra sihirnya.


Aku ingin mencobanya, namun siapa yang harus menjadi kelinci percobaan ku?


Disaat aku memikirkan kelinci percobaan, tak sengaja manik hijau ku menangkap hewan berbulu putih meloncat-loncat. Astagah bukankah itu kelinci? Batinku.


Bagaimana bisa ada kelinci disini, aku tanpa sadar mengarahkan telapak tanganku kearah sang kelinci yang sedang memakan rumput kering, tanpa sengaja mengucapkan kalimat mantra sihir darah, ‘Aku adalah pewaris Dewi Darah yang terhormat, dengan belas kasihan membunuh para penjahat dengan kekuatan warisan Dewi Darah Devlen.’ batinku.


Dan, aku segera tersadar dengan apa yang kulakukan. “A-apa yang kulakukan?” aku segera menarik tanganku kembali.


Aku menatap kelinci itu dengan ngeri, nadi-nadi kelinci putih itu menonjol terlihat dengan jelas dimata ku. Urat nadi sang kelinci seperti ingin meledak secara perlahan. Tanganku terkepal dengan erat, bau anyir tercium hingga kedalam kamar. “Ini...?”


Ternyata tubuh sang kelinci mengeluarkan cucuran gumpalan darah segar, seperti air mancur.


Aku menatap tanganku, ‘Sihir darah milik Celliana asli sungguh luar biasa!’ batinku terkejut dengan ke efektifan nya. Jika aku mengarahkan nya ke manusia, apa yang terjadi ya? Padahal sihir itu hanya untuk para penjahat.


Dosa besarku, membunuh kelinci tak bersalah.


“Ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.” gumam ku, aku menutup jendela kamar dengan rapat.


Aku membuka isi lemari, kalau tidak salah dalam novel untuk menghapus dosa karena penyalahgunaan sihir darah adalah dengan berdoa di patung mini sebesar boneka Barbie, ukiran Dewi Darah Devlen.


Itu lah yang digunakan Celliana asli. Celliana mati diusianya yang ke-17 (Ah, author lupa°-°). Muda sekali.


Masih ada 12 tahun untukku hidup, dan lagi diumur ke-12 Lezarus akan mengusir Celliana asli dari Istana Glowne. Dan belum lagi Lezarus nantinya akan dikurung di kastil es.


Balik ke tujuan, aku sudah menemukan patung mini Dewi Davlen. Tidak salah, bagian akhir penjelasan cerita (alias side-story Celliana), Celliana mengambilnya didalam lemari kamar di istana Glowne, karena ia menemukannya.


Aku membawa nya keatas kasur, lalu berdoa kepada Dewi Darah Davlen untuk meminta permohonan ampun.


Cahaya berwarna merah keemasan muncul dari patung itu, dan menutupi tubuh mungilku.


[Bersambung!]


Halo gaes, gmna puas ga? Author sudah berusaha sebisa mungkin, maaf ya untuk kejadian tak uploadnya terulang kembali. Author ternyata kembali disibukkan dengan kegiatan baru. Yaudah, segitu aja dulu terimakasih atas support kalian. (Bdw author hampir lupa sama ceritanya).


Salam Hangat Tangan AnnaOne, bye!