The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 12



Setelah aku menarik kain itu keluar dengan jerih payah, aku memutuskan untuk menyembunyikan kain panjang nan tebal itu. Karena bagaimana pun tubuh ini tak akan bisa menyembunyikan kain itu di tubuhnya.


10 menit kemudian, aku telah menyembunyikan kain itu dengan sempurna. Dan kenapa secepat itu? Karena ia melihat rerumputan tebal yang dekat dari tubuh mungilnya.


Yah, kira-kira 1-10 meter?


“Hosh... Hosh.” Aku pasti akan ngos-ngosan, karena sangat berat! “Lalu apa yang, hosh... harus ku lakukan...” lanjutku sambil mengelap keringat di kening yang bercucuran dengan tangan kosong.


“Sialan.” rutuk ku pelan, kain itu selain berat ternyata juga sangat menyebalkan!


Bisa-bisa nya kain itu jatuh tepat di tubuh kecil nya, dan pastinya aku hampir tak bisa bernapas dengan leluasa. Rasanya sakit bila ditimpa seperti itu.


Andai saja ada yang menyelamatkan nya dari ketertimpaan itu.


Plak!


Aku menampar pipi kanan ku sendiri agar sadar diri, “Auh...” ringisku. Ah, sudahlah buat apa aku berhalusinasi dengan hal yang tidak pasti?


Duh, merepotkan saja. Sangat membuang-buang waktu.


“Haa~” aku menghela nafas.


Oke, mati kita langsung ke point utama. Mari kita kabur, rencana kabur waktu bayi yang aku susun itu akan aku lakukan.


Jika berhasil, sih.


Oke, mari kita berkeliling terlebih dahulu.


***


Doeng.


“.....” Celliana Anvele Lagronvi.


Saat ini aku berada di sebuah rumah tua yang masih terawat dengan baik, aku duduk dengan santai. Dan apa kalian tau kenapa aku bisa kesini? Itu karena saat perjalanan berkeliling, aku tak sengaja bertemu dengan kakek tua yang nampak encok saat berjalan.


Karena aku tak merasa terancam dan merasa iba dengan kakek itu, aku membantu nya dan membawanya kembali ke rumah nya dibantu dengan arahan dari kakek itu.


“Ah, cucu. Kau boleh memakan apapun disini, dan aku bisa melakukan apapun yang kau mau selama aku bisa.” ujar kakek itu tampang tua nya tersenyum, dan itu tak mengurangi kadar kharisma muda nya?


Aku merasa canggung, “Ah, i-iya kakek.” jawabku gugup. Bukan tanpa sebab, karena memang aku tak terbiasa bila bertemu nenek atau kakek di dunia asliku atau dunia ini.


“.....”


“.....”


Hening, tak ada yang membuka suara lagi. Maka aku akan mencoba berpikir sebentar.


2 menit lebih kemudian, akhirnya aku menemukan jawaban untuk kabur. Kakek tua itu sempat berkata bukan? bahwa “Ah, cucu. Kau boleh memakan apapun disini, dan aku bisa melakukan apapun yang kau mau selama aku bisa.”


Baiklah, maka aku akan mengusulkan kepada kakek itu bahwa aku ingin kabur.


“Kakek.” panggilku dengan nada pelan.


Jika kakek itu menolak.


“Ya, cucu?” kakek itu menyahut panggilan ku.


Maka, aku tak bisa berkata apa-apa sudah.


“Bolehkah aku mengatakan keinginan 'ku?” tanya ku dengan mata berbinar lucu.


Kakek itu hanya mengangguk kan kepala nya dengan pelan, ah mungkin karena tulang rapuh nya. Kasihan sekali menjadi kakek itu, tapi yang pasti aku akan mengalami masa-masa rapuh itu juga nantinya.


Jikalau aku bisa bertahan hidup di dunia ini.


“Bolehkah kakek membantu ku keluar, dari tempat terkutuk... ini?” tanyaku lagi dengan nada disengaja menyedihkan.


Kakek itu terdiam sejenak.


Ah! Harusnya aku lebih baik tak mengusulkan itu, tapi sudah terlanjur. Maka aku hanya bisa berdiam, menutup mulut serapat mungkin.


Hanya sedikit kemungkinan kakek tua encok itu merasa iba kepadaku. Sangat menyedihkan.


[Bersambung!]


Haii smuanya, it's me author AnnaOne! Yeay akhirnya up lagi, jaringan author kadang buruk. Dan kenapa ga upload2? itu karena mati lampu seharian, Batre author waktu itu sudah menipis banget, jadi mohon maaf atas kesalahan yang saya perbuat ya teman-teman🙏 kalau begitu sampai jumpa, and see u later.


Salam Hangat AnnaOne.