
Hosh
Hosh
Hosh
“Gi-gila!”
Aku yang panik jauh-jauh berlari dengan penuh kekhawatiran merasa dipermainkan oleh perasaan, lihat lah mereka baik-baik saja. Bahkan mereka bangun dari duduk mereka dan menghampiri ku.
‘Kurasa aku yang terlalu khawatir.’ Batinku.
“Apakah tidak terjadi sesuatu pada kalian?” Tanyaku memastikan.
Mereka saling menatap, dan mengangguk secara bersamaan. “Benar, tapi ada dua orang dengan jubah hitam mereka datang kemari.” Maria menggantikan mereka untuk berbicara, karena ia tahu kondisi tujuh orang tersebut.
“......”
“Mereka masuk ke rumah itu?” Tanyaku lagi.
“Iya.” Maria.
“......”
‘Ah sial gawat! Aku tidak tahu harus ku apakan tubuh iblis itu.’ Aku memukul kepalaku untuk berpikir, apakah yang dilakukan dua manusia itu di dalam?
“Em, baiklah. Kalian tunggu sebentar.”
Aku akan mencobanya.
Drap
Drap
Aku kembali kerumah tersebut dan tidak melihat ada tanda-tanda kedua manusia tersebut.
Dengan gerakan cepat, aku menyentuh tubuh besar serigala iblis itu, dan mencoba memasukan tubuhnya kedalam cincin penyimpanan.
Swuuushh.
“Eh?”
Menghilang? Bukan kah itu berarti tubuh manusia ataupun hewan dapat ditampungnya, kupikir hanya barang-barang saja.
Ini terlalu luar biasa, kurasa saat tubuh serigala iblis itu didalam cincin penyimpanan ia akan awet.
Hm, kalau begitu bagus lah, aku harus segera keluar dari sini dan pergi mencari rumah untuk disewa.
Kurasa rasa khawatir yang kurasakan berasal dari sini.
“Heh.”
Akun keluar dan tanpa perduli apapun aku membimbing mereka semua untuk pergi mencari rumah.
.
.
.
.
.
“Kurasa rumah dengan tingkat 3 cukup?”
Aku menatapi mereka yang merasa takjub dan senang.
“A-aku tidak menyangka, a-aku masih hidup.” salah satu seorang lelaki berkata demikian, ia pun dengan sigap memelukku dengan kondisinya yang mengenaskan.
Aku pun membalas pelukannya.
“Sudah-sudah, sekarang kalian aman. Lagi pula aku bukan menyelamatkan kalian, tapi dia.” ujar ku sembari menunjuk Maria yang terkekeh malu.
.
.
.
Di kamar dengan pintu bertuliskan nama Celliana, aku sedang berbincang dengan Maria, tentang apa yang terjadi sampai-sampai ia bisa disana.
“Awalnya saat aku tenggelam dengan terbawa arus, aku tidak menyangka, akan dipisahkan oleh mu.”
“Namun, tak terasa aku sudah di bawa terbang oleh orang dengan gumpalan darah, wajahnya tertutup topeng yang retak di bagian mata dan mulut. Saat melihatnya aku ingin muntah dan berteriak meminta tolong, namun mulutku tidak bisa berbicara.”
“Tibalah aku di sebuah tempat yang sangat mengerikan dari wajah orang bergumpal darah tersebut.”
Maria melirik ku, “Kau pasti sudah tahu, jadi segitu saja.”
Aku bingung harus menanggapinya seperti apa. Itu hal biasa, tapi yang membuatku merasa semakin menarik adalah orang dengan gumpalan darah di sekujur tubuhnya, serta topeng retak dibagian mata dan mulut.
Mungkin suatu saat, jika aku menjadi seorang detektif aku bisa menyelidiki nya.
Aku mengangguk, dan tersenyum sampul.
“Sebelum itu, kita harus membuatkan makanan untuk mereka, para korban.”
.
.
.
“Hey Celli, apakah kau tahu cara memasak?” remeh Maria.
Aku dengan bangga membusungkan dada, “Tentu saja, kau tidak boleh meremehkan ku.” ucap ku dengan pekikan kecil.
Maria mendecih.
“Tapi karena disini tidak ada bahan makanan, aku akan pergi belanja terlebih dahulu.” Ucapku pada Maria dan meninggalkannya sendirian disana.
Klek.
Aku baru teringat, katanya akan ada festival ditempat ini. Kurasa aku harus mengajak ke tujuh orang tersebut, deh.
Sekarang aku sudah berada di pertengahan pusat perbelanjaan, “Eum... apa saja ya adanya?” Tentu saja aku bingung, karena dunia ini adalah Novel, akan sangat berbeda dengan dunia nyata bahan-bahan nya.
“Dibeli-dibeli kecapnya hanya 5 perak!!! Sedang promo!”
Aku yang mendengar suara kecap pun langsung berlari kearah suara penjual tersebut.
“Benarkan ini kecap?” tanyaku serius.
Orang itu terkejut karena kehadiranku, namun ia segera menetralkan wajahnya.
“Benar, kecap ini terbuat dari biji kacang kedelai putih dan hitam. Murni.”
‘Hal seperti ini pun ada. Author nya memang tidak dapat di tebak.’ aku merasa lelah otak karena ini.
“Baiklah, bolehkah aku ambil 5 bungkus kecap ini paman?”
Wajah penjual itu langsung sumringah. Ia mengangguk semangat dan memberikan kecapnya.
“Terima kasih (2)”
Sekarang aku ingin membeli daging. Mata ku pun langsung melihat dengan jelas penjual daging.
Drap
Drap
Drap.
“Daging apa ini paman?”
Penjual itu merasa kaget dengan kehadiran ku. Tapi lagi-lagi ia menetralkan ekspresi wajahnya.
Kenapa sih dengan mereka?
“Ini adalah daging segar dari serigala muda yang baru di tangkap oleh asosiasi pemburu. Jika kau bertanya harganya, 1 koin emas.” Paman itu tersenyum.
Tanpa bertanya loh, paman itu tampaknya tidak ingin berbasa-basi rupanya.
“Baik, saya ingin ambil 10 daging ini.”
“Baik 10 koin emas.”
.
.
.
.
.
Sekarang aku berada di depan rumah sewa dengan 12 kamar didalamnya.
Aku membawa kecap 5 bungkus, 10 daging serigala, dengan susu yang beraroma susu kambing dan garam sebagai pencipta rasa.
“Nah, kurasa daging dan susu adalah kombinasi yang bagus.”
Klek.
“Maria!”
[Bersambung!]
HAPPY NEW YEAR 2022 ALL.
Maaf telat, tapi gpp lah ya, masih di bulan Januari hehe^^
See ya, salam Author AnnaOne!
—————————————————————
Ngomong-ngomong author ingin mempromosikan karya Original baru author, cek aja di profil author atau ketik di pencaharian Sempurna. Terimakasih!