The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 28 (S2)



“Apakah kau sudah siap?” tanya Maria yang sedang sibuk dengan sebagian pakaian yang ia hadiahkan untuk ku. “Oh tidak, bagaimana aku akan menyimpan ini semua?” ia mendesah pasrah. Sejujurnya aku sudah menyuruhnya untuk meninggalkan sisanya, namun ia malah marah karena bisa saja di ambil orang lain.


“Aku sudah siap” jawabku cepat. Maria sudah tahu bahwa aku memiliki cincin penyimpanan. Jadi kurasa tidak perlu sembunyi-sembunyi menyimpan sesuatu bila didepan nya. Tanpa terkecuali barang berharga, pemilik bisa saja mati ditangan seseorang dan cincin itu akan kehilangan majikan jadi akan ada baik dan buruknya.


“Jika mau, kau bisa menyumbangkan pakaian mewah itu ke panti asuhan.” ujar ku membujuknya agar tidak repot-repot dan merepotkan.


Ia menatapku tajam, “Ini hadiah dariku untuk mu tahu,” ucapnya dengan nada tinggi dan, matanya berubah menjadi sayu. “Tapi... kau ada benarnya. Lagi pula cincin penyimpanan mu tidak mungkin bukan, menyimpan terlalu banyak pakaian.” lanjut ucapnya menundukkan kepala.


“Hahaha, tentu saja. Kita juga masih membutuhkan barang-barang lainnya.” ucapku mengeluarkan permen kapas dari cincin penyimpanan. Dan memakannya.


Maria hanya tersenyum dan membungkus pakaian yang mewah itu untuk di sumbangkan kepada panti asuhan. “Kuharap mereka menyukainya.” Maria tersenyum kearah ku.


Aku tersedak permen kapas, “Uhuk. Em, begitulah.” balasku aku membuka pintu dan keluar diekori oleh Maria yang mengangkat bungkus pakaian.


“Kau sudah siap?” tanyaku pada Maria yang hanya diam. Entah kenapa, mungkin kah ia sedang mencemaskan hal lain?


“.....” Maria Barch.


Dia hanya terdiam dengan menundukkan kepala nya sedikit. Aku memegang tangannya erat, “Hey, kau tak apa?” tanyaku lagi karena merasa diacuhkan, sepertinya benar ia mencemaskan sesuatu.


“Eh, ya?” Maria mendongakkan kepalanya menatap ku yang sedikit lebih tinggi darinya. “Maaf aku tidak fokus... Jadi tidak mendengarkan mu.” ia menundukkan kepalanya lagi.


Aku menatapnya, ‘Oh, tidak apa. Walau kau cerewet dan sedikit merepotkan.’ batinku yang ingin menepuk punggung Maria. Namun hanya dalam imajinasi.


“Kalau kau ada masalah ceritakan saja padaku.” ucapku dengan setulus-tulusnya. Aku hanya ingin tahu, apa yang ia cemaskan!


Maria menggelengkan kepalanya, menatap mataku dengan keluarnya cairan bening di matanya. “A-ah, maafkan aku. Mari lanjutkan saja, nanti kita kelewatan waktu.” jawab Maria mengalihkan pembicaraan.


‘Benar, untuk apa aku ikut cemas tentang masalah orang lain.’ batinku mendelik kesal. Dahulu, saat aku menjadi Viviana tidak pernah aku ikut campur persoalan masalah orang. Bahkan berkata ‘ceritakan masalah mu.' kepada orang lain.


Watak ku sepertinya berubah sedikit. Apakah otak ku bergeser dari tempatnya, ya?


Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku. ‘Kurasa baik-baik saja, sialan.’ tanpa basa-basi aku menarik tangan Maria dan berlari pelan keluar dari penginapan.


Semua orang menatap kami, bukan, lebih tepatnya menatap Maria yang mengenakan pakaian mencolok! Ia menggunakan gaun hijau permata, seperti akan kepesta saja.


Berbanding balik dengan ku, yang mengenakan dress sederhana yang sempat aku beli di butik tidak ternama. Yah, tapi setidaknya pakaian yang aku kenakan berbahan lembut.


“Celli, mengapa semua orang menatapku?” bisik Maria kepadaku dengan wajah tertekan. Seperti ia akan mendapatkan masalah!


Kali ini sihir, karena Maria sangat terburu-buru. Jadi yang menanggung biaya adalah Maria.


“Akhirnya...” Maria memukul pundak ku pelan.


“Kasar sekali.” Gumam ku keras, sengaja agar ia mendengarnya.


“Apa? Kau membicarakan ku?” Maria memicingkan matanya.


Aku hanya diam, dan Maria segera membayar biaya sewa kereta kuda sihir. Setelah itu kami masuk kedalam kereta kuda.


Kuda yang satu ini bisa terbang, jadi disebut kuda sihir. Harga sewanya mahal sekali! 300 keping koin emas per kereta.


Wajar saja, banyak yang menaiki kereta kuda pribadi saat perjalanan panjang.


***


Swushh


Swushh


Swushh


Aku menatap takjub dari ketinggian yang menembus dari atas awan, ini adalah pertama kalinya aku melihat hal semenakjubkan ini!


Dulu aku tidak pernah merasakan rasanya naik pesawat, seperti yang kalian tahu. Anak terbuang tetaplah terbuang, pada akhirnya harus mencari uang dengan kepedihan untuk menghidupi diri sendiri.


Aku menggelengkan kepalaku, menghapus semua jejak pikiran yang tak berguna. Aku hanya perlu memikirkan masa depan ku didunia novel 'Kematian Putri Marquess'.


Dan, tentu kematian Celliana yang sekarang sudah terjamin tidak akan terjadi. Pemeran antagonis memanfaatkan ku? Oh, kurasa tidak akan terjadi. Aku akan menghindari hal tersebut dan akhir yang menyedihkan dari Celliana asli.


9 Jam kemudian.


Aku terbangun saat merasakan sensasi hangat yang menjalar di tubuhku.


“Uhm?” aku membuka mata kanan ku, untuk mengintip. Namun aku terbangun dengan sempurna saat melihat sosok itu!


[Bersambung!]