
Aku mengambil sebuah kunci di atas nakas, yang bisa ku ketahui dalam sekali melihat bahwa itu adalah kunci pintu kamar ini.
“Aku baru pertama kali melihat rupa kunci pintu kamar disini.” Bentuknya memang seperti kunci pada umumnya, namun design kunci yang satu ini terbuat dari permata.
Apakah selama ini Chena yang memegang kunci kamar ini ya? Tapi tidak mungkin, bisa saja ia langsung menjual nya karena kunci ini terbuat dari permata dan emas –Terlalu mewah untuk sebuah istana miskin, Atau Lezarus yang mungkin sekarang telah menjadi kepala keluarga Duke Lagronvi. Entahlah.
“Aku harap cerita novel Kematian Putri Marquess tidak berantakan.” gumam ku. Karena dari awal aku sudah berbuat kesalahan, yaitu mengacau pemeran antagonis.
Mungkin bisa saja aku akan tamat, sekarang juga. “Uhuk.” aku terbatuk kecil saat memikirkan nya.
Tanpa perlu lama aku membuka sedikit pintu kamar, mata ku mengintip sekilas dan yang aku lihat saat ini adalah lorong yang tampak bersih dari sebelum aku menjadi Celliana 5 tahun.
Dengan ditengah jalan lorong terdapat... karpet merah?
Hee? Jangan bilang semua ruangan istana Glowne telah di renovasi ulang? Dan lihat lah, lampu gantung yang terlihat mewah. Lorong nya menjadi lebih terang dari sebelumnya.
Aku dengan segera menutup pintu kamar dengan cepat. Tubuhku bergetar, “Jadi... benar Lezarus sang antagonis telah mengambil alih pewaris? Lalu bagaimana aku keluar dari sini, sialan.” rutuk ku. Ah, otakku saat ini sedang tidak bisa diajak kompromi.
Harus nya aku menyadari nya dari awal. Disaat aku ingin merutuki diriku lebih banyak, aku mendengar suara ramai orang-orang. “???” karena rasa penasaran aku menguping pembicaraan mereka.
“Hey, apa kau menyadari sesuatu?” tanya salah satu gadis perempuan yang aku tidak ketahui jabatannya.
“Tidak, memang nya apa?” tanya balik orang yang ditanyai itu.
“Tadi aku merasa pintu sebelah sana itu bersuara.” ucapnya.
“Mungkin hanya perasaan mu saja. Ruang yang kau tunjuk itu kan gudang yang Tuan Besar tidak izinkan siapa pun masuki.” acuh gadis itu, jujur ia juga merasa aneh kenapa tidak ada boleh yang memasuki ruang itu.
“Kau ada benarnya.”
...
Aku menutup mulutku rapat, Apa katanya tadi? Ruangan ini gudang? Jelas-jelas ini adalah kamar.
“Oh iya!” aku melotot dan baru tersadar bahwa didalam novel dijelaskan bahwa kamar bekas Celliana dijadikan sebuah gudang terbengkalai. Karena ruangannya yang cukup luas, muat untuk mengisi barang tak berguna di Istana Glowne.
Novel ‘Kematian Putri Marquess’ pun menjelaskan, saat setelah Lezarus mengambil alih pewaris Grand Duke dengan kejam ia mulai mengobrak-abrik seluruh Istana Glowne dengan hebat!
“Mengerikan.” gumam ku tak bisa berkutik.
Aku harus melarikan diri dari sini, lagipula kenapa Celliana pemeran figuran harus terjebak dalam kandang harimau sih.
Aku melirik ke arah segala perabotan yang bisa ku bawa, karena aku menemukan kain diatas meja rias. Tak menunggu lama aku mengambil boneka kayu yang ada diingatan Celliana saat berumur 6 tahun, patung Dewi Davlen yang retak dan lainnya.
‘Kurasa ini sudah cukup.’ batinku merasa puas.
Aku mengikat tutup kain itu. Aku mengangkat kain besar itu dengan wajah keberatan, “Kenapa berat sekali sih.” aku kesal dengan keadaan saat ini.
Aku harus pergi dari Istana Glowne melewati jendela yang ku lalui saat berumur 5 tahun. Menggunakan kain untuk turun secara perlahan.
Ah! Benar kain, aku memungut dress untuk anak-anak yang sudah terlihat lusuh di bawah lantai dan merobeknya. Sangat mudah dirobek jika kain itu berbahan murah.
5 menit kemudian.
Sekarang kain yang menjulang panjang telah siap, maka yang kedua adalah melihat situasi dahulu.
Aku membuka gorden (kain) jendela yang tertutup, keadaan kamar saat ini terlihat cukup gelap. Aku melihat keramaian diluar, orang dengan pakaian pelayan membersihkan halaman, bahkan ada juga beberapa yang sedang bergosip.
“Jadi... aku harus bagaimana?” aku menggaruk tengkuk leherku yang tidak gatal, jujur aku bingung sekarang harus melakukan apa.
Jika disuruh berpikir, maka aku telah berpikir dengan keras.
Jika disuruh melakukan sesuatu, maka aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Ehm...”
Saat tengah berpikir dan terhanyut dalam kebingungan. Suara seorang pria yang terdengar mendesak, berteriak dengan nyaring, nyaris saja tubuhku jatuh. Aku pun berbalik kearah suara itu berasal, tepatnya didepan... pintu?
“BIARKAN AKU MASUK KEDALAM!!!” teriak lelaki itu, orang-orang yang berada di lorong pun melihat lelaki itu dengan wajah panik.
“Hey Tuan Baron, bukankah Anda datang kemari karena ada urusan bisnis? Bukan mengorek informasi pribadi bagian dari Grand Duke...” ucap pelayan gadis memarahi Pria yang dipanggil ‘Tuan Baron” itu dengan halus.
“Jangan menghalangiku, bukan kah kalian berkata bahwa ruangan ini hanya gudang biasa.” Baron itu tetap saja keras kepala ingin masuk kedalam ruang yang dibilang gudang.
Para pelayan pun berangsur lebih panik, entah mengapa. Mereka mulai mengulur waktu demi ke waktu. Sampai orang yang cukup berkuasa datang, ehm contohnya kepala pelayan mungkin?
...
Kalau dipikir-pikir kenapa seorang Tuan Baron datang ke Istana Glowne? Mungkinkah Lezarus Ez Lagronvi ruang kerjanya berada di Istana Glowne? Bukan di Istana Utama. Dalam novel tidak dijelaskan.
Setiap membicarakan Istana, aku langsung kepikiran sebuah Kerajaan.
“Tapi bukan ini masalahnya.”
Ada apasih, mungkin kah karena Tuan Baron, Baron itu?
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku membuka jendela dengan lebar dan mengeluarkan kain yang menjulang panjang.
Hmm, lumayan panjang walau tak menyentuh rerumputan yang tampak terlihat lebih hijau. Bahkan ada bunga-bunga kecil tumbuh diatas rumput.
“Bagus juga, ini pertama kalinya.” aku mulai mengangkat bagian bawah dress ku yang ikut memanjang saat aku tersadar dan dengan sigap aku melompat, dengan cepat aku memeluk erat kain itu sebelum benar-benar terlihat seperti bunuh diri.
Perlahan-lahan aku mulai merasakan aroma khas rerumputan segar di udara. Dan tak, aku telah sampai di daratan rumput alias halaman depan Istana Glowne.
Sejak terakhir kali aku kemari, tempat ini terlihat cukup asri tapi tidak sesegar dan se'asri ini.
Oh ya, aku saat ini merangkul kain besar.
Aku melihat ke sekeliling, mataku terfokus pada pintu utama masuk Istana Glowne.
Mewah.
Hanya itu yang bisa ku ucapkan.
Aku kembali memfokuskan pada tujuan awalku, aku melewati berbagai macam tempat yang sebelumnya tak pernah aku lihat.
15 menit kemudian.
Tubuhku rasanya ingin terjatuh, namun aku menahannya. Dan sekarang aku tersesat disebuah tempat yang aku rasa familier, dekat hutan dan juga taman.
Aku maju terus dan menerus, terlihatlah dengan jelas rumah kayu yang masih terlihat kokoh.
“Rumah kakek tua encok?” gumam ku bertanya tanya. Tapi kurasa tidak ada yang akan menjawab.
Aku pun memberanikan diri untuk masuk, ceklek, betapa terkejutnya aku saat melihat ruangan didalamnya tidak berubah sama sekali. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut, melainkan seorang kakek tua yang berjenggot putih panjang terbaring lemas diatas sofa.
Aku mendekat “Kakek?” aku memanggilnya namun ia tak berkutik sama sekali, aku mengguncang tubuhnya pelan.
Mata kakek itu memancarkan cahaya putih, aku refleks menutup kedua mataku dan saat merasa cahaya itu meredup aku membuka mataku.
Aku dibuat terkejut lagi olehnya, tubuhnya seperti akan hancur menjadi serpihan debu. Dalam novel, menjelaskan jika seseorang mengeluarkan serpihan debu ditubuhnya, maka ia akan segera meninggalkan dunia fana.
Mataku tak bisa mengeluarkan air mata sedikit pun, mungkin karena kami tak dekat. Bahkan namanya saja aku tidak tahu.
Detik ke detik, dan akhirnya tubuh kakek tua encok itu sepenuhnya sudah tidak terlihat lagi.
“Huft...” aku menghela napas, pada akhirnya semuanya akan tiada dan hancur menjadi debu diumur yang telah ditentukan.
Aku teringat bahwa katanya kakek itu ingin berkonstribusi dengan Istana Glowne, tapi kurasa itu tak akan terjadi. Mengingat waktu yang aku lalui dalam sekejap, “Menyebalkan.”
Aku melihat ke sekeliling ruangan, dan tentu saja letak perabotan nya masih sama dengan yang dulu.
Ah... aku jadi teringat saat pertama kali tersesat kesini karena kakek tua encok itu, entah mengapa aku merasa bersalah, karena menyebut orang yang sudah tidak ada dengan kurang ajar.
Senyuman tulus terpampang di wajahku, saat mengingat masa-masa itu.
Setidaknya sebelum aku pergi dari tempat ini, aku harus membawa sesuatu juga kan, sesuatu yang berharga dan ditukar kan menjadi koin emas.
Aku mengelilingi setiap sudut ruangan selama 10 menit. Hasil yang aku dapatkan tidak mengecewakan dan tidak membanggakan juga.
Mendapatkan sekantung koin emas dan perak, dan secarik kertas yang berisi ungkapan dengan bahasa kuno.
Aku tidak mengerti maksudnya, dan masih ada satu kertas lagi yang belum aku buka. Karena rasa penasaran aku membukanya dan membacanya.
(“Untuk Cucu ku terkasih, jika kau menemukan surat ini maka sekarang aku sudah tidak ada”). Kalimat awalan.
“Hm, aku tahu... Bahkan aku sudah menyaksikan nya tadi.” aku lanjut membaca ke paragraf selanjutnya.
(“Aku sudah membantu Istana Glowne untuk tumbuh kembang bersama Nak Lezar. Apa kau ingat tentang kontribusi yang kita ucapkan dulu? Aku telah menyelesaikan nya sejak 12 tahun lalu.
Selama ini aku tidak pernah bertemu denganmu lagi, entah apa yang terjadi padamu. Tetapi aku berharap kau datang dan membaca isi surat ini.
Sekarang Nak Lezar, Kakak mu telah menjadi seorang bangsawan Grand Duke Lagronvi yang sesungguhnya. Aku bahkan tidak berani menatap wajahnya. Dia sekarang bertingkah dengan sangat kejam.”)
“Jika kau berkata ia kejam, maka dirinya memang sudah kejam dari dulu.” aku sedikit merasa benar-benar ini tidak nyata tapi ini adalah kenyataan.
“Ah? Jadi dia menepati janjinya.” aku terkejut awalnya kupikir semua percakapan dan interaksi ku dengan mereka, semuanya akan hilang dalam ingatan. Ternyata tidak.
“Lama juga, 12 tahun lalu. Berarti sekitaran dimana hari aku sudah melompati waktu.” aku mengelus daguku dan mengangguk.
Kurasa aku harus pergi sekarang, mengingat tujuanku sekarang adalah berteman dengan pemeran utama wanita. Maka aku harus pergi ke wilayah Sholten, dimana mansion Marquess Ywille berada.
Jika dihitung dengan jari, naik kereta kuda kesana membutuhkan 3-7 hari, serta membuang-buang banyak koin. Apalah daya hidup miskin ku di dunia ini.
[Bersambung!]