
“AAAAA!!” teriakku histeris sambil sesegukkan.
“Hiks...”
Dalam novel “Kematian Putri Marquess” dijelaskan bahwa pemeran figuran Celliana Anvele Lagronvi sangat ketakutan akan petir, maka sebaliknya dengan kakaknya yang seorang pemeran utama pria antagonis, ia membenci petir. Namun bukan berarti pemeran antagonis itu takut dengan petir, ia sangat tak suka dengan bunyi berisik dari petir.
Aku meringkuk kedalam selimut yang tebal itu, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa takut itu.
“Hiks!!” hanya kata itu yang bisa kulontarkan dalam bibir mungil ini. Padahal dalam hati, ‘Bodoh, petir yang bodoh. Apakah petir itu berasal dari dewa zeus? Sangat bodoh tubuh ini jadi ketakutan.’ batinku merutuki petir yang kemungkinan adalah ulah Dewa Zeus.
Mungkin akulah orang pertama yang berani mengutuk seorang Dewa.
Brakk!!
Pintu kamar terdobrak dengan sangat nyaring, saat terbuka munculah pelaku pendobrakan. Itu adalah Lezarus!
“Berisik sekali kamar ini.” ucapnya dengan datar.
Saat datar-datar begitu pun masih tampan, apalagi saat ia tersenyum.
DEG
Aku mendengar suara Lezarus, spontan aku membuka selimut yang aku gunakan untuk menutupi diri, aku melihatnya yang sedang menatapku diatas kasur dengan datar.
Tanpa sadar aku berdiri dan berlari memeluknya, tubuh ini sangat ketakutan, ia butuh seseorang untuk bersandar!
Pluk
“Hei! Apa yang sedang kau lakukan?” ucap Lezarus dengan tekanan yang ia keluarkan.
Aku bergelayutan pada paha nya, menjawab. “Ma-maaf aku ketakutan. Hiks!” lirihku pelan dengan sesegukkan alami.
“.....” Lezarus.
Hening, jika sudah begini lebih baik aku memintanya untuk menemaniku tidur? Semoga ia tidak melenyapkan ku, mari kita coba dengan kekuatan imut pemilik tubuh!
“Tu-an... Tidurlah bersamaku, aku tak bisa tidur sendirian, hiks!.” ucapku dengan nada memelas. Mataku sudah berbinar-binar menatap wajahnya yang sangat tinggi.
“.....” Lezarus.
Tak ada respon, ‘Apakah aku salah berbicara? atau berefek?’ batinku bingung dengan respon datar yang diberikan oleh Lezarus.
Aku yang menyaksikan momen langka itu berteriak dalam hati, ‘Berdamage!!’ inilah baru yang dinamakan ketampanan seorang antagonis.
Kemudian Lezarus mengangkat tubuh mungilku, dan berjalan mendekati kasur yang tak jauh. Ranjang itu cukup untuk 2 orang.
Lalu Lezarus membaringkan tubuhku. “Sudah.” ucapnya singkat. Lezarus yang hendak meninggalkan ku begitu saja, terdiam sesaat setelah aku memanggil namanya.
“Lezarus...” lirihku pelan, ‘Oh dewa, ini tak apa kan?’ batinku panik.
Dalam novel, hanya orang tertentu saja yang pantas menyebut namanya. Contohnya pemeran utama wanita “Kematian Putri Marquess”.
Lezarus membalikkan tubuhnya kearah ku, lalu ia beranjak kesamping ranjang dan membaringkan tubuhnya disampingku. Ia berbaring membelakangi ku.
Kurasa itu masih kurang, aku harus memeluknya. Kalau tidak salah, orang yang takut dengan petir akan merasa tenang dan nyaman saat ada seseorang yang memeluknya. ‘Maka aku akan mencobanya.’ batinku.
Sruk
Aku memeluknya dari arah belakang. Entah bagaimana respon nya saat ini. “Hangat...” ucapku dengan pelan, aku dapat merasakan kehangatan saat memeluk tubuh Lezarus dari belakang.
Hoam... Aku mengantuk, maka aku akan tidur. Sekarang suara petir yang berkeliaran itu tak menghambat tidur siang ku.
Hujan yang lebat metutupi semua langit dengan awan-awan gelap.
POV AUTHOR.
JDERR
JDERR
Berkali-kali petir itu menyambar dengan suara keras, tak dapat berkutik kepada Celliana (Alias Viviana Feelnea) yang sedang tertidur dengan pulas, sambil memeluk erat tubuh sang kakak Lezarus sang antagonis.
Jangan salah paham terhadap kedua kakak beradik tak sedarah ini, oke. Fufu.
[Bersambung!]
Aku dah tepati kata-kataku, tapi maaf karena pendek. Karena aku bingung mau nulis apaan, soo semoga kalian suka dengan cerita pertamaku (anggap aja:v). Kalau berbelit-belit maaf, kalau ada typo maaf, kalau ada penuturan kata yang kurang maaf. Dan sekali lagi maaf atas kekurangan yang saya berikan 😭✊
Kalau begitu terimakasih dan, Salam Hangat AnnaOne.