The Antagonist'S Younger Sister

The Antagonist'S Younger Sister
Chapter 34 (S2)



Kami memasuki kuil suci itu dengan disambut hangat oleh para pendeta yang menjaga gerbang.


Hampir semua yang berjaga adalah seorang pendeta, apakah tak ada seorang pun pengawal? Entahlah, aku tidak begitu paham dengan lubang dari cerita ini.


Sebelum benar-benar memasuki gedung kuil, kami diharuskan masuk kedalam sebuah mata air yang dianggap suci untuk menghapus segala dosa dan membuat kuil itu tetap suci saat di injak setiap langkahnya.


Adat yang menarik.


“Selamat datang di mata air suci. Nona-nona silahkan kemari untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.” seorang wanita tua dengan pakaian pendetanya mengantarkan kami semua yang datang secara bersamaan menuju ruang ganti.


Setelahnya, kami disuruh mengganti pakaian dengan pakaian putih polos lengan panjang disertai sulaman emas dengan yang pola rumit.


Tak butuh waktu lama bagi kami mengganti pakaian, semua diantarkan kembali menuju ke mata air suci.


Satu per satu dari kami akan diberikan sebuah apel hijau yang disekitarnya terdapat aura berwarna putih ke 'emasan.


Dan tibalah giliran ku, tentu saja aku menerimanya dengan baik. Tanpa perlu petunjuk dari pendeta tersebut aku memakan nya dengan gigitan yang besar.


Kruk.


Saat aku memakan daging dari apel itu, aku merasakan sensasi sejuk menjalar ke seluruh tubuh. Terasa nyaman dan tenang, tanpa menunggu lama aku disuruh oleh pendeta tersebut untuk masuk ke dalam mata air suci yang telah berisikan lebih dari 100 (seratus) umat manusia!


‘Aku tidak menjamin, apakah ada semacam kotoran yang akan menempel pada mata air suci ini.’ Batinku merasa ragu-ragu untuk masuk, namun karena ini merupakan satu-satunya cara untuk masuk kedalam gedung kuil suci sesungguhnya aku harus terjun kesana.


PLUK


Byurrr!


Seluruh tubuhku terasa berat begitu jatuh kedalam air dalam, aku menatap kebawah dan yang mengejutkan dari mata air suci ini adalah sangat dalam.


Aku tidak bisa membayangkannya, lihatlah pusaran air yang gelap itu, melihatnya saja sudah bergidik ngeri. Tanpa menunda lama lagi aku naik ke dasar air, dan bertemu dengan semua orang dengan senyuman manis mereka.


‘Apakah karena dosa mereka telah terhapus kan mereka menjadi seperti ini..?’


...


Itulah yang aku pikirkan tadinya, namun ternyata belum saatnya terhapus.


Sesuai instruksi pendeta penjaga kolam mata air suci, mereka umat-umatnya untuk menghapus dosa harus berendam selama 30 menit.


Tanda-tanda jika tubuh terasa berat dan hampir jatuh kedalam pusaran hitam terdalam, maka dapat diketahui dosa dari seseorang tersebut sangat besar nan dalam.


Jika ia berusaha membebaskan diri, maka kakinya akan mati rasa.


Saat itu akan muncul cahaya putih dari dalam air untuk orang tersebut, menyelamatkan nyawanya dan tentu menyuruhnya bertobat sepenuhnya.


Em, contohnya aku?


Aku ingin menggaruk kepalaku yang gatal karena kutu, namun karena katanya kaki dan tangan disuruh menyatu seperti patung maka rasa gatal itu hanya bisa ku abaikan.


Bingung, kenapa aku hanya seperti tenggelam sekitar 1 meter kurang. Mungkinkah karena jiwaku yang telah diberkati?


Setelah setengah jam kami semua akan dengan sendirinya naik ke dasar laut, tubuh terasa lebih ringan dari biasanya.


Dengan menguranginya dosa, maka berat badan mu akan menurun.


(Author: Teori dari mana itu?)


Swurrr


Semua orang dengan napas tersengal-sengal saling menatap satu sama lain dengan rasa puas.


Pendeta itu datang, setelah beberapa menit meninggalkan kami. “Bagus! Dari kalian tidak ada yang memiliki dosa berat, karena kalian semua sudah selesai menghapus seluruh dosa, maka keluarlah dan ganti pakaian kalian dengan yang baru.”


Setelah mengucapkan itu, pendeta yang lainnya datang dan menunjukan kami keruangan ganti yang berbeda, pakaian kali ini sama dengan sebelumnya namun yang membedakan keduanya adalah ... merek?


Tunggu, merek? Hanya itu?


Lihatlah label merek dari butik tersebut, jelas-jelas tadi ialah Butik Creis kini berubah menjadi Butik Wporne.


Haha, entah aku harus tertawa harus menangis. Apakah mereka kekurangan bahan pakaian yang sama? Atau memang sudah direncanakan.


Tapi bukan itu pikiranku sekarang, aku harus berganti pakaian dan menuju tempat Dewi Paus biru itu berada.


***


Semua kembali pada posisi masing-masing, dan kami berjalan beriringan dengan patuh dan tenang menuju gedung kuil suci itu.


Gerbang mewah dengan ukiran emas seekor Paus Biru, ditambah lantai marmer yang sudah pasti jika dijual akan sangat mahal per satuannya.


Aku menatap kagum seisi ruangan gedung kuil suci, tak ada kesan buruk bagiku untuk sebuah kuil suci.


Kuil ini yang sedikit membedakan dari kuil biasa yang lainnya adalah, design interior, dan patung-patung para Dewa-dewi mitologi yang terbuat dari emas berjajar di sekeliling ruangan.


[Bersambung!]


Swosh, ngung wuii