
Setelah mendengar seluruh kisah peperangan yang terjadi karena konflik antar manusia dan iblis, aku pun mulai mengerti bahwa dunia ini luas. Bahkan lebih luas dari penjelasan yang hanya ada didalam novel 'Kematian Putri Marquess'.
“Aku mengerti, jadi kau terlibat dalam peperangan yang terjadi karena kedua ras yang saling menyalahkan begitu? Sehingga kau kehilangan banyak MANA karena berusaha menyelamatkan umat yang mengikutimu,” saat mendengarnya aku merasa sedikit kasihan dengan makhluk hidup yang tidak bersalah dalam peperangan dunia antar manusia dan iblis.
Saat memikirkan nya aku merasa bahwa makhluk mitos pun bisa kehilangan kekuatan dan segalanya. Kupikir mereka akan selalu jaya.
“Begitulah,” singkat Serigala itu termenung.
“Bagaimana jika kita mengikat sebuah kontrak? Aku tidak begitu menjamin ini akan berhasil, tetapi aku akan membagikan MANA yang ada di tubuhku kepada mu.”
Serigala itu tampak tertarik dengan tawaran ku, dan dengan mudah ia menerimanya. Jadi saat ini dia telah masuk kedalam cincin penyimpanan milikku, sangat mengejutkan makhluk sebesar itu bisa masuk. Saat ini aku sedang melakukan perjalanan kembali ke rumah, untuk menemui antek-antek ku.
Aku khawatir dengan kondisi mereka, walaupun pasti akan baik-baik saja karena telah meminum ramuan-ramuan itu.
Sesampainya, aku mengetuk pintu dan yang membuat terkejut adalah mereka semua sudah berdiri didepan pintu dengan wajah sedih.
“.....”
“Me-mengejutkan ya?” aku bertanya seolah-olah kepada diriku sendiri.
Mereka memelukku, rasanya hangat, tetapi juga sesak. “Uhh, he-hentikan!” aku melepaskan diri dari mereka, dan masuk kedalam melalui celah.
.
.
.
Malam hari pun tiba, aku senang saat melihat keadaan mereka baik-baik saja tanpa diriku. Maria bilang mereka semua kangen dengan masakan ku, sebuah komentar yang bagus.
Jadi aku menghidangkan banyak sekali makanan utama dan pencuci mulut malam ini!
Saat hendak duduk, seseorang mengetuk pintu rumah. Karena penasaran aku pun maju untuk membuka kan pintu, saat itu aku terpanah melihat sosoknya yang cerah di kegelapan.
‘Jangan bilang?!’ batinku terkejut aku hampir saja menjatuhkan diri, untungnya Maria datang dan menahan ku dari belakang.
“Siapa?” Maria melihat sesosok gadis dengan pakaian mewah ala-ala bangsawan, tersenyum manis. Rambut merah jambu yang diurai dengan rapi, mata bulat yang seperti laut di sore hari, wajah ayang dipoles seolah-olah ia adalah bintang dunia.
Trivia Ywille!
‘Gila, bagaimana bisa dia tau tempat ku? Apa iya ini sebuah kebetulan?’ aku merasakan hawa-hawa keberuntungan, karena pemeran utama mendatangiku sendiri, jadi kita bisa mulai pendekatan kan?
“Maaf membuat kalian terganggu, ada yang ingin saya sampaikan,” begitu Trivia berkata langsung saja aku menyuruhnya untuk masuk, dan membuatkannya teh diruang terpisah dari antek-antek ku.
“Itu... saya minta maaf sekali lagi karena datang tiba-tiba dimalam hari,” ia berdiri dan membungkukkan badan dan kepalanya lembut.
“Jangan seperti itu, tidak masalah. Jadi apa yang membuat anda kemari nona Trivia Ywille?” tanyaku sembari menuangkan teh ke cangkir milik Trivia.
Trivia dengan nada terkejut berkata, “bagaimana bisa anda mengenali saya?”
“Itu... bukankah sudah jelas dari penampilan anda?” jawabku cepat.
Trivia mengangguk, kemudian ia mencengkeram erat ganggang cangkir tersebut, dengan wajah yang ragu-ragu. Sesaat ia menunjukkan ekspresi sedih, itu benar-benar membuat ku bingung!
Karena merasa situasinya canggung aku memulai pembicaraan sampai Trivia ingin mengatakan tujuannya kemari. “Jadi apa yang membawa anda kemari? anda melewatkan pertanyaan saya tadi,” Trivia tersedak saat mendengar ucapanku dan meminta maaf sekali lagi.
‘Terlalu banyak meminta maaf! Ada apa dengan pemeran utama wanita?’
“Jika aku berkata hal-hal yang tidak masuk akal, apakah kau akan percaya?” tanya Trivia dengan tatapan mengkilap dibawah cahaya bulan dan lilin yang membuatnya terlihat perfect!
“Tidak masalah, katakan saja nona.”
“Baiklah,” Trivia menghela napas panjang dan mulai bercerita saat ia berumur 13 tahun, ia memimpikan hal-hal aneh yang mengatakan bahwa seseorang dapat membangkitkan kekuatan miliknya, saat itu Trivia belum sadar akan kekuatannya, dan saat berumur 16 tahun mimpi itu muncul lagi dan menyuruhnya datang kesebuah rumah dipedesaan saat ia berusia 19 tahun. “dan tepat pada hari ini adalah usia ku yang ke 19 tahun.” ucapnya.
“.....”
Hening.
Trivia tertawa kecil, “aku yakin bahwa kau tidak akan memperca–” sebelum ia menyelesaikan ucapannya, aku menggebrak meja dan berkata,
“Tidak, aku justru percaya apa yang engkau katakan!” saat ini aku yakin mungkin saja orang yang menyuruhnya datang kesini adalah Celliana yang asli, mengingat dia bisa memasuki pikiranku.
“Benarkah?” dengan wajah ceria Trivia tertawa sembari mengeluarkan bulir-bulir bening dari matanya. “Ah, lega rasanya,” Trivia menyeka air matanya itu dengan sapu tangan.
‘Kenapa dia menangis?!’ bagaimana tidak terkejut? padahal aku hanya berkata hal-hal biasa.
“Jadi, apa kau tau cara membangkitkan kekuatan milikku ini?”
Dengan cepat aku menjawabnya, “Iya!”
Tak lama suara yang tidak asing terdengar didalam pikiranku, “Apa benar master?” itu adalah suara dari serigala api Murni yang sudah melakukan kontrak dengan ku.
“Tentu saja,” aku tersenyum lebar, seolah mendapatkan hadiah dari lucky draw edisi terbatas!
[Bersambung!]