
Sampailah kami berdua di kelas, pemandangan sekolah sepertinya sudah seperti biasanya tidak ada lagi yang terlihat sadis memandangiku.
Mita dan Edo menghampiri kami untuk masuk kelas bersama aku heran kenapa tidak ada tatapan itu lagi padahal aku mau menunjukan taringku.
Ini pasti kerjaannya Renjun kalau Kevin dia gak mungkin seberani itu untuk menghentikan orang-orang itu karna dia itu sebenarnya memeliki rasa penuh keraguan.
Sampailah kami di kelas kami pun mengobrol banyak dan Fahrizal pun datang menghampiri kami dan berkata “ Edo dan kamu Ra entar kumpul kita rapat buat istirahat lab Ipa! “ lalu pergi meninggalkan kami.
Jam menunjukan masuk kelas aku pun segera pergi ke latihan karna hari ini adalah hari latihan terakhir kami untuk mengikuti lomba dance.
Sampailah aku disana langsung saja kami latihan sesuai perintah pelatih, gerakan demi gerakan kami lakukan alunan musik membuat menambah suasana hingga membuat kami tak sadar kalau sudah istirahat.
Aku pun istirahat dan menuju kelas tanpa sengaja aku bertemu Kevin kami saling menatap dan aku juga merasa seperti Ada tatapan ingin menghajarku jika aku menyapa Kevin.
Aku pun melewatinya sambil agak meliriknya dan menyengol tangannya untuk memberi kode kalau aku tidak apa-apa. Kevin pun tersenyum dan kami pergi dari tempat itu.
Aku pun menemui Fahrizal untul menanyakan kumpul jam berapa untuk membahas lab Ipanya supaya aku bisa mengatur waktu.
Aku merasa seperti di intai seseorang meskipun orangnya gak Ada tapi perasaan ku menyatakan kalau aku sedang di intai seseorang.
Hidupku gini amat ya, ada aja yang mau cari masalah denganku padahal aku gak pernah mencari gara-gara, tapi ya sudahlah aku tetap harus bertahan karna aku sudah janji dengan wanita tua tadi malam.
Sampai di kelas aku langsung gabung untuk makan bersama ke tiga temanku karna hari ini Edo membawa bekal yang banyak untuk kita bersama empat.
Setelah makan selesai aku menuju Fahrizal yang kebetulan bersama gengnya.
“Zal entar jam berapa kumpulnya?”tanyaku
“jam satu. “jawab Fahrizal
“Ok thanks! “ucapku lalu pergi menuju latihan
Latihan dimulai lagi sampai jam dua belas, tibalah jam satu aku pun langsung menuju lab Ipa disana kami membahas soal kita akan membuat sabun batang transparan dan non transpant untuk di jual belikan dan hasilnyaw akan dibagi ke anak-anak panti asuhan.
Aku merasa di sini Fahrizal terlihat sangat keren dia keliatan dewasa aku lebih suka dia yang sekarang saat serius mengerjakan tugasnya.
Tak salah aku menolak untuk dijadikan ketua Lab dan meminta bu Siska memjadikan Fahrizal sebagai ketuanya.
Dia sangat pintar dan ulet kalau masalah seperti ini terlihat keren tapi dia terasa menyebalkan jika jailnya kambuh.
Setelah rapat selesai kami pun pulang ke rumah masing-masing aku pun menunggu angkot di depan halte.
Di dalam lab...
Kevin menyimpan hasil rapat dan disimpan di almari setelah itu dia keluar dan mengunci lab.
Setelah semua selesai kuncinya dikembalikan ke bu Siska dan dia pun langsung pulang namun ketika diperjalanan menuju keluar pintu sekolah tiba-tiba Ada suara yang menghentikan nya.
“kyra itu temanmu dari sd kan? “tanya Edo
“iya kenapa? “tanya balik Fahrizal
“Kyra tampak lebih bahagia dari pada kamu, Fahrizal! Ucap Edo
“Jadi menurutmu aku tak bahagia? “ucap Fahrizal
“Yang ku lihat seperti itu! “kata Edo
“maksudmu?”ucap Edo
“apa itu membuatmu bahagia? “ tanya Fahrizal
“Berisik...! kenapa jadi kesal? Apa kepalamu kepanasan? Ucap Edo dengan nada kesal
“siapa coba yang kesal? Aku tak kesal! Aku hanya muak dengan ocehanmu itu! “kata Fahrizal
“bukannya itu mengungkapkan kalau kamu marah?! “kata Edo
“Aku tidak marah dan tidak kesal! “ ucap Fahrizal
“Berisik! Emang kamu ini Ibuku?! “ ucap Edo
“siapa yang kamu panggil Ibumu?! Berhentilah mengatakan hal memuakkan! “kata Fahrizal dengan nada marah dan memengang pakaian Edo
“kamu sendiri yang memuakkan, sialan! “kata Edo membalas memengang pakaian Fahrizal
“aku orangnya memang begitu! Benar, sekarang aku sedang menceramahi diriku sendiri! Maaf saja! “ucap Fahrizal melepas pegangangannya dan menahan air mata yang mau jatuh
“aku langsung membandingkan diriku dengan orang lain dan hampir hilang Kendali karena betapa bodohnya aku. Aku merasa aku akan menghilang. benar, yang cocok menjadi ketua bukanlah aku malah yang lebih pantas adalah dia, begitulah diriku yang satunya terlalu berisik. Aku langsung mencoba lari dari pemikiranku yang lemah, benar yang kesal adalah aku maaf! “ungkap Fahrizal
Medengar ucapan Fahrizal suasananya menjadi dingin dan sunyi tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka berdua.
“Pembuat masalah adalah aku. Bagiku, aku lah penjahat itu musuh yang harus kulawan adalah diriku sendiri. “lanjut Fahrizal
Edo pun memeluk Fahrizal dengan erat dan sambil mengatakan.
“hai! Harus darimana aku bisa melihat hal yang sama seperti mu? Ucap Edo
“bisa melihat yang sama dan mengerti perasaan seorang sebelum aku menyakitinya. Aku tahu kamu orang baik dan kyra tahu kalau kamu yang sekarang hanya topeng untuk menutupi kelemahanmu! Aku kaget kamu bilang hal yang sama dengan dia. Aku kaget dan membuatku kesal. Karena aku cemburu kamu hebat, Fahrizal kamu bisa mengerti orang lain janganlah kamu berpura-pura tidak peduli dengannya lagi. Ee... Aku minta maaf sudah kelewatan tadi! Meski begitu aku bukanlah orang yang pintar dalam menilai orang lain. “lanjut Edo
Mereka pun saling memeluk sampai mereka tenang.
“Untung saja semua murid sudah pulang jadi tidak ada yang tahu kalau kita pelukan! Ucap Fahrizal sambil melepas pelukan
“Why kalau Ada yang tahu emang kenapa? Tanya Edo menggoda
“Apasih Do! “ucap Fahrizal dan is meninggalkan Edo
Edo pun melihat Fahrizal keluar dari pintu keluar dengan senyuman. Edopun menuju parkiran untuk menggambil motornya dan pulang.
Fahrizal berjalan menuju halte karna kebetulan dia tidak memakai mobilnya lagi kali ini dia memilih nakl bus ketika sampai di halte dia kaget ternyata ada Kyra yang belum pulang.
Mereka pun duduk bersama tanpa Ada obrolan hingga angkot datang mereka juga tidak Ada obrolan.
Aku merasa cangung karna sekian lama aku tidak pernah pulang bersama Fahrizal, aku hanya meliriknya yang kebetulan duduk di sampingku.
Aku ingin sekali curhat soal wanita tua itu datang lagi di mimpiku tapi aku takut Fahrizal akan marah dan memukulku lagi.
Sampailah bus yang kami tumpangi di halte dekat dengan rumahku aku pun turun dan membayar angkot Tersebut lalu aku berjalan untuk pulang.
Namun ditengah jalan aku ditarik hingga membalik ke arah orang yang menarikku lalu dia memelukku dengan erat sambil meneteskan air matanya.