Tell Me The Truth

Tell Me The Truth
Ch 14. Janganlah Berlaku Kasar Kepada orang lain



Dikebun mereka berdua memetik sayur, tomat, cabe lalau di cuci dan siap dimasak diruang TPhp(tehnologi Pengolahan Hasil Pertanian). Mereka berdua pun memasaknya bumbu-bumbunya kebetulan sudah ada diruangan itu.


Mereka bisa masuk ke ruangan ini sebab Edo adalah penanggung jawab ruangan TPhp, mereka pun mulai memasak.


“vin, kamu ada yang kelupaan lo? “ Tanya Edo


“lupa, kayaknya gak ada. “Jawab Kevin dengan polosnya


“Ya.. Tadi pas rapat kau tak membahas soal aku akan main di klub basket cowok. “Kata edo kesal


“Hehee, lupa Do gomen. “ Ucap Kevin sambil mengedipkan salah satu matanya


“Terserah kamu, sudah biasa. “ucap Ridwan lalu dia kembali fokus masak


Masakan pun selesai mereka langsung menyantap dan setelah kenyang mereka bersih-bersih dan ingin ke uks tidur bentar karna sangat ngantuk sekali.


Di kelasku sekarang sedang ramai sekali membicarakan lomba basket antar sekolah. Tapi kali ini aku tidak ada niatan mau gabung di basket kalau ada Zizi.


Aku sangat benci kalau ada dia, ribet banget kalau ada dia dan gayanya yang kayak kapten di klub kami padahal bukan ketuanya.


Tahun ini dia akan main karna cederanya sudah sembuh, bukannya aku ingin dia kenapa-napa cuman tiap ada dia di tim kami pasti bikin pekara.


dulu dia pernah bikin ulah cuman gara-gara salah satu tim ada yang mendekati Kevin dia labrak dan ada yang sampai dibikin cedera. Dia itu sangat berbahaya aku bingung kenapa si Fahrizal suka dengannya.


Semoga saja waktu pas aku akan ditunjuk untuk main aku ada urusan medadak apa lah ngurusin dance, atau musik, supaya aku tidak melihat keburukan si Zizi.


Jam istirahat berbunyi semua murid keluar pergi ke kantin namun aku hanya diam saja aku malas ngapa-ngain, aku pun mendengarkan musik melalui hpku yg aku pasangin handset ku.


Ku memdengarkan sambil kuresapi lagu ini membuat ku semakin ingin hidup di lagu ini untuk sementara.


“I was born a fool


Broken all the rules


Seeing all null


Denying all of the truth


Everything has changed


It all happened for a reason


Down from the first stage


It isn’t something we fought for


Never wanted this kind of pain


Turned myself so cold and heartless


But one thing you should know”


Saat aku menikmati lagu ini ada roti aku tidak tau dari siapa tapi disitu dituliskan “ kamu jangan sampai tidak makan, ini aku belikan. *love*” aku pun memakannya tapi dari siapa lagi ini.


Surat ini seperti kemarin waktu aku di siram air, aku penasaran dengan surat yang dilaci siapa orangnya yang baik hati.


Aku pun teringat soal aku disiram sama seseorang waktu dikamar mandi itu, kalau bukan wanita itu lalu siapa karna Rina tidak menyebutkan penyiraman di kamar mandi.


Kalau bukan Rina pasti ulah murid sini, aku harus lebih hati-hati, aku pun melihat Mita yang mau duduk di bangkunya sepertinya dia tau sesuatu aku harus tanya maksud kata hati-hati itu.


Jam istirahat sudah selesai semua murid masuk kelas terutama Edo sudah kembali ke kelas, hari ini dikelasku tidak ada pelajaran namun sekarang sekolah mengadakan lomba kelas kebersihan da keindahan.


Awal aku diminta menjadi ketua tim taman namun aku tidak mau akhirnya ketua tim taman adalah Mita dan aku adalah anggota betapa bahagianya aku meskipun aku tak se tim dengan Ridwan di tim mading.


Zizi tuh tau cara supaya aku sedih, marah dia dari smp selalu begitu kalau sama aku Semena-mena untung aku sabar kalau enggak dia pasti sudah jadi korban ke duaku setelah tangannya Fahrizal aku retakin.


Kami pun memulai untuk bekerja, timku pun membuat desain untuk membuat taman di didepan halaman kelas yang lumayan kecil.


Aku melihat Mita dia sangat semangat sekali tidak seperti biasanya dia semangat itu.


“Mita berarti kita harus mengumpulkan tanaman tapi kita gak usah beli tapi kita minta anak-anak buat donatur tanaman” Sahutku


“Boleh itu, itung-itung menghemat pengeluaran. “jawab Mita


“tapi kendala ada pada tim mading, kalian tau kan zizi dan temen-temennya itu tidak pernah mau repot-repot bawa kayak gitu. “ucap salah satu kelompokku


“iya juga ya, terus gimana dong? “Tanya Mita


“Udah-udah soal mereka yang tidak mau kerepotan nanti biar aku urus. “ucapku yang membuat mereka menjadi tenang karna Rata-rata yang di timku ini kebanyakan kurang mampu.


Kami pun sudah selesai mendesain temannya mau seperti apa aku pun menemani Mita untuk memberi laporan ke Zizi.


“zizi ini hasil rapat dari tim tanam. “ ucap Mita sambil ngasih desain nya


“bagus, lalu tanamannya beli berarti? “Tanya Zizi


“Mmm.. “ucap Mita


“donatur dari anak-anak, supaya pengeluaran kita dikit. “sahutku membuat Zizi kaget


“what ? lo gila Ra, aku gak mau bawa tanaman repot tahu, mending kita beli. “ ucap Zizi


“Ya kalau emang ada yang keberatan gini saja kalian memberikan uang ke Mita untuk beli pohon, sedangkan yang tidak keberatan bawa saja tanamanya. “ kataku


“eh Ra, kenapa kau jadi ngatur gini lo itu bukan ketua di tim dan kamu itu hanya anggota. “kata Zizi sambil dorong tubuhku


“udah-udah gak usah ribut, aku setuju dengan idenya Kyra dan kau Zi jangan dorong-dorong Kyra kayak gitu. “kata Ridwan


“Tunggu-tunggu sejak kapan kau jadi membela Kyra, apa kau suka dengannya cupu. “tanya Zizi


“aku gak suka dengannya, tapi aku gak suka kamu bersikap kayak gitu. “ kata Ridwan dengan tegas yang membuat Zizi terdiam.


Semua pun bubar dan kembali ke pekerjaan masing-masing sampai jam menujukan pulang sekolah.


Aku pun hari ini pulang namun kali ini aku bersama Mita karna tadi dia memintaku untuk menemaninya membeli tanaman karna banyak anak-anak yang dari tim mading hanya memberikan uang maklumlah mereka orang kaya kecuali Ridwan dia memilih membawa tanaman.


Aku pun menaiki motor maticnya Mita, dia hari ini seperti sedang bahagia kenapa dia sangat bahagia kalau sedang bersamaku berbeda ketika dia sama temen-temen yang lain reaksinya bahagia namun beda dengan bahagia nya dia jika bersamaku.


Sampailah kami di penjual tanaman kami pun memilih berbagai tanaman dan akan diantar besok oleh mereka.


Aku dan Mita lanjut mencari makanan karna sangat lapar, berhenti lah kami di tempat mie ayam kami pun memesannya.


“Mit, besok aku gak bisa bantuin full ya tapi aku usahakan untuk tetap membantu. “kataku


“oh gak papa, latian basket ya? “ tanya Mita


“Iya Mit. “jawabku


“pesanan dah datang. “kata Mita sambil menunjuk pesanan kita berdua.


Kami pun makan tanpa bicara hingga selesai menyatapnya, setelah selesai Mita mengantarkan ku pulang. beginilah kami kalau berdua tidak begitu akrab masih ada rasa ganggung.