
Kami pun siap bertanding melawan kelompoknya Ridwan disana juga ada Mita sama Zizi, kami pun bertanding di babak pertama kelompok ku yang menang dan dibabak kedua skor seri.
“Wooo kita menang Ra. “ Teriak Edo yang sangat bergembira karna menang dari kelompok Ridwan, aku yang mendengar teriakannya hanya tersenyun karna aku tahu kalau dia bahagia karena bisa mengalahkan Ridwan.
Zizi yang melihat sikap Edo membuatnya marah dan ingin membalas kekalahannya, jam pelajaran olahraga sudah selesai kami semua siap-siap untuk ganti baju namun aku membantu mengembalikan bola voli ke gudang bersama bu putri dan Fachrizal.
“tolong di tata yang rapi! Perintah bu Putri, Kami pun melihat bu Putri pergi dan kami pun menata alat-alat voli tanpa sedikit pembicaraan. Setelah kami selesai menata kami langsung balik ke kelas tanpa saling berbicara.
Saat kami berjalan yang kebetulan kami lewat gudang yang gak pernah ke buka sama sekali tiba-tiba pintunya kebuka dan menarik tubuh Fahrizal lantas aku pun membantunya namun naas aku ikut ke tarik ke dalam gudang itu.
“Krek” bunyi pintu gudang itu terdengar dikunci seseorang kami berdua pun mencari seseorang yang menarik tadi tapi disana hanya kami berdua. Kamipun bingung teriak minta tolong percuma juga tidak akan ada yang buka'kan karna tempat ini jarang dijamah soalnya tempat ini sudah tidak digunakan.
Kamipun memutuskan mencari cara untuk keluar namun juga dapat gagal kami berhadapan aku pun menangis karna ketakutan, Fahrizal yang melihat ku ketakutan dia mencoba menenangkan ku.
“sial kenapa kita tadi mengikuti surat tadi coba, kalau tidak kita ikutin kita gak akan ke kunci kebahagiaan gudang. “kata Fahrizal.
Ya benar saja kami bisa ketempat ini karna kami berdua melihat surat yang seperti seseorang melemparkan ke arah kami yang bertulisan “ temui aku di belakang gudang 2” karna penasaran kami berdua menuju tempat ini dan berakhir dengan seperti ini.
Ridwan merasa ada yang aneh di dalam kelas diapun mencari yang keaneh tersebut dia baru sadar kalau Fahrizal dan Kyra tidak ada semenjak mereka membantu bu Putri untuk mengembalikan alat-alat olahraga, sepertinya yang menyadarinya hanya dirinya.
Dia pun chat Edo di dalam kelas sambil mengamati pak Zainal yang sedang mengejar agama.
"Dret.... "
Suara ketagaran hp Edo dia pun membaca isi pesannya yang ternyata dari Ridwan “Do Fahrizal sama Kyra tidak ada di kelas. “ setelah membacanya dia kanget dan melihat bangku Kyra dan Fahrizal benar saja mereka tidak ada, dia pun melihat Ridwan.
Bel istirahat pun berbunyi Ridwan, Edo, dan Kevin segera berkumpul di gudang atap sekolah. Sampailah disana mereka langsung membicarakan hal ini karna sangat khawatir terjadi kenapa-napa sama Kyra dan Fahrizal mereka bertiga lapor kepada pak Budi selaku penangung jawab masalah ini.
Setelah laporan mereka bertiga diminta mencari kyra dan Fahrizal sedangkan tim yang lain mencoba membuat keadaan menjadi biasa jangan sampai ada yang mengetahui keadaan ini.
Setelah pencarian selama 1 jam Ridwan, Edo, dan Kevin mencari sama sekali tidak ketemu mereka pun lapor ke pak Budi.
Di gudang aku dan Fahrizal saling tatap muka tidak ada pembicaraan sama sekali, aku merasakan bahwa dia tenang-tenang saja.
“kamu tenang sekali Do? “tanyaku
“Kenapa harus khawatir, suasana yang seperti ini itu tak boleh kita khawatir. “jawabnya sambil senyum
"Dubrak.... "
Mendengar itu aku teriak dan memeluk Fahrizal dengan erat karna takut, tapi Fahrizal malah ketawain aku.
“hhh, Ra kamu takut kegelapan? “tanya Fahrizal
“hm.., aku emang takut. “jawabku sambil melepaskan pelukannya
“Cewek kayak kamu takut sama kegelapan “kata Fahrizal dengan ekpresi ketakutan
“lah emang salah aku takut? “tanyaku
“heeee... “ kataku sambil senyum karna Fahrizal marah karena ternyata aku bawa hp
“ya Ra, ternyata kamu bawa hp kenapa gak dari tadi kamu ngomong. “kata Fahrizal
“ya maaf, aku lupa Zal. “ucapku sambil membuat wajah imut supaya Fahrizal tidak marah.
Aku pun membaca pesan yang ternyata Kevin “Ra kamu dimana? “ aku pun membalasnya bahwa aku berada di gudang nomor dua. Akhirnya kami di bukakan pintu gudang kami pun keluar tiba-tiba Kevin memelukku dan itu disaksikan sama Ridwan, Edo, Fahrizal dan pak Budi.
“kamu gak papa Ra? Tanya Kevin masih dalam posisi memelukku.
“ya gak papa kok, lepasin aku. “jawabku Kevin pun melepaskan pelungkannya
Akhirnya kami di bawa rungan osis untuk ditanya kronologinya, aku dan Fahrizal pun menjelaskan kronologinya setelah menjelaskan kronologinya kami berdua diminta untuk merahasiakannya.
Akhirnya aku pun diantar Kevin pulang tapi aku menolaknya karna aku mau ngajak pulang Fahrizal bersama karna aku ada urusan dengannya. Aku pun pulang bersama Fahrizal dengan naik mobilnya.
“Kenapa kau tolak ajakan Kevin? “tanya Fahrizal
“Bukan urusan lo, yang penting urusan kita soal tadi jangan dibilang sama siapa-siapa. “ mintaku sama Fahrizal
“gak mau”ucap Fahrizal
Aku pun menangis di dalam mobil Fahrizal tapi malah diketawain di sepanjang perjalanan.
Fahrizal yang melihat Kyra hanya bisa ketawa karena dia sudah lama tidak melihat Kyra menagis selama dia satu sekolah dan satu kelas SD sampai SMP. Ya mereka adalah teman dari dulu tapi mereka tidak pernah menunjukan persahabatan mereka berdua, mereka lebih memilih untuk menunjukkan kalau mereka tidak akrab.
Sampailah kami di rumahku Kami pun turun dan masuk ke dalam rumah, seperti biasa Fahrizal kalau di sini langsung menuju studioku main musik sepuas dia.
“ woy bro, apa kabar? “ sapa Alex
“woy bro Alex, kau sudah pulang? Tanya Alex langsung menghampiri Alex
“udah bro”jawab Alex
Mereka pun langsung bermain bersama sampai larut malam, karna kebetulan sudah malam Fahrizal menginap di rumah di rumah Kyra.
Aku pun memangil Alex dan Fahrizal untuk makan bersama di ruang makan, kami pun menikmati makanan dan beristirahat.
Di rumah Kevin dari pulang sekolah hingga sekarang dia masih memikirkan Kyra kenapa dia menolak tawarannya untuk pulang bersama dan semenjak kapan Kyra dekat dengan Fahrizal padahal dari dulu mereka itu selalu berantem dan gak pernah mau pergi bersama.
“aaa... Pusing “ teriak Kevin mendengar teriakan Kevin membangunkan Ridwan diapun langsung menghampiri kakaknya itu “why..? “ namun tidak digapai sama Kevin.
Mereka pun langsung mengobrol membahas soal kejadian di sekolah yang makin parah dan harus ditindak lanjuti lagi takutnya akam kejadian yang lebih paraj dari ini.
Ridwan dan Kevin pun menganalisa teror itu dan bingung kenapa bisa dia masuk ke dalam sekolah padahal saat itu semua murid dan guru-guru di cek semua tidak ada yang mencurigakan betapa anehnya.