
" Oya, Besok ada fanmeeting Yura.Kau mau ikutkah?" Dimas menoleh ke arah Agung.
Agung hanya memandang datar Dimas.
" Oya Aku lupa kalau Kau kekasihnya, tanpa datang ke fanmeeting, Kau pun sudah bisa bertemu dan minta tanda tangannya." sindiri Dimas.
" Kekasih apaan sih. Kau tau Aku tidak menyukainya, itu ulah Ayahku." Jelas Agung
" Baguslah kalau begitu, berarti pesaingku hanya putra mahkota . " Ucap Dimas membuat Agung hampir saja menyemprotkan kopinya.
" Apa maksudmu?"
" Apa Kau tidak pernah mendengar gosip Yura dekat dengan putra mahkota."
" Benarkah? Jadi Dia sebenarnya mempunyai kekasih?" Tanya Agung kaget.
" Entahlah. Tapi itu gosipnya." Jawab Dimas membuat Agung kesal mendengarkan.
" Kalau tidak pasti. Seharusnya Kau tidak asal bicara." Ucap Agung dan langsung meminum habis kopinya.
" Aku tidak asal bicara, Aku hanya tau gosipnya. " Dimas membela diri.
Agung pun terlihat diam. Entah mengapa, Dia merasa kesal dan tidak ingin mendengarkan gosip tentang Yura.
" Kau tahu Gung. Mereka dekat ceritanya karena dulu satu fakultas."tambah Dimas.
" Bisakah Kau jangan membahas tentang itu lagi! "Pinta Agung.
" Iya-iya." Gerutu Dimas.
Setelah mengobrol cukup lama, mereka terlihat meninggalkan kedai kopi dan kembali ke rumah masing-masing.
Sampai dirumah, Agung langsung terlihat menuju ke kamarnya dan mengambil laptop lalu menyalakannya. Dengan cepat Dia mengetik nama lengkap Yura dan bermunculan semua info tentang Yura. Tanpa pikir panjang Dia pun mengeklik berita terbaru tentang putra mahkota. Terlihat jelas sosok pria yang diceritakan Dimas disitu.
Agung pun terlihat membandingkan dirinya dengan pria itu secara fisik. Dan Agung pun puas melihatnya. Setidaknya Agung merasa tidak kalah dari pria itu.
Tanpa disadari Agung pun senyum-senyum sendiri dan mematikan laptopnya. Dengan bahagia Dia menuju ruang tengah. Dimana ayahnya masih fokus menonton pertandingan bola.
Pak Soni pun heran melihat putranya itu. Tidak biasanya Dia terlihat sebahagia itu.
" Why ?" Tanya ayahnya.
" Nothing." Ucap Agung Seraya duduk dan ikut serta menonton pertandingan bola di tv bersama ayahnya.
Pak Soni merasa ada yang aneh dengan putranya. Dia pun khawatir dan takut kalau Agung sudah bertemu lagi dengan wanita yang dulu dicintainya.
" Apa Kau sedang sangat bahagia sampai senyummu terlihat terus mengembang seperti bunga Kamboja?" Sindir Pak Soni sekaligus penasaran.
"Iya, Tapi bukan bunga Kamboja Ayah." Ucap Agung tidak terima.
Pak Soni pun terlihat tidak fokus lagi menonton pertandingan bola dilayar tv tersebut. Pak Soni pun pura- pura mengantuk dan pergi menuju kamarnya.
' Sepertinya Aku harus cepat-cepat mengambil tindakan.' batin Pak Soni.
Keesokan harinya
Sinar matahari telah mengintip dari balik tirai jendela kamar Yura. Yura perlahan membuka matanya dan melihat jam.
" Hari Minggu." batin Yura tenang.
Namun Yura teringat telepon Sani tadi malam. Dia pun langsung mengecek email-nya.
Baru membaca, Hpnya berdering. Dan ternyata Pak Soni yang mengajaknya untuk bertemu. Yura pun terlihat menyetujuinya.
Tanpa pikir panjang Yura langsung mandi. Setelah itu menuju dapur. Mengambil susu cair dan sedikit sereal untuk sarapannya.
Setelah selesai sarapan, Yura menuju kamar kembali dan bersiap-siap.
Baru selesai Yura bermake up. Hpnya berdering kembali.
"Hallo."
" Jangan sampai telat, Aku banyak urusan." Sani to the point.
" Iya-iya. Ini loh masih pagi San." ucap Yura.
Berkali-kali Yura terlihat melirik jam ditangannya.
' Kenapa ada jadwal dihari Minggu.' gerutu batin Yura.
" Kenapa akhir-akhir ini mobilmu selalu saja ada masalah. Sebelumnya ketilang, sekarang menabrak." Gerutu Sani.
Yura hanya terdiam dan sepertinya malas membahasnya.
Dia bahkan lebih fokus ke HP-nya. Tapi Yura terlihat bingung.
Berkali-kali Dia memastikan no.Hp itu.
'Sweet police?' Yura masih terlihat bingung.
' Bagaimana bisa? Jadi tadi malam Dia yang menelepon.'batin Yura terkejut dan penasaran.
" Apa Kau tadi malam hanya meneleponku sekali saja?" Tanya Yura memastikan.
Sani menggangguk. "Why?"
" Nothing." Ucap Yura.
Yura terlihat heran. Bagaimanapun juga Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Agung. Dengan jelas-jelas polisi itu menolak no.hpnya.
' Apa Dia sudah mulai menyukaiku? Aiiish itu tidak mungkin. Jelas-jelas Dia bilang tidak menyukaiku.' Yura spontan terlihat menggelengkan kepalanya.
' Dan pelukan itu pasti agar Aku menjauhinya, membencinya dan lalu menolak tawaran ayahnya. Sudah pasti itu tujuannya. Aku terlalu percaya diri jika memikirkan lebih dari itu.' pikir Yura.
Begitu sampai kantor. Yura langsung disambut oleh semuanya.
Yura terlihat terkejut melihat Dimas menjadi salah satu pesertanya.
" Apa Kau masih mengingatku? " tanya Dimas
" Tentu saja." jawab Yura.
" Apa Kau sedang libur?" tanya Yura.
Dimas mengangguk.
" Kau tidak titip salam buat kekasihmu?" Tanya Dimas.
" Siapa?" Yura
" Tentu saja Agung. Siapa lagi." jawab Dimas membuat Yura terkejut dan sadar akan berita yang sudah disebar oleh pak Soni ke kemedia.
" Owh. Itu. Tidak usah. " ucap Yura seraya memberikan buku dan tanda tangannya.
" Terima kasih." Ucap Dimas.
"Sama-sama."
Tidak butuh waktu terlalu lama untuk jadwal sesi fanmeeting kali ini.
Yura langsung pamit begitu selesai fanmeeting.
Dengan terburu-buru Yura meninggalkan kantor dan menghentikan sebuah taksi.
Sebuah tempat bernuansa hijau telah terlihat oleh Yura. Area baseball tempat tujuan Yura saat ini. Yura pun langsung turun serta membayar taksinya.
Pak Soni terlihat melambaikan tangan ke arahnya. Dan disebelah Pak Soni terlihat sosok seorang pria yang tidak asing lagi buat Yura. Agung terlihat sedang sibuk membenarkan tali sepatunya. Yura terkejut melihat Agung berada disitu, tetapi Yura langsung berpura- pura biasa saja. Mengingat Agung sedang berusaha menyingkirkannya.
" Yura! Disini!" Pak Soni tidak segan-segan berteriak memanggil Yura sambil masih melambai-lambaikan tangannya. Agung langsung terkejut begitu mendengar nama Yura diucapkan oleh sang ayah. Dia pun langsung menoleh ke arah ayahnya. Lalu mengikuti arah pandangan ayahnya.
Terlihat Yura tengah berjalan melangkah kearahnya. Tiupan angin membuat Yura merapatkan jaketnya, namun langkahnya yang teratur terlihat indah dan anggun. Sesimpul senyuman dan tatapan malu-malu, menambah wajah Yura terlihat cantik, berseri dan mempesona. Agung tidak sadar terus memandangi Yura yang semakin mendekat kearahnya.
'Kenapa Aku baru menyadarinya..'Batin Agung.
Pak soni diam-diam memperhatikan putranya tersebut.
'Akhirnya. Kena Kau Gung.' Batin Tuan seraya tersenyum.
" Selamat siang." Sapa Yura.
" Selamat siang Yura." Ucap pak Soni dan Agung serentak bak paduan suara.
Agung dan Pak Soni lalu saling berpandangan begitu sadar kekompakan mereka.
To be continued