
" Jadi Kau diam-diam menjalin hubungan, dan akan bertunangan dengan Yura? " Tanya Dimas dan menoleh ke arah Agung.
Agung terlihat tidak menjawab pertanyaan Dimas. Dia terlihat fokus membaca berita yang terkait dengan dirinya.
" Pantas saja Kau pura-pura tidak tertarik dengan Yura. Ternyata diam-diam Kau telah menjalin hubungan dengannya. Kenapa Kau tidak cerita padaku?" Dimas sebagai sahabat merasa terkhianati.
" Apa-apaan ini. Ini sungguh tidak benar. Ini foto tidak seperti yang Kau kira Dim. Aku harus menemui ayahku." Ucap Agung seraya menyerahkan hp ke Dimas, mengambil mantelnya dikursi dan bergegas keluar dari ruangan.
Dimas terlihat heran, bingung dan kesal sendiri.
" Kenapa Dia itu. Apa Dia niat tidak bercerita padaku karena takut Aku merebut kekasihnya itu? Atau takut Aku marah karena Aku mengidolakan kekasihnya itu. Tidak mungkin Agung sepicik itu kan." Ucap Dimas berspekulasi sendiri dan fokus membaca berita yang terkait dengan sahabatnya tersebut yang membuat Dimas kesal karena Agung tidak pernah bercerita terhadapnya tentang Yura.
Tak selang lama. Agung sampai di kantor Ayahnya. Rasa kesal dan tidak terima membuat Agunh mendatangi Ayahnya walaupun saat jam kerja. Jelas itu bukan karakter aslinya.
Langkahnya jelas terlihat sangat cepat. Karyawan dan karyawati terlihat sangat menghormatinya. Jelas mereka sudah mengetahui semua bahwa Agung adalah putra pertama Pak Soni selaku pemilik Pillars Grup.
Tanpa ijin ke bagian sekretaris, Agung langsung menuju ke ruangan Ayahnya.
Pak Soni terlihat terkejut melihat pintu ruangannya terbuka. Tapi Beliau langsung terlihat tersenyum begitu tahu sosok putranya yang berdiri dihadapannya.
Agunh menutup pintunya kembali dan langsung melangkah ke meja kerja ayahnya. Terlihat Pak Soni langsung menghentikan aktivitasnya.
" Ayah, Apa maksud berita itu? Siapa yang mau bertunangan? Dan kenapa Ayah mempunyai foto itu?" Tanya Agung tanpa basa-basi.
" Tentu saja Kau yang akan bertunangan. Tidak mungkin adikmu." Jawab Pak Soni to the point.
" Kenapa Ayah mengambil keputusan sepihak. Tanpa memberitahuku dahulu. Apa Ayah pikir Aku akan menerima keputusan itu? Bertunangan dengan wanita yang tidak kukenal?"Kata-kata Agung membuat Pak Soni langsung mengubah ekspresinya. Sudah lama rasanya Pak Soni tidak berdebat dengan putranya itu.
Pak Soni terlihat mulai emosi mendengar kata-kata putranya yang jelas-jelas terkait dengan masa lalu putranya.
"Ayah hanya ingin membenarkan hidupmu Pillar. Agar Kau hidup normal. Dan tidak terbayang-bayang dengan masa lalumu. Apa Kau akan selamanya seperti ini? Sendiri? Selama ini Ayah sudah mengalah dengan egomu. Tapi satu hal yang saat ini Ayah inginkan. Lupakan wanita itu. Dia hanya ingin memanfaatkanmu." Ucap Pak Soni bernada tinggi.
" Ayah. Dia tidak seperti yang Ayah pikirkan!!! Jadi jangan berkata-kata yang tidak jelas tentangnya!"
Seperti delapan tahun yang lalu. Perdebatan dua manusia ini terjadi kembali. Terlihat jelas dalam benak Agung yang mati-matian memohon ijin pada ayahnya untuk menikahi wanita yang sangat dicintainya waktu itu. Tetapi ayahnya bersikeras tidak mengijinkannya dengan baru selesai sekolah dan masih muda.
Tetapi Agung jelas tidak menerima alasan itu. Bahkan Dia hampir lari dan meninggalkan rumah demi wanita itu. Tapi apa daya tiba-tiba wanita itu menghilang dari kehidupannya tanpa kata dan pesan. Dan jelas itu menggagalkan niatnya.
" Kau hanya termakan cinta buta Pillar. Jelas Kau yang tidak tahu apa-apa tentangnya." Ucap Pak Soni mencoba meyakinkan.
" Ayah sendiri? Bukannya Ayah hanya sekali bertemu dengannya? Ayah yang terlalu mengada-ada." Bantah Agung seraya membalikkan tubuhnya .
" Tapi Aku Ayahmu. Aku lebih bisa menilainya. Mana yang tulus terhadapmu dan mana yang hany ingin memanfaatkanmu."
Agung terlihat tidak memperdulikan kata-kata Ayahnya. Dia terus melangkahkan kakinya.
" Kau akan menyesal kalau terus menuruti egomu itu." ucap Pak Soni mengingatkan kembali.
Rasa emosi jelas masih terlihat diraut wajah Agung. Delapan tahun telah berlalu tapi sakit hati yang dirasakannya seakan kembali lagi.
...****************...
Yura terlihat sedang menyelesaikan pekerjaannya. Dengan lincahnya jari tangannya menekan keyboard dihadapannya. Bahkan Sani terlihat sangat puas dengan hasil tulisan Yura.
" Ok. Good job Ra." Ucap Sani.
"Thanks." ucap Yura.
" Apa Kau akan langsung pulang?" Tanya Sani.
Yura sejenak berpikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya.
" Tidak. Aku masih ada urusan. Sampai jumpa besok." Ucap Yura seraya membawa tas kecilnya. Dan berjalan menuju mobilnya.
Yura menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Udara malam ini membuat Yura sedikit menggigil karena kedinginan. Dan Dia lupa membawa jaketnya.
Yura memarkirkan mobilnya begitu sampai dirumah sakit. Dia turun dari mobil tanpa tengak tengok dan langsung menuju kamar Ibunya dirawat.
Begitu masuk terlihat ayahnya masih terjaga. Yura pun menyuruh ayahnya untuk beristirahat dirumah. Dan kini Yura yang menunggu Ibunya.
Yura memegang tangan Ibunya dan melihat wajah Ibunya.
" Ibu. Maafkan Rara yang belum sepenuhnya bisa membahagiakanmu Bu." Ucap Yura seraya mencium tangan Ibunya.
Suara dering HP mengalihkan perhatian Yura. Terlihat Pak Soni meneleponnya dan mengajak bertemu.
" Ok Pak. Kantin rumah sakit."
Yura pun keluar dari ruangan dan langsung menuju kantin rumah sakit.
Yura sedikit menunggu. Tidak selang lama Pak Soni terlihat menghampirinya. Yura pun menyapa dengan formal.
" Selamat malam Pak."
" Malam. Biasa saja. Tidak usah formal seperti itu."
"Semuanya mungkin tidak akan mudah Yura. Karena putraku masih teringat masa lalunya. Dan wanita itu sekarang sudah kembali lagi juga. Jelas ini membuatku gelisah." Jelas Pak Soni.
" Semua ini tergantung padamu Yura. Jujur kepribadianmu lebih baik dari pada wanita yang disukai putraku. Jadi mohon bantulah Aku. Aku tahu Kau menyukai putraku dengan tulus. Walaupun impian juga menjadi tujuanmu. Tapi feeling seorang ayah biasanya lebih tepat."ucap Pak Soni membuat Yura sedikit tidak percaya antara mimpi atau kenyataan. Seorang Presdir Pillars Grup yang selama ini terlihat sempurna dan sangat dihormati meminta bantuannya.
" Saya akan berusaha membantu. Tapi Saya sendiri bingung bagaimana cara mendekati putra Bapak." Yura masih ragu.
" Tenang saja Yura. Bukan Seorang ayah namanya kalau tidak mempunyai strategi untuk putranya."
Akhirnya Pak Soni menyerahkan sebuah undangan. Undangan keluarga.
Begitu selesai menemui Pak Soni, Yura langsung kembali keruangan ibunya. Sebenarnya Yura sedikit merasa bimbang. Antara merasa salah atau benar mengambil keputusan ini.
Ini sungguh tidak pernah terduga olehnya. Berawal dari kecerobohannya, kini Yura malah merasa terjebak dalam suatu permainan. Dia pun duduk seraya melihat dompetnya. Yura pun tersenyum mengingat kembali saat bertemu dengan Agung. Polisi belagu tapi mempesona baginya. Bahkan Dia merasa tidak menyesal dan rela ditilang untuk ke sekian kalinya demi melihat polisi yang membuatnya terpesona itu.
Tapi apa mungkin Dia bisa menaklukkannya. Sementara dihati pria tersebut ternyata telah terukir nama wanita lain. Yura pun langsung berubah ekspresinya.
Sedikit tidak yakin. Itu yang Dia rasakan.
Jam menunjukkan telah tengah malam. Yura masih bertahan menunggu ibunya. Ibunya pun terbangun.
" Ibu. Apakah Ibu ingin makan sesuatu?" Tanya Yura.
Yura jelas tahu kalau ibunya sangat membenci rumah sakit. Apalagi makanannya.
"Tidak Ra. Apa besok Ibu sudah boleh pulang? Rasanya Ibu sudah sehat Ra." Ibunya mencoba tersenyum walau terlihat dipaksakan agar Yura percaya.
Tapi Yura menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu, Ibu harus benar-benar sehat baru boleh pulang." tegas Yura.
Terlihat wajah ibunya langsung sendu.
" Ibu. Kumohon." Ucap Yura seraya mencium tangan ibunya.
" Ibu sudah sehat Ra. Apa Kau tidak melihat. Ibu sudah banyak bicara?"
" Ya Bu, Tapi Rara takut, Ibu belum sepenuhnya pulih." Yura terlihat khawatir.
Sedangkan pandangan ibunya beralih ke jendela. Terlihat seorang pria yang sedang memperhatikan mereka. Tapi ragu antara mau masuk atau tidak.
"Sepertinya ada temanmu diluar Ra." Yura bingung dan langsung mengikuti arah pandangan ibunya. Yura terlihat kaget. Tetapi hatinya langsung bergetar begitu melihat sosok pria tersebut.
Terlihat Agung sedang mondar mandir diluar ruangan.
" Bagaimana Dia tahu Aku diruangan ini?" batin Yura bergejolak dan penasaran.
Yura pun melangkah kearah pintu dan membuka pintu ruangan. Agung langsung terkejut begitu mengetahui pintu terbuka.
" Maaf, Apa yang Kau lakukan disini?" Tany Yura.
Tanpa basa basi Agung langsung berjalan menuju kursi tunggu.
Yura yang peka akan kodenya, mengikutinya. Dan jelas saja Agung langsung to the point ke pokok pembahasan.
" Apa yang ditawarkan ayahku padamu? Sehingga Kau mau mengikuti kemauanya bahakan sampai bertunangan denganku.
Dan jelas Kau tahu Aku tidak menyukaimu!!!" Ucap Agung seraya menatap tajam Yura. Kata-kata yang sungguh membuat Yura sedikit ciut nyalinya. Yura jelas tidak langsung menjawabnya. Mengalihkan Pandangan itu yang Yura lakukan.
" Beliau tidak menawarkan apa-apa." Yura berbohong. Tidak mungkin Dia menjawab jujur.
" Itu tidak mungkin. Wanita sepertimu tidak mungkin tanpa penawaran apapun." Agung tersenyum sinis.
Yura langsung menatap tajam Agung. Merasa harga dirinya terinjak-injak. Dia sungguh tidak menyangka pola pikir Agung begitu negatif menilainya. Wajah tampan dan manis yang pertama terlihat dalam diri Agung kini bagi Yura sekarang hanyalah kamuflase. Faktanya Agung memiliki pikiran yang dangkal, dingin dan kata-kata tajam setajam silet. Namun jujur perasaan itu ada walaupun jelas kini Yura benar-benar hanya sebuah rasa sepihak.
Yura sedikit menahan rasa emosi dengan menghela nafas dalam-dalam sebelum menanggapi kata-kata Agung.
"Aku hanya membantu Ayahmu sebagai atasanku. Dan sekarang Beliau terang-terangan butuh bantuan.Jadi apa salahnya Aku membantunya." Jawab Yura akhirnya sedikit jujur.
" Aku tidak percaya dengan kata-katamu. Kau jelas berbohong padaku." Agung terlihat tidak percaya.
Yura yang sudah merasa tidak nyaman dengan kondisi itu langsung beranjak pergi. Namun sebuah tangan menahannya.
Agung terlihat belum puas dengan penjelasan Yura.
" Aku hanya jatuh cinta. Dan ada peluang memilikinya. Jadi Aku mencoba berusaha. Walaupun jelas hatinya telah termiliki orang lain. Tapi apa salahnya Aku mencoba. Apa itu salah?"tegas Yura sudah tidak bisa menahan Emosi.
Yura langsung menghempaskan tangan Agung dan langsung masuk kembali keruangan Ibunya. Sedangkan Agung masih terpaku. Jelas bukan jawaban terang-terangan seperti itu yang Agung ingin dengarkan.
Yura melihat ibunya telah tertidur pulas.
Rasa kesal terlihat dalam diri Yura. Merasa bodoh kenapa harus mengeluarkan kata-kata itu pada Agung untuk membuat Agung percaya. Walaupun itu jujur dari hatinya.
Yura duduk dan mencoba memejamkan matanya disamping ranjang Ibunya yang sudah terlelap.
To be Continued