Sweet Police

Sweet Police
Hati Yang Tersakiti



Yura mengusap air mata di pipinya. Tisu berhamburan didalam mobil, seperti dedaunan yang berjatuhan di musim kemarau


Yura meletakkan kepalanya di atas dasbor mobil.


' Berat sekali rasanya kepalaku ini. Siapa wanita itu? Apakah dia masa lalunya? Kenapa wanita itu baru berani datang lagi ? Haruskah Aku menyerah? Tapi bagaimana nanti dengan karirku jika Aku menyerah?Dan bagaimana kalau Aku lanjut? Apa Aku bisa mengendalikan dan mematikan perasaan ini. Sehingga tidak merasa tersakiti?


Hmmm... bagaimana caranya agar Aku tidak tersakiti? Melihat mereka berpegangan tangan saja membuat hatiku sakit.' Yura memejamkan matanya. Berharap ini hanyalah mimpi dan sebatas bunga tidurnya.


Pintu mobil terbuka.


Yura membuka matanya dan memandang ke arah pintu mobil tersebut seraya mengangkat kepalanya. Terlihat Sani yang sejak tadi Dia tunggu.


" Jadi ini bukan mimpi."ucap Yura memandang manajernya dengan tatapan sendu.


"Apa Kau menangis? Matamu sembab sekali seperti tanah di musim hujan." Ucap Sani sambil meletakkan tas Yura diatas dasbor mobil.


" Itu lembab San. " Yura memasang wajah cemberut mendengar candaan manajernya.


"Apa Kau tidak melihat Agung begitu keterlaluan?" Tambah Yura memandang wajah sahabatnya. Berusaha mencari dukungan atas pernyataannya tersebut.


Sahabatnya yang tidak tahu sama sekali tentang perkembangan hubungan mereka saat ini hanya menggelengkan kepala. Yura terlihat langsung kecewa. Matanya langsung berubah sendu kembali.


" Apa Aku salah merespon?" Tanya Sani seraya memasang sabuk pengaman.


" Ya." Yura mengangguk. Wajah polosnya memandang keluar jendela begitu mobil sudah melaju.


" Maaf. Tetapi bukankah Kau dan Agung belum ada hubungan apa-apa?" Sani terlihat memastikan.


" Tidak. Aku sudah melangkah masuk ke dalam rencana Pak Soni terlalu jauh bahkan terkesan Aku telah menyetujuinya. Dan Kalau Tiba-tiba Agung kembali ke wanita itu? Bagaimana dengan karirku? Bagaimana ?" Yura kembali menangis.


Sani terkejut dengan pernyataan Yura. Jelas ada rasa khawatir hinggap dipikirannya. Sesekali Sani menatap Yura yang sibuk dengan dunia pemikirannya.


" Apa Kau juga sudah memikirkan Bagaimana respon nanti? " Kata-kata yang membuat Yura bingung dibuatnya. Tetapi spontan Dia teringat sesuatu dan menjadi tenang kembali.


" Tidak. Soal respon media, Pak Soni pasti yang akan menyelesaikannya. Aku tidak perlu memikirkan itu. Yang perlu kupikirkan. Bagaimana Aku bisa benar-benar membuat Agung bertekuk lutut dihadapanku." Ucap Yura seraya mengepalkan tangannya. Ambisi membara jelas kini terlihat di wajah polosnya.


Sani fokus menyetir sambil sesekali melirik Yura yang masih fokus dengan dunia pemikirannya.


" Jika Kau mau membuat Agung bertekuk lutut. Buatlah Dia yang mengejarmu. Jangan Kau yang mengejarnya. Walaupun Aku tahu itu sulit bagimu yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta." Nasehat Sani panjang lebar.


" Yaa !!! ... Kau menasehatiku tapi kenapa Kau meragukan kemampuanku?"


Yura langsung memalingkan wajahnya tidak menerima pernyataan sahabatnya yang menyatakan sulit bagi Yura karena memang baru kali ini Yura terlihat jatuh cinta. Dengan mata penuh keyakinan. Yura memandang sahabatnya.


" Aku pasti bisa membuatnya mengejarku." Ucap Yura meyakinkan diri sendiri dan sahabatnya.


" Kalau begitu buktikan saja Yura." Ucap Sani dengan muka mengolok. Dan itu membuat Yura semakin merasa tertantang.


" Oke. Fix!!!" Jawab Yura ketus. Sedangkan Sani tertawa geli.


###


Agung langsung kembali keruang tunggu. Dimas yang penasaran mengurungkan niatnya karena sepertinya Agung terlihat masih sibuk.


"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Agung seraya duduk kembali.


" Tidak masalah. Apa Yura yang akan dijodohkan denganmu?" Wanita itu terlihat to the point. Agung terkejut karena merasa belum menceritakan tentang rencana ayahnya itu.


" Bagaimana Kau bisa tahu Sella?" Agung penasaran.


"Apa Kau lupa. Aku dekat dengan Ibumu? Mungkin Aku tidak bisa menemuinya secara langsung karena ayahmu. Tapi Aku bisa meneleponnya disaat Aku mau." Jelas Sella.


" Kalau begitu kenapa Kau tidak menghubungiku atau sekedar memberitahu kabar tentangmu misalnya." Ucap Agung masih tidak mengerti kenapa Sella dulu meninggalkannya dan menghilang begitu saja dari hidupnya.


" Itu terlalu rumit, Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Seperti kata-kataku sebelumnya. Aku hanya ingin minta kesempatan kedua darimu. Bisakah Kau memberikan kesempatan kedua itu untukku?" Sella kelihatan begitu berharap. Rasa rindu jelas terpancar di wajah wanita itu.


Agung terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung dengan situasi kali ini. Disisi lain Dia pernah begitu mengharapkan wanita didepannya saat ini. Tapi disisi lain, Dia tampak bimbang dan ragu-ragu. Dia sadar hatinya sudah tidak seutuh dulu, di saat Dia masih setia menunggu Sella.


" Kau tidak perlu menjawabnya saat ini. Aku tahu Kau masih terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Nanti Aku akan menghubungimu kembali. Dan Aku yakin cintamu masih untukku Gung."ucap Sella. Sella pun langsung pamit begitu selesai dengan kepentingannya.


Sedangkan Agung hanya terpaku melihat kepergian Sella. Agung pun langsung tersadar dan berjalan mencari Dimas, seraya mengecek hpnya. Entah mengapa Dia kepikiran dengan keadaan Yura. Jelas Dia melihat Yura lari tanpa sepatu karenanya.


Dia terkejut melihat panggilan telepon Yura yang berkali-kali. Raut wajahnya langsung berubah kesal. Tapi jelas hpnya tidak berbunyi memberikan tanda padanya. Dia pun langsung mengecek pengaturan profil hpnya.


"Kenapa silent?"Agung mengeluh dan terlihat ada rasa penyesalan. Dia pun langsung balik menelepon Yura.


" Hallo." Suara dari seberang telepon. Raut wajah Agung langsung kecewa begitu mendengar suara orang lain. Agung yang tidak suka berbasa basi langsung mematikannya tanpa permisi.


" Agung. Kita sudah telat gara-gara tamumu. Ayo!!! " Teriak Dimas.


Agung langsung memasukkan hpnya ke saku dan berjalan menuju Dimas


"


" Agung. " ucap Dimas hati-hati, secara Raut wajah Agung terlihat seperti Simba yang siap mengamuk.


" Hmmm, Why?" Agung fokus memandang jalanan.


" Sebenarnya apa hubunganmu dengan Yura? Dan wanita tadi?" Dimas masih terlihat hati-hati dalam bertanya.


" Dimas. Bisakah Kau jangan pertanyakan masalah itu dulu padaku." Pinta Agung.


Dimas yang sepertinya sudah lama berteman dengan Agung dan sangat mengetahui mood sahabatnya itu hanya menganggukkan kepala.


###


" Ok. Cerita yang bagus." Ucap Miss Amora seraya mempersilahkan Yura istirahat.


Yura langsung berjalan menghampiri sahabatnya yang sedang duduk dan minum kopi. Yura pun langsung duduk disebelahnya seraya mengambil air mineral. Rasa haus yang melanda membuatnya banyak meminum air mineral tersebut.


" Jadi bagaimana selanjutnya San? Apa Aku harus menyerah?" Tanya Yura masih sibuk dengan acara minumnya.


"Yes." Jawab Sani tertawa.


" Aku serius San." ucap Yura.


" Aku juga serius, Kau lebih cocok dengan putra mahkota." lagi-lagi Sani bercanda.


" Kau bilang apa????" Yura langsung tersedak


Hp Yura berdering disela-sela Yura sedang ingin menjitak Sani. Sani terlihat lega begitu Yura teralihkan dengan dering Hpnya. Yura terlihat langsung mengambil hpnya diatas meja.


Tertera jelas nama Agung dilayar hpnya. Yura pun terlihat enggan untuk mengangkatnya dan langsung meletakkan kembali diatas meja.


" Siapa? Kenapa tidak Kau angkat Ra?" Tanya Sani penasaran.


" Hmmm orang tidak penting."sahut Yura.


#


Berkali-kali Agung mendengus kesal. Dimas yang serius memantau lalu lintas sejak tadi langsung melirik ke arah Agung.


" Sebenarnya apa yang terjadi padamu Gung. Kenapa Kau begitu aneh sejak tadi pagi?" Tanya Dimas tidak tahan lagi melihat sikap sahabatnya itu.


" Dimas. Apa Yura terlihat begitu marah padaku?" Tanya Agung membuat Dimas bingung karena belum tahu duduk masalah mereka.


" Memangnya Kenapa Yura harus marah padamu? Apa Kau berbuat salah padanya? " Dimas memandang Agung dengan tatapan menyelidik.


" Sepertinya Dia salah paham. Dia melihatku sedang bersama Sella tadi pagi. Dan kulihat Dia langsung kabur. Padahal jelas Aku mengejarnya karena ingat tasnya padaku." Dimas langsung terkejut mendengar cerita Agung. Jelas cerita Agung membuat Dimas penasaran dan belum mengerti.


" Aku jujur masih bingung Gung. Kenapa Kau menyimpan tasnya Yura? Dan siapa Sella itu? Apa Dia masa lalumu itu?" Dimas semakin penasaran dengan cerita kehidupan pribadi Agung.


Agung bukannya langsung menjawab pertanyaan Dimas, Dia malah sibuk dengan hpnya. Berkali-kali Agung menekan tombol Memanggil dihpnya. Mencoba menelepon kontak Yura, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


" Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan." Nada terakhir yang membuat Agung menyerah.


" Agung!!!" Teriak Dimas merasa pertanyaannya diabaikan.


Agung langsung menutup telinga mendengar teriakan Dimas yang seperti bom Nagasaki dan Hiroshima.


Agung membuka telinganya saat merasa sudah aman.


" Dimas ya. Bisakah Kau pelan-pelan memanggilku?" Ucap Agung tanpa rasa bersalah.


"Makanya jawab dahulu pertanyaanku Agung Pillar Mahardika. "Ucap Dimas membela diri.


"Memangnya Kau tanya apa Dimas ya?" Agung sepertinya kebanyakan pikiran sehingga tidak fokus dengan pertanyaan Dimas sebelumnya.


Dengan raut muka kesal Dimas mengulang pertanyaannya. Agung pun akhirnya menceritakan dengan detail kehidupan pribadinya saat ini kesahabat yang Dia percaya. Dengan seksama Dimas mendengarkan cerita Agung.


" Hah!!! Jadi ayahmu menjodohkanmu dengan Yura?" Lagi-lagi suara keras Dimas muncul bagaikan bom atom. Agung langsung menutup telinganya kembali. Dia benar-benar tidak habis pikir ceritanya membuat Dimas terkejut seperti itu.


" Iya begitulah." Jawab Agung seraya membuka telinganya.


" Kenapa Kau tidak cerita padaku sebelumnya? Kenapa baru cerita sekarang? Apa Kau benar-benar menganggapku sahabat? Kau sungguh menyebalkan Gung." Ucap Dimas seraya memalingkan mukanya dari Agung. Dimas merasa kesal karena Agung baru cerita padanya sekarang. Dan tidak jujur sebelumnya.


" Maaf, Aku tidak tahu bagaimana Aku harus mulai menceritakan padamu. Bukan niatku untuk tidak cerita padamu." Jelas Agung.


Namun Dimas benar-benar terlihat kesal Agung telah membohonginya tentang Yura yang sudah jelas Agung tahu itu idolanya. Agung berusaha membuat sahabatnya itu mengerti atas keadaannya. Namun Dimas justru lebih memilih diam seribu bahasa.


To be Continued ...