
Mobil Mereka pun keluar dari area rumah sakit dengan melihat situasi aman dari sorotan wartawan. Namun bukan zaman now kalau tiada berita. Mereka mengira aman namun sebaliknya. Dan jelas aksi keluar dari rumah sakit secara diam-diam pun lagi-lagi menyebar dan heboh di media sosial.
Yura terlihat memandang ke arah jendela. Hembusan angin membuat rambut panjangnya sedikit berantakan. Berkali-kali Yura terlihat menyibakkan rambutnya agar tidak menutupi wajahnya.
Agung sekali-kali melirik ke arah Yura seraya fokus menyetir.
Dia berharap Yura sedikit merespon perasaan yang telah diungkapkannya saat di rumah sakit. Namun sepertinya nihil. Yura masih terlihat sibuk dengan pemikirannya sendiri.
" Apa Kau tertekan dengan ungkapan perasaanku?" Agung mencoba mencairkan suasana yang terkesan dingin sejak tadi.
Yura pun menoleh ke arah Agung dan menggelengkan kepalanya. Respon yang membuat Agung sedikit lega namun langsung menelah ludahnya dalam-dalam karena terlalu limited respon.
" Apa Kau demam kembali?" Tanya Agung terlihat khawatir seraya memegang dahi Yura. Dan Yura langsung menghindar.
" Tidak." Yura mengelak. Lagi-lagi membuat Agung kecewa dibuatnya.
Keheningan pun benar-benar melanda mereka berdua. Dan dering hp Agung memecahkan keheningan mereka berdua.
Terlihat nama Sella muncul dihp Agung. Agung pun mengacuhkannya. Namun Yura sudah tahu pasti dengan sikap Agung yang mengabaikan dering hpnya tersebut.
" Angkatlah! Mungkin ada sesuatu yang sangat penting." Ujar Yura memberikan pendapatnya atas kebimbangan wajah Agung yang jelas terlihat dimata Yura.
" Tidak. Aku sudah berjanji padamu Ra. Aku tak akan mengecewakanmu lagi dan akan melupakan masa laluku sepenuhnya untukmu." Ungkap Agung dengan menekankan ucapannya.
" Aku tidak memintamu berjanji. Aku hanya ingin hubungan kalian benar-benar selesai. Kalau Dia masih menghubungimu. Berarti ada yang belum selesai diantara kalian. Itu sungguh lebih menakutkan bagiku." Ungkap Yura panjang lebar, berharap Agung mengerti perasaan kebimbangan dan keraguan yang saat ini masih menghantui diri Yura.
" Tapi bagiku sudah selesai, begitu Kau berhasil mengisi dan menempati hatiku." Jawab Agung.
" Itu bagimu. Belum tentu sama baginya. Ingat, Aku seorang wanita. Aku lebih bisa menilainya." Ucap Yura jelas membuat Agung bingung.
Agung tak tahu harus bagaimana meyakinkan Yura dengan perasaannya itu. Apalagi perasaan wanita. Yang Dia tahu, Dia sudah terlalu lama setia. Namun dikecewakan. Dan kini hatinya sudah jelas berubah. Haruskah Agung mempertemukan Yura dan Sella agar semua masalah selesai. Dan Agung bisa menekankan siapa pilihannya saat ini. Tapi apakah Yura dan Sella mau bertemu? Demi dirinya. Itu terlalu egois bagi Agung. Dia seperti mementingkan perasaannya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan dibenak Agung, Membuat Agung mengerutkan keningnya berkali-kali.
Sedangkan Yura terlihat sudah sibuk dengan hpnya. Berkali-kali wajah Yura terlihat terkejut.
Sepertinya ada berita yang diluar dugaannya.
" Apa Kau sudah mengetahui rencana ayahmu?" Tanya Yura tiba-tiba membuat Agung tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke arah Yura dengan tatapan bingung.
" Tidak, Memang ap rencana Ayahku? " Agung penasaran karena jelas pagi tadi Ayahnya belum melanjutkan apa yang ingin Beliau katakan.
Yura pun menggelengkan kepalanya. Dia terlihat ragu untuk berdiskusi dengan Agung.
Tidak terasa sudah hampir sampai rumah Yura. Walaupun keheningan sering melanda diantara mereka berdua. Namun waktu terasa begitu cepat berlalu. Membuat Agung serasa ingin menahan Yura untuk beberapa saat, namun jelas Agung tak punya alasan untuk itu.
" Terim kasih."ucap Yura sekilas dan langsung keluar dari mobil. Dia terkesan buru-buru untuk menghindar dari wartawan yang sedang berburu berita. Agung memandang Yura sampai Dia benar-benar menghilang dari pandangannya. Dengan enggan Agung menyalakan mobilnya kembali.
###
Ini sungguh tak pernah sedikit pun terpikir oleh Yura untuk berada di sebuah tempat di mana dia hanya duduk terkurung di kamarnya, dan tidak berbuat apa-apa, selama hampir seharian ini. Karena kantor sengaja mengosongkan jadwal Yura selama tiga hari untuk beristirahat dahulu.
Sore ini, Setelah Yura telepon orang tuanya, Yura hanya duduk diam menatap hamparan gedung, merasakan hembusan angin, dan melihat indahnya senja yang perlahan tenggelam, Serta diiringi kicauan burung yang bertengger dibalkon kamarnya.
Berkali-kali terdengar dering hpnya. Dan jelas tertera sebuah panggilan dari seseorang yang Dia rindukan, Namun Dia abaikan. Entah setan darimana yang membuat Yura setega itu terhadap pria yang Dia cintai. Bahkan Yura benar-benar menggantung perasaannya.
Perasaan yang harusnya leluasa mekar merona bak bunga dimusin semi. Namun Dia menahannya, menekannya seperti ulat didalam kepompong. Dan berharap waktu membuatnya indah saat menjadi kupu-kupu.
Agung menghela nafas panjang. Teleponnya berkali-kali terlihat tiada jawaban. Agung pun langsung bergegas ke parkiran. Antara kecewa tetapi khawatir.
Bahkan teriakan Dimas tiada Dia hiraukan.
Selang beberapa menit kemudian.
Yura terkejut dengan bunyi bell berkali-kali.
Dia pun beranjak dari kamarnya menuju ruang tamu.
Dia pun mengecek dahulu siapa yang menjadi tamu tak diundang sore ini. Yura langsung membelalakan matanya. Terlihat Agung yang sedang menunggu dibalik pintu rumahnya.
" What !?!?!? " Dengan keraguan Yura membukakan pintunya.
" Apa Kau baik-baik saja? Kenapa Kau tidak menerima teleponku? Aku kira Kau pingsan atau terjadi apa-apa denganmu ..." Ucap Agung panjang lebar.
" Aku baik-baik saja." Jelas Yura.
Agung terlihat masih khawatir.
" Kau mau minum apa?" Tanya Yura.
" Tidak usah repot-repot. Aku hanya ingin mengajak Kau jalan-jalan sore ini. Untuk mencari udara segar. Kau pasti jenuh seharian dirumah."
' Tahu aja ini nih orang kayak dukun aja.' batin Yura.
" Jadi bersiaplah! Aku akan menunggumu disini." Tambah Agung. Yura langsung menajamkan matanya.
" Bagaimana kalau Aku tidak mau?" Yura mengancam Agung.
Agung langsung menarik tangan Yura dan membuat Yura jatuh kepelukannya.
" Aku akan membuatmu mau!!! "
Dengan lembut Agung mengecup kening Yura. Rasa kecewa, khawatir dan rindu seharian ini membuat Agung tak bisa mengontrol diri dan tak ingin melepaskan Yura begitu saja.
" Maaf." Ucap Agung seraya memandang kembali wajah polos Yura yang terkejut dan terlihat cantik natural tanpa make up.
Semua itu membuat Agung sangat terpesona.
Sedangkan Yura masih terpaku dan terkejut dengan keromantisan yang Agung ciptakan.
" Dan Aku akan menyeretmu ke hadapan wartawan. Dan bilang kalau kita . . . " Ucap Agung mencairkan suasana dan seketika terhenti begitu teedengar hpnya berdering.
" Hallo."
" Agung, dimana Kau?" Tanya Ayahnya terkesan marah.
" Why Daddy?" Agung penasaran mengapa Ayahnya menelepon.
" Bagaimana bisa dokumen rahasia perusahaan ada di wanita itu Gung!!!" ucap Ayahnya terdengar benar-benar sangat marah.
" What? Maksud ayah?" Agung terkejut sekaligus bingung dengan wanita yang dimaksud Ayahnya.
" Sella. Kau memberikan padanya?" Ayahnya langsung to the point menuduh putranya.
Agung terkejut mendengarnya.
To be Continued