
Yura meletakkan hpnya. Dan kaki kanannya , Dia hentak-hentakan ke lantai sambil menunggu.
'Kenapa Agung disana?
Why? Why? Why? ' Pikiran Yura tidak karuan. Apalagi saat mengingat Agung. Dia terlihat sangat gelisah. Sesekali Yura melihat sekitar. Dan membenarkan penutup jaketnya. Berharap tidak ada orang yang akan mengenalinya.
Yura langsung mengambil hpnya kembali dan mematikan data selulernya. Dia terlihat sangat gelisah. Berkali-kali Dia celingak celinguk seperti artis yang menghindari netizen. Setelah berhasil mematikan data seluller dan mengubah ke mode pesawat, Dia menghela nafas lega.
' Aman.' pikir Yura sedikit mengurangi rasa gelisahnya.
Tanpa Yura ketahui. Terlihat sosok pemuda yang sedang celingukan mencari-cari sesuatu dalam pandangan. Dia sesekali membenarkan posisi kopernya sambil tetap melangkahkan kakinya. Pemuda itu berhenti dan sejenak fokus melihat sosok Yura yang sedang berusaha menutup rapat jaketnya. Dan jelas itu membuat pemuda itu penasaran.
Tanpa pikir panjang, Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju ke tempat Yura berada.
" Yura! " Tiba-tiba suara Agung terdengar jelas ditelinga Yura.
Yura langsung terkejut dan menengok ke arah asal suara tersebut. Betapa terkejutnya Yura melihat sosok Agung yang sekarang berdiri tegap tak jauh dari tempatnya berada.
" Ngapain Kau disini?" tanya Yura spontan.
" Dasar bodoh! Terus ngapain juga Kau disini?"
" Nunggu pesawat." jawab Yura polos.
" Kukira nungguin kereta lewat." ucap Agung seraya duduk disamping Yura.
Yura tidak merespon candaan Agung. Tapi Dia fokus dengan koper yang dibawa Agung.
" Kau mau kemana?" Tanya Yura.
" Entahlah. Aku juga bingung mau kemana." jawab Agung sambil sesekali membenarkan jam tangannya.
Yura terlihat kesal dengn jawaban Agung.
" Kau mengikutiKu?" Tebak Yura.
" PD banget." Agung menaikkan alisnya.
" Terus ngapain Kau disini?" Yura kesal.
" Kan Aku bilang. Aku bingung mau kemana. Jadi ya suka-suka Aku lah." Jawab Agung santai membuat Yura tambah kesal.
Yura pun beranjak dari tempat duduknya.
" Kau mau kemana?" Tanya Agung balik.
" Suka-suka Aku lah mau kemana." ucap Yura seraya menarik kopernya. Namun belum sempat Yura menariknya. Agung sudah merebut kopernya.
" Sudahlah, Aku tidak mau basa basi lagi. Apa maksudmu melarikan diri seperti ini Ra?"
" Aku tidak ingin menjadi penyebab perusahaan Ayahmu kenapa-kenapa."
" Apa maksudmu? Apa Sella mengancammu seperti itu?"
" Iya." Yura mengangguk ragu.
" Dasar bodoh! Takut betul Kau dengan ancamannya." ucap Agung sinis.
" Aku tidak bodoh." Yura tidak terima.
" Iya. Kau tidak bodoh. Tapi Kau benar-benar bodoh." Ucap Agung tambah sinis.
" Kalau begitu Kau lebih bodoh dariku." Yura tidak mau kalah.
" Kok gitu." Agung mengerutkan keningnya.
" Buktinya Kau jatuh cinta dengan orang bodoh sepertiku." Balas Yura.
" Iya sepertinya jatuh cinta membuatku jadi bodoh." Agung akhirnya mengakuinya.
" Akhirnya Kau mengakuinya." Yura terlihat senang dan penuh kemenangan.
" Kalau begitu ayo pulang! " ajak Agung.
" Lah kok pulang, bukannya Kau bawa koper mau ... "
" Mau apa? Aku bawa koper abis menjemput adikku pulang dari Bali." Aku berbohong untuk sebuah alasan.
Yura melongo mendengar penjelasan Agung.
" Tapi bukannya Kau tadi dikantorku?"
" Iya, habis itu adikku telepon dan minta tolong untuk menjemputnya."
Yura langsung tertunduk.
" Kok bisa kebetulan sekali." ucap Yura lirih tetapi masih terdengar jelas ditelinga Agung.
Agung pun menahan tawanya. Dia hanya tersenyum geli melihat tingkah Yura yang mendadak seperti kucing kedinginan.
To be Continued