Sweet Police

Sweet Police
Arti Sahabat



Agung mengaduk-aduk kopinya. Sesekali memperbaiki kerah dibajunya.


" Jadi sebenarnya masalah apa yang sedang Kau hadapi sampai matamu terlihat seperti panda begitu?" Dimas mencoba mencairkan suasana.


" Ini masalah besar Dimas. " Agung terlihat berpikir panjang sebelum menceritakan lebih detailnya kepada Dimas.


" Masalah besar apa? Melanggar hukum?" Dimas asal tebak.


Agung mengangguk, membuat Dimas sedikit merasa bersalah.


" Maaf. Tapi Aku sahabatmu siapa tau bisa membantumu." ucap Dimas.


" Tidak apa, itu memang faktanya melanggar hukum." jelas Agung.


Flash back


Agung membuka ruang kerja ayahnya.


'Dimana laporan keuangan perusahaan ayah disimpan?' Dia pun melihat brangkas dokumen ayahnya.


' Itu dia.' Agung pun mencoba kode-kode penting ayahnya. Dari tanggal pernikahan orang tuanya, tanggal lahir ibunya, tanggal lahir ayahnya hingga sampai tanggal kelahirannya.


' Yes. Berhasil.' Hati Agung bersorak.


Agung langsung secepat kilat memfoto copy dokumen perusahaan ayahnya. Dia berniat untuk tugas laporan pajak dalam kuliahnya.


Setelah selesai memfotocopy, Agung pun langsung mengembalikan seperti semula.


Dengan senang hati Agung langsung menemui Sella untuk mengerjakan bersama.


Namun siapa sangka mereka mendapatkan keganjilan didalam laporan tersebut.


" What??? Jadi perusahaan ayahmu selama hampir Dua tahun ini memanipulasi data keuangan perusahaan, agar bisa menekan biaya perusahaan ?" Tanya Sella.


" Aku baru tahu Sella ya, Kalau begini sebaiknya Kau tidak menggunakan data perusahaan Ayahku untuk tugas kali ini. Tidak mungkin Kau menggunakan laporan perusahaan yang berujung ke penggelapan pajak bukan? Jelas ini melanggar hukum." ucap Agung langsung meletakkan dokumen-dokumen tersebut. Dia terlihat kecewa dengan Ayahnya.


" Kalau begitu biar Aku yang simpan. Aku perlu untuk mendukung penelitianku. Aku akan memanipulasinya juga dan terlihat baik-baik saja." pinta Sella seraya merapikan dokumen itu.


" Tapi Sella..." Agung terlihat khawatir dokumen itu terbuang sembarangan dan tercium ke publik. Sebesar apapun kekecewaan Agung saat ini terhadap ayahnya. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan orang tuanya. Kalau sampai data laporan itu tercium publik, dipastikan Ayahnya masuk penjara dan perusahaan terkena penutupan. Sedangkan dirinya masih kuliah, siapa yang mengurus ibu dan adiknya. Dia tidak mau seegois itu untuk menghancurkan ayahnya didalam kesalahan. Dia masih berpikir ulang.


"Tenang, Aku akan simpan baik-baik dan tidak akan membocorkan ke publik." Jelas Sella meyakinkan Agung.


Flash back off


" Lalu apa hubungannya masalahmu dengan ceritamu itu?" Donghae masih belum terlalu mengerti.


" Kemarin Sella mengancam Ayahku dengan salinan dokumen itu. Dan ayahku masuk rumah sakit."Agung masih memainkan sendoknya. Wajah penuh penyesalan menyelimuti dirinya saat ini.


" Wah terlalu.Mantanmu itu." Dimas to the point.


" Iya, Dia ingin Aku meninggalkan Yura dan kembali padanya." ucap Agung sedikit emosi mengingatnya.


" Apa!!! Enak betul. No!!! Kau tidak boleh terperdaya untuk kedua kalinya." Dimas ikutan emosi mendengarnya.


Dimas pun memutar otaknya, berusaha mencari solusi terbaik dari masalah yang sedang Agung hadapi saat ini.


Agung memandang hampa kopi didepannya.


" Bagaimana kalau Aku mengundurkan diri dari kepolisian dan mengurus perusahaan ayahku?" Tanya Agung tiba-tiba.


" Maksudmu?" Dimas terkejut dengan ucapan Agung.


" Bukankah Ayahku harus mempertanggungjawabkan kesalahannya itu." 


Agung memandang Dimas.


" Tapi, ayahmu kan sedang sakit Gung." Dimas pun tidak tega membayangkan ayahnya Agung masuk penjara.


Agung menundukkan kepalanya.


" Daripada Aku kehilangan Yura. Bukankah itu solusi terbaik?" Tanya Agung yang terkesan putus asa dan menyerah atas masalah yang sedang Dia hadapi.


" No. Tapi bukan itu solusinya Gung. Kau terlalu egois!" Dimas menolak solusi Agung.


" Jadi Kau menginginkan Aku pisah dengan Yura?" Agung menatap tajam Dimas. Pikiran yang sedang berkecambuk membuat Agung sedikit sensitif dan salah paham.


" Tidak Gung! Aku tidak bermaksud begitu." Dimas memperjelas maksudnya.


Suara dering hp memotong pembicaraan mereka. Terlihat Yura meneleponnya.


" Hallo Ra."


" Apa Mas sudah pulang? Bagaimana kalau kita kerumah sakit bersama?Apa perlu Aku menjemputmu? Aku sudah disekitar kantormu." Pertanyaan dan kata-kata Yura yang panjang lebar sedikit membuat Agung terhibur. Yura seharian khawatir memikirkan Agung. Namun Dia menahan diri agar tidak mengganggu konsentrasi Agung didalam kerjaannya.


Yura terlihat lega mendengarnya.


" Dimana?" Yura celingukan.


"Kedai Coffe cup seberang kantor." Jawab Agung seraya membaca Coffe Cup. Begitu banyaknya pikiran membuat Agung sedikit nge blank.


Yura pun terlihat langsung memutar balik mobilnya menuju tempat yang Agung maksud. Dengan pelan-pelan Yura memarkirkan mobilnya. Topi, masker, syall, mantel dan kacamata sudah melekat sempurna didirinya. Sebelum keluar dari mobil, Yura memastikan tidak ada wartawan yang mengikutinya.


Yura langsung memandang ke seluruh ruangan coffe cup. Terlihat jelas wajah Dimas dan Agung dengan seragam kepolisiannya dilapisi mantel yang terbuka.


Aghng langsung tersenyum melihat kedatangan wanita yang dicintainya. Sedangkan Dimas langsung garuk-garuk melihat tatapan Agung yang penuh kerinduan. Yura memakai kacamata. Jelas kekhawatiran yang Yura rasakan sebelumnya, tidak begitu jelas dimata Dimas.


" Sore."  Sapa Yura dibalik maskernya seraya membungkukkan badannya.


"Sore Ra." Balas Dimas.


Sedangkan Agung langsung menarik sebuah kursi untuk Yura dan memesan minuman untuk Yura.


" Sepertinya Aku harus pulang. " Ucap Dimas takut mengganggu waktu berduaan mereka.


" Selesaikan minummu dulu." Agung melarangnya.


" Apa Aku tidak mengganggu kalian?" Dimas memastikan.


" Tidak!!!" jawab Agung dan Yura serempak.


Mereka bertiga terdiam sejenak. Masih terlihat kaku. Agung masih memikirkan masalahnya. Yura terlihat bingung mau berbicara apa di depan Agung dan Dimas.


"Yura kenapa Kau bisa suka dengan Agung?" Tanya Dimas mencairkan suasana.


" Entahlah." Yura terlihat malu mengingatnya.


" Kenapa Kau tidak menyukaiku saja Ra?yang lebih ganteng dan imut ini." keluh Dimas mendapat tatapan tajam dari Agung.


" Yaa!! kenapa Kau menatapku seperti itu?" protes Dimas.


"Bukankah dulu Kau bilang sama sekali tidak tertarik dengannya?" Tambah Dimas mengingatkan kembali kata-kata yang pernah diucapkan Agung.


" Benarkah???" Yura pura-pura terkejut.


" Aiiish. Please!!! Itu masa lalu!!!" pinta Agung dengan wajah memelas.


Namun Dimas terlihat senang menggoda Agung saat ini.


" Ok dah, Ok." Dimas menjawab pertanyaan Yura.


Yura langsung pura-pura ngambek.


" Itu dulu Ra." Agung kali ini yang terlihat protes namun malu saat mengingatnya.


Dimas langsung tertawa.


" oya Agung, katamu Kau mau kasih foto dan tanda tangan Yura yang besar untukku." Dimas menyolek Agung, mencoba menghibur Agung agar tidak begitu tegang dalam menghadapi masalahnya.


Agung langsung tertawa mengingat janjinya dengan Dimas.


Dimas terlihat senang akhirnya bisa membuat Agung sedikit melupakan masalahnya.


" Apa??? Jadi Kau diam-diam mau menjual foto dan tanda tanganku?" Yura menatap kesal Agung dibalik kacamatanya.


" Tidak lah!!! Itu hanya bercanda


" Agung langsung mengelak.


" Tapi Sepertinya itu ide yang bagus Ra." tambah Agung seraya memegang dagunya seperti sedang berpikir.


" Sepertinya Kau harus hati-hati Ra.


Agung sudah mulai berotak bisnis." ucap Dimas.


" Asal Dia tidak menjualku saja." ucap Yura langsung tertawa.


" Yaa! Kalau Kau dijual. Aku yang akan langsung membelinya." ucapan Dimas langsung membuat Agung membelalakan matanya.


" Apa Kau mau ada peluru nyasar sekarang?" Agung mengancam Dimas.


" Ampun!!! Aku belum mau mati! Masih banyak dosaku!" Ucap Dimas seraya menutup kepalanya dengan kedua tangannya.


Mereka pun langsung tertawa bersama.


To be Continued