Sweet Police

Sweet Police
Intuisi



Yura masih bersikeras duduk. Namun Agung bersikeras memaksanya pulang.


" Kau ingin terkena scandal lagi?" Ancam Agung setengah berbisik.


" Maksudmu apa?" Yura melirik ke Agung penuh emosi.


" Yura seorang penulis yang terkenal bertengkar dibandara dengan kekasihnya." Bisik Agung menakuti Yura.


Yura langsung beranjak dan menarik kopernya.


" Siapa juga kekasihku." Yura ngedumel sendiri.


Agung lagi-lagi tersenyum geli melihatnya.


Sedang Yura melangkahkan kakinya menuju basemen, dimana Dia memarkirkan mobilnya.


Namun Yura terkejut saat menengok ke belakang. Agung terlihat masih mengikutinya.


" Kenapa Kau mengikutiKu?" protes Yura.


" Aku hanya takut Kau diculik." ucap Agung ngawur.


Yura hanya mendengus kesal.


" Oya bagaimana dengan Sella?" Tiba-tiba Yura bertanya soal Sella ke Agung.


" Itu bukan urusanmu?"


" Bagaimana kalau Dia benar-benar menghancurkan perusahaan ayahmu?" Tambah Yura.


" Itu juga bukan urusanmu Ra. Jadi tidak usah kau pikirin."


" Tapi Sella menginginkanmu!" jelas Yura.


" Dan itu bukan urusanmu juga Ra. Yang Kuinginkan itu Kau Ra. Bukan Dia! " jelas Agung panjang lebar.


Yura membuka pintu mobilnya. Namun tiba-tiba Agung mengambil alih posisi nyetirnya.


" Geserlah!"perintah Agung.


Yura kali ini hanya nurut saja. Namun pandangannya terlihat gelisah.


" Kau kenapa sih Ra? Kau tidak percaya lagi padaku?"


" Bagaimana Aku percaya. Kau sendiri mempunyai masa lalu yang bisa menghancurkan."


Agung menghela nafas panjang seraya menyalakan mobil. Mobil melaju ke arah kota.


Namun tiba-tiba Yura berteriak.


" Kemana lagi, ke apartemen baruku."jawab Agung santai.


" Putar balik! Aku mau pulang!" teriak Yura membuat Agung menutup telinga kirinya.


" Kau ingin Sella menemukanmu?"Agung menatap Yura dengan tatapan tajamnya.


" Itu kan bukan urusanku." bantah Yura.


" Iya , tapi itu urusanku. Jadi ikuti saja peraturanku kali ini. Lagian Aku sibuk kerja juga. Tidak bisa mengawasi 24 jam. Tenang saja apartemennya ada dua kamar." jelas Agung sangat panjang lebar agar Yura tidak khawatir.


" Tapi, bagaimana keluargamu."


" Aku sudah meminta ijin pada Ayahku untuk tinggal di apartemen sendiri."


Yura terlihat ragu. Namun disisi lain Dia tidak ingin terganggu dengan Sella dan percaya dengan solusi Agung. Diam-diam Yura melirik Agung yang sedang fokus menyetir.


' Sepertinya selain tampan, Dia pria yang penuh tanggung jawab.' batin Yura.


" Dingin sekali," celetuk Yura.


" Apa perlu kumatikan ACnya?"


"Tidak usah." Yura tersenyum senang.


Entah mengapa tiba-tiba moodnya jadi tidak sejelek tadi siang. Saat Dia ingin kabur untuk menghindari semua masalah. Yura menatap ke jendela, Dia tersenyum kala melihat dua sejoli yang masih berseragam berboncengan terlihat bahagia. Angin sepoi-sepoi membuatnya terlelap.


Sebuah tangan membuatnya terkejut dan membuk matanya. Diq terkejut wajahnya berjarak 5 cm dari Agung. Detak jantungnya berdebar saat tatapan Agung terlihat sebuah hasrat terpendam.


" Sudah sampai." ucap Agung langsung melepas sabuk pengamannya Yura dan langsung mundur ke posisi bangkunya.


Yura langsung menghela nafas panjang.


Dan Agung tertawa.


" Apa yang Kau harapkan?" Tanya Agung seraya mengambil kunci mobilnya dan menyerahkan ke Yura.


" Bicara apa sih." ucap Yura langsung membuka pintu mobil sendiri dan keluar.


Sedangkan Agung langsung buru-buru menyuruh Yura memakai topi dan maskernya,begitu pula dirinya.


" Maaf, lupa." ucap Yura seraya mengikuti langkah Agung masuk lift.


Di lift mereka terdiam membisu. Berharap orang-orang sekitar tidak ada yang mengenalinya. Namun seseorang terlihat memperhatikan mereka sejenak. Agung langsung pura-pura memeluk Yura agar tidak terlihat jelas wajah Yura. Akhirnya orang tersebut langsung mengalihkan pandangannya.


To be Continued