
" Singkirkan tanganmu!" bisik Yura
" Iya-iya. Bukannya terima kasih malah ngedumel." Agung meniru cara bicara Yura. Membuat Yura melirik tajam ke arah Agung.
Lift langsung terbuka. Agung langsung menggandeng Yura. Yura terlihat berlari-lari kecil mengikuti langkah Agung.
" Kau cepat sekali jalan, seperti mau ngejar pencuri aja." keluh Yura.
" Apa Kau tidak tahu Aku memang lagi menangkap pencuri. Pencuri hatiku! " jelas Agung seraya ngegombal.
" Gak lucu." ucap Yura namun wajahnya sedikit memerah.
" Kok ga lucu jawabnya. Aku kan jadi ga bisa ngegombal lagi." Keluh Agung.
Namun belum sempat Yura membalas ucapa Agung. Agung sudah membuka pintu apartemen dan menyuruh Yura cepat-cepat masuk takut ada netizen atau bahkan mata-mata dari Sella yang berusaha mengikutinya.
Yura langsung terkejut. Barang-barang tersusun sangat rapi. Bahkan penataanya sangat sesuai.
Agung langsung membawa koper Yura ke sebuah kamar. Dan jelas kamar itu tertulis nama Yura.
" Tidak usah berpikir macam-macam. Aku tipe orang yang tidak akan menggangu privasi seseorang yang belum halal bagiku." jelas Agung.
" Siapa juga yang berpikir macam-macam." ucap Yura seraya mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan.
" Siapa tau." ucap Agung sambil tertawa dan melangkahkan kakinya masuk.
" Untuk sementara Kamu disini. Ruang kerja sekaligus kamar. Dan Aku yang akan menyelesaikan soal Sella." jelas Agung seraya menunjukkan sebuah meja dan kursi dilengkapi dengan laptop dan lemari dokumen didekat jendela.
Yura mendekat ke jendela dan menyibak tirainya.
" Kau tadi sungguh-sungguh akan meninggalkanku kah Ra?" Tanya Agung tanpa basa basi dan terlihat masih khawatir.
Yura terdiam, sesekali membenarkan rambut panjangnya yang terurai. Memandang Agung dengan tatapan kesal. Karena Yura masih belum mengerti masalah apa yang sedang Agung hadapi sampai Sella datang mengancamnya.
" Sebenarnya apa masalahmu dengan Sella?" Bukannya menjawab Yura meminta penjelasan.
Agung menghela nafas panjang. Rasa sesak didada seakan datang tiba-tiba. Yura terlihat sudah mencium permasalahannya. Agung tidak bisa mengalihkan pembicaraan lagi, apalagi merahasiakan kembali seperti sebelumnya.
" Maaf. Sebelumnya Aku berharap bisa menyelesaikan masalah ini tanpa Kau mengetahuinya." Agug menatap wajah Yura, berharap reaksi Yura mengerti.
" Tapi seperti kata pepatah sepandai-pandainya bangkai ditutupi akhirnya tetap tercium juga. Sepintar-pintarnya Aku menyimpan kebohongan. Akhirnya Kau mengetahui juga." tambah Agung.
Agung terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
" Sella mempunyai salinan dokumen penggelapan pajak perusahaan waktu Ayahku masih terlibat dengan dunia politik dulu. Dan Dia menggunakan dokumen itu untuk mengancam Ayahku. Tepatnya mengancamku." Jelas Agung menceritakan masalahnya terhadap Yura.
Yura langsung terkejut dan terpaku mendengarnya.
" Jadi kumohon. Mengertilah dengan posisiku Ra!" pinta Agung.
Yura langsung memegang keningnya. Pikirannya langsung terasa buntu mendengar cerita Agung.
" Jadi apa yang ingin Kau lakukan? Tetap memilihku ?" Tanya Yura memastikan lagi mengingat Agung sampai mengejar ke bandara hari ini.
Agung mengangguk.
" Seperti janjiku. Aku tak akan pernah mengecewakanmu lagi." ucap Agung meyakinkan Yura.
" Bukankah kalau Kau memilihku perusahaan Ayahmu akan hancur? Dan tentunya Ayahmu juga? Apa Kau ingin seegois itu? Aku mencintaimu! Tapi Aku tidak ingin Kau mengambil keputusan gegabah seperti itu demi kita." Yura memastikan dampak apa yang akan terjadi. Walaupun disisi lain Dia sangat mencintai pria yang sedang didepannya saat ini. Tapi tidak mungkin Yura mementingkan dirinya sendiri dan menghancurkan pak Soni yang selama ini telah baik kepadanya.
Agung langsung memeluk Yura.
" Maaf. Tapi kumohon percayalah padaku kali ini."Agung masih memeluk erat Yuraa.
Walaupun pikirannya pun masih buntu. Jalan satu-satunya yaitu mempertanggungjawabkan kesalahan itu. Sehingga Sella tidak bisa mengancamnya.
Namun Yura pasti tidak akan menyetujui keputusan itu. Dan Ibunya juga pasti akan melemparnya ke laut. Agung sebenarnya masih frustasi dan sangat rapuh saat ini. Namun demi apapun Dia tidak ingin kehilangan Yura.
" Apapun yang terjadi Aku akan tetap bertahan disampingmu." ucap Yura membalas pelukan Agung.
" Apa Kau menangis ?" Tanya Yura terasa basah dibahunya.
" Tidak." Agung langsung mengusap air matanya dengan tangan dan melepas pelukannya.
" Lagi-lagi Kau berbohong." Yura menatap mata Agung yang terlihat masih basah karena air mata.
" Maaf."Agung membalikkan tubuhnya, malu Yura mengetahui Dia menangis.
Yura pun tersenyum, tangannya memegang lengan Agung, perlahan menarik Agung ke dalam pelukannya.
" Aku sungguh mencintaimu." ucap Yura membuat Agung mempunyai kekuatan lagi dan semakin yakin untuk tetap bertahan memperjuangkan Yura.
###
Sinar mentari mulai menerobos melalui sela-sela jendela apartement. Kicauan burung pagi terdengar saling bersahutan seakan menyanyikan lagu cinta.
Agunh membuka matanya saat sinar matahari tepat menyinari wajahnya. Dia mengusap-usap matanya. Dan sedikit terkejut saat terbangun bukan dikamarnya. Agung terdiam sejenak seraya memandang sekitarnya. Terlihat sosok wanita yang selalu Dia rindukan sedang hilir mudik menyiapkan sarapan pagi.
Lagi-lagi Agung terkejut.
'Kenapa Aku disini?' batin Agung bingung. Dia menggaruk-garuk kepalanya berusaha mengingat ulang kejadian semalam.
Agung pun tersenyum begitu Dia mengingat mereka mengobrol dari A sampai Z tentang bagaimana Agung dulu yang tidak tertarik sama sekali dengan Yuraa. Sampai cerita Yura yang kesal dan ingin menahlukkan agung karena kesongongannya. Hingga akhirnya mereka sadar akan perasaan hati mereka yang sebenarnya. Sampai Yuraa tertidur dalam pelukan Agung. Dan Agung tidak tega untuk membangunkannya. Sehingga Agung pun ikut tertidur di sofa dekat jendela dan tempat kerja yang telah disediakan khusus buat yura.
" Apa Kau sudah bangun?" Tanya Yura membuyarkan lamunan Agung.
" Iya." Agung bangkit dan merapikan selimutnya.
" Kalau mau mandi sudah kusiapkan handuk dan peralatan mandi dikamar mandi."jelas Yura masih sibuk membuat sarapan.
"Thanks."Agung langsung melangkah ke kamar mandi. Beruntung Dia pakai seragam juga. Jadi walaupun tidak ganti, tetapi setidaknya tidak kalang kabut untuk ke kantor. Itu pikiran Agung dan langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Sambil menunggu Agung mandi, Yura menyalakan televisi begitu selesai menyiapkan sarapan pagi.
' Tiada berita yang begitu berarti.' pikir Yura sedikit tenang.
Deringan hp Agung membuat Yura terkejut.
Yura tidak berniat untuk mengangkatnya. Namun deringan itu berlanjut hingga berkali-kali. Terlihat ayah Agung yang menelepon.
' Mungkin penting.' Yura mengangkat teleponnya.
" Hallo. Selamat pagi." ucap Yura hati-hati.
" Yura ya? Apa Kau bersama Agung?"
" Iya Pak. Maaf." Yura sangat tidak enak terhadap pak Soni karena putranya tidak pulang dan bersamanya semalaman.
" Kebetulan sekali. Kalian ke rumah dahulu. Ada yang perlu Aku bicarakan."pinta Pak Soni.
" Ok pak."ucap Yura dan meletakan hpnya begitu Pak Soni mematikan teleponnya.
Agung keluar dari kamar mandi sudah terlihat rapi namun masih mengeringkan rambutnya dengar handuk. Raut wajahnya terkejut melihat Yura yang meletakkan hpnya dan terlihat penasaran.
" Siapa Ra? " Tanya Agung.
" Ayahmu. Maaf telah kuangkat." ucap Yura meminta maaf karena telah mengangkat Hp Agubg tanpa seijinnya.
" No problem! Bukankah sebentar lagi juga Kau akan jadi istriku?" Tanya Agung langsung melemparkan handuk ke sofa dan menarik Yura ke dalam pelukannya. Agung sejenak benar-benar lupa masalahnya.
" Whatt??? Yaa!!! Lepaskan Aku!!!" Yura berusaha melepaskan tangan Agung dari pinggangnya. Namun bukannya lepas,Agung sengaja mempererat tangannya.
" Ayahmu meminta kita menemuinya pagi ini." Jelas Yura langsung membuat Agung spontan melepaskan tangannya.
" Ayo sarapan!!!" Tambah Yura mengajak Agung yang masih terpaku mengingat masalah yang masih harus Dia hadapi.
To be Continued