Sweet Police

Sweet Police
Frustasi



" Aku??? " Yura memastikan pendengarannya.


Kevin menggangguk.


" Apa Kau tidak salah orang? " Tanya Yura semakin ruwet pikirannya.


Kevin menggelengkan kepala.


" Tidak. Aku benar-benar serius Ra." Ucap Kevin menyakinkan.


" Tapi, Aku...Aku hanya menganggapmu sahabat Ke." ucap Yura.


"Tapi Ra, Ini semua demi kebaikanmu. "


Kevin tiba-tiba menatap tajam kearah Yura.


" Agar Sella tidak bertindak semakin jauh untuk melukaimu."


Yura langsung bingung dengan perkataan Kevin.


" Apa maksudmu?" Yura penasaran.


" Aku kenal Sella. Dia anak dari salah satu sahabat Ibuku. Teman masa kecilku. Aku tahu Dia. Dia akan menggunakan segala cara Ra. Aku hanya takut Kau kenapa-kenapa Ra." ucap Kevin panjang lebar.


Yura langsung berdiri membuat Kevin bingung.


" Aku bisa menjaga diriku sendiri Ke. Dan terima kasih banyak untuk hari ini." ucap Yura langsung beranjak dan meninggalkan Kevin yang masih mencoba menahannya.


" Ra! Kumohon ! " Kevin meraih tangan Yura dan menghentikan langkah Yura.


Yura berhenti sejenak dan memandang Kevin. Lalu perlahan melepaskan tangan Kevin.


" Maaf Ke, selamanya Aku hanya bisa menjadimu sahabatku. Aku tidak bisa lebih dari itu." Jelas Yura seraya memandang Kevin penuh arti.


" Apa Kau benar-benar sangat mencintainya? Hingga Kau memilih membahayakan dirimu sendiri?" Kevin masih berusaha membuat Yura agar berubah pikiran.


" Entahlah, Aku sendiri tidak tahu dengan diriku sendiri saat ini. Terima kasih untuk tawaranmu." Ucap Yura melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Kevin.


Yura memutuskan pulang. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Dia pun sejenak terduduk dan memegang kepalanya.


" Sepertinya Aku butuh refreshing dan menghilang sejenak."


" Kenapa semakin kesini, semakin ruwet."


Hpnya berdering.


Yura mengeceknya dan membiarkan Hpnya begitu saja.


Tidak selang lama bunyi bel terdengar berkali-kali.


" Berisik sekali. Siapa siang-siang begini bertamu." Yura beranjak dari tempat duduknya dan langsung membuka pintu.


Yura sangat terkejut.


" Hai, Yura. Jadi disini." Sella tanpa permisi langsung masuk dan duduk.


" Apa maumu? Dan kenapa Kau sampai datang kesini?"


Sella langsung tertawa.


Yura menghela nafas dan mencoba menenangkan pikirannya.


" Jadi apa maumu?"


" Aku ingin ingin Kau meninggalkannya."


Yura terdiam sejenak. Dia mulai merasa lelah dengan situasi saat ini. Dia benar-benar frustasi.


" Ok. Aku akan meninggalkannya. Setelah itu jangan Kau ganggu Aku dan juga perusahaan keluarganya."


Sella tersenyum penuh kemenangan.


" Fix, " Sella mengajak Yura berjabat tangan.


Yura sedikit ragu, Namun akhirnya menyerah.


Dengan senyum kemenangan Sella langsung keluar dari tempat Yura. Sedangkan Yura langsung bergegas memesan tiket pesawat.


" Satu tiket tujuan Balikpapan."


Tanpa pikir panjang Yura mengemas baju-bajunya ke koper dan langsung menyalakan mobilnya menuju bandara.


Jalanan Yogyakarta siang hari sangat terik. Sesekali Yura membenarkan masker yang dipakainya. Berkali-kali terdengar dering hpnya. Namun Dia acuhnya.


Tidak lama Dia sampai di bandara Yogyakarta. Dengan langkah pasti Dia menuju chek in tiket dan pemeriksaan.


Sampai diruang tunggu, Yura meluruskan kakinya yang terasa sangat pegal. Lagi-lagi terdengar dering hpnya. Terlihat sahabatnya Sani yang meneleponnya.


" Halo."


" Kau dimana?" Teriak Sani.


" Pelankan suaramu! Aku masih belum tuli." keluh Yura.


" Ra, Dimana Kamu?"


" Bandara."


" What???" Suara Sani penuh penekanan.


" Kenapa San?" Yura merasa aneh.


" Putra... putra..."


" Bicara yang benar." Yura kesal.


" Putra Pillar Group ingin bertemu." Jelas Sani.


" Bilang aja tidak tahu."


" Apa maksudmu menyuruh teman berbohong?" Tiba-tiba suara Sani beralih frekuensi menjadi suara Agung yang terdengar.


Yura langsung panik dan mematikan teleponnya.


...***...