
Yura melangkah ke dalam kantor sambil membalas teguran-teguran para karyawannya. Selaku istri Agung, jelas para karyawan sangat mengenalnya.
Siang itu Yura baru saja pulang dari fanmeeting dengan fansnya. Dia baru saja meluncurkan sebuah novel baru. Dan kebetulan lewat depan kantor suaminya.
Ketika Dia masuk ke dalam kantor dilihatnya suaminya sedang berbincang-bincang dengan teman bisnisnya. Seorang wanita cantik dan berpenampilan glamour.
Agung yang sedang berbincang dengan wanita bernama Claudia itu penuh canda sembari tertawa. Yura mengerjap-ngerjap matanya. Ketika pembicaraan laki-laki itu sudah berakhir Ia beralih perhatian ke arah Yura. Berbinar mata Agung menatap Yura berada dikantornya.
" Oh Sayang, sudah beres urusanmu?"
" Sudah," Sahut Yura.
Agung pub segera memperkenalkan Yura dengan Claudia.
" Ini teman bisnisku, yang ternyata pernah satu universitas juga denganku Sayang, " Jelas Agung membuat Yura manggut-manggut tanda mengerti.
Kedua wanita itu bersalaman dan saling menyebutkan namanya masing-masing.
" Yura. Senang bisa berkenalan dengan Anda."
" Claudia."
" Ya sudah Sayang, Aku tunggu di ruangan Sasa." Ucap Yura mengerti situasi pekerjaan Agung.
" Ok Sayang."
Yura pamit keluar dari ruangan Agung.
" Istrimu cantik sekali, Gung ..., " puji Claudia.
" Jelas dong."
" Pasti Kau susah mendapatkannya."
" Oo, itu rahasia persaingan... " Jawab Agung tertawa.
" Sekarang apa yang bisa Saya bantu?" tambah Agung to the points.
Claudia memulai tugasnya. Dia segera mengeluarkan buku-buku promosi dan brosur.
" Perusahaan Kami baru mengimpor mesin-mesin alat modern. Dan ini gambar-gambarnya." tutur Claudia sambil menyerahkan buku-buku promosi kepada Agung.
" Dan mungkin dua Minggu lagi mesin-mesin tersebut akan tiba di Indonesia."
" Baik, ada yang lainnya lagi?"
" Aku rasa baru itu."
Agung mengambil gagang telepon dan menekan nomor satu.
" Sasa."
" Ya, Pak."
" Datang ke ruang kerjaku."
" Baik, Pak."
Agung meletakkan gagang telepon kembali. Sesaat kemudian Sasa masuk.
" Ada apa Pak?"
" Tolong Kamu pelajari buku promosi ini. Setelah itu buatkan surat jawabannya." Kata Agung seraya menyerahkan buku promosi itu kepada Agung.
" Baik Pak." Sasa melangkah keluar.
" Kalau begitu Saya permisi dulu Gung. "
" Ok. Sampai ketemu lagi.
Agung mengantar Claudia cuma sampai depan pintu ruangannya.
...***...
Yura yang duduk di samping Sasa penasaran.
" Apa itu Sa?"
" Oh. Oya apakah tamunya masih diruangan?"
" Sepertinya tadi hampir selesai Bu."
Tiba-tiba suara telepon ruangan Sasa berdering. Sasa mengangkat telepon ruangannya.
"Hallo,"
" Suruh Ibu ke ruangan Saya. "
" Ok Pak."
" Ibu, Bapak sudah selesai urusannya. Ibu disuruh ke ruangan Bapak."
" Ok Sa. Thanks."
Yura langsung beranjak dari ruangan sekretaris tersebut dan menuju ruangan Direktur.
Tanpa ketuk pintu, Yura langsung masuk ke ruangan tersebut.
" Sayang, Mau makan apa? Biar Aku pesankan."
" Hmmm. Sepertinya Aku kenyang melihat teman bisnismu."
Agung tertawa.
" Oh My God. Ayolah, jangan begitu. Kamu lebih cantik. Cermin mana cermin?"
" Nggak lucu."
" Jadi Kamu cemburu?"
Yura terdiam. " Tapi Dia memang cantik."
" Yang namanya wanita ya cantik. Kalau tampan itu Aku." Agung menggoda Yura berharap bisa mengembalikan mood istrinya yang sedang dilanda cemburu.
" Huh." Yura mendengus kesal.
" Ayolah. Apa Kau mau makan nasi gudeg, nasi goreng, sate, ayam bakar, lalapan atau bakso?" Semua menu kesukaan Yura disebut semua.
" Semuanya." Jawab Yura kesal.
" Tambah Ice cream."
" Ok. Fix. Siap-siap ruangan kerjaku jadi warung makan." Ucap Agung langsung menelepon Marko, Seseorang kepercayaan perusahaan.
" Hallo Pak." Sahut Marko diruangannya.
" Segera pesankan nasi gudeg, nasi goreng, sate, ayam bakar, lalapan dan bakso."
" Pelan-pelan Pak bicaranya, jangan seperti rel kereta api." Keluh Marko.
" Catat catat!"
" Iya ini juga Saya catat Pak."
" Nasi gudeg... "
" Iya."
" Nasi goreng..."
" Iya Pak, Nggak juga pelan banget gini Pak."
" Aiish. Bossnya siapa sih ini?"
" Iya Bapak lah. Masa Saya."
" Terus kenapa Kamu yang banyak kemauan yah."
" Tidak tahu juga Pak." Marko tertawa
Agung langsung tepuk jidat.
...***...